Liga Champions 2018--2019

Suporter Klub Terbaik Serbia Dilarang Datang ke Liverpool dan Paris

Kautsar Halim    •    08 September 2018 15:05 WIB
liga championsliverpool
Suporter Klub Terbaik Serbia Dilarang Datang ke Liverpool dan Paris
Fans Red Star Belgrade menyalakan flare dalam laga kontra FC Cologne. (AFP PHOTO / dpa / Federico Gambarini)

Nyon: Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) menjatuhkan sanksi tegas kepada klub Serbia, Crvena Zvezda (Red Star Belgrade). Mereka tidak mengizinkan para suporternya menghadiri laga tandang kontra Liverpool dan Paris Saint-Germain (PSG) di fase grup Liga Champions 2018--2019.

Sanksi UEFA berakar dari kerusuhan antar suporter yang terjadi pada laga playoff bulan lalu di Salzburg. Saat itu, suporter Belgrade melakukan sejumlah pelanggaran, termasuk menginvasi lapangan, menyalakan kembang api, dan memicu kerusuhan antar suporter.

Klik: Jelang Piala AFC, Indra Sjafri Izinkan Pemain Bela Klub

Selain dilarang tampil dalam dua laga tandang, UEFA juga menjatuhkan denda sebesar 30.000 euro (sekitar Rp517 juta). Kemudian, mereka juga wajib menghubungi pengelola stadion di Salzburg untuk membayar ganti rugi berbagai kerusakan dalam kurun waktu 30 hari. 

Untuk memastikan suporter Red Star tidak ada yang hadir dalam laga tandang kontra Liverpool dan PSG, UEFA sudah memberikan ultimatum kepada manajemen klub agar tidak menjual tiket pertandingan kepada para fannya. Jika tidak ditaati, bukan tidak mungkin sanksi yang dijatuhkan bakal lebih berat.

Klik: Turunan dari Ayah, Syamsir Alam Idolakan MU

Red Star tergabung dalam Grup C Liga Champions 2018--2019 bersama Liverpool, Napoli dan PSG. Laga tandang kontra PSG dijadwalkan pada Rabu 3 Oktober, sedangkan kontra Liverpool pada Kamis 25 Oktober. 

Red Star merupakan klub tersukses Serbia dan negara pecahan Yugoslavia lainnya. Prestasi mereka yang paling mentereng adalah menjuarai Piala Eropa dan Piala Dunia Antar Klub pada 1991. Musim ini merupakan kesempatan pertama Red Star tampil di Liga Champions setelah absen sejak musim 1991--1992. (Reuters)




(KAU)


Video /