Kisah Timnas Denmark yang Diperkuat Sales, YouTuber, sampai Sipir Penjara

Gregah Nurikhsani Estuning    •    07 September 2018 14:52 WIB
Timnas Denmark
Kisah Timnas Denmark yang Diperkuat Sales, YouTuber, sampai Sipir Penjara
Timnas Denmark. (Foto: Twitter.com/@AirtelUFootball)

Trnava: Timnas Denmark terpaksa diperkuat oleh pemain-pemain amatir ketika menghadapi Slovakia pada laga persahabatan, Kamis 6 September 2018. Permasalahan internal antara DBU (PSSI-nya Denmark) dengan pihak sponsorship menjadi penyebabnya.

Ketegangan bermula DBU melarang para pemainnya untuk menggunakan produk yang telah menjadi sponsor individu, apalagi yang secara marketing merupakan pesaing sponsor dari DBU itu sendiri.

Hal tersebut membuat para pemain inti, lewat dukungan asosiasi pemain sepak bola profesional Denmark, berang dan merasa kebijakan tersebut tidak bisa dibenarkan. Mereka lantas mogok main, dan ini membuat DBU tak punya pilihan lain.

DBU kemudian memanggil pemain-pemain dari divisi rendah dan sejumlah atlet futsal untuk mengisi slot yang kosong. Pasalnya, jika tidak segera menyetor nama ke federasi sepak bola Eropa terkait laga internasional, Denmark terancam dicoret dari UEFA Nations League, bahkan dari Piala Euro 2020.

Pada laga kontra Slovakia, anak asuh John Jensen 'beruntung' hanya kalah 0-3. Hasil itu cukup mengejutkan jika melihat starting line up The Danish Dynamite yang berisikan pemain-pemain amatir. Sebagian dari mereka bahkan menjadikan sepak bola sebagai pekerjaan sambilan.

Christian Offenberg misalnya, bekerja full-time sebagai seorang salesman. Ia menempati posisi penyerang. Offenberg diketahui bekerja paruh waktu sebagai striker andalan tim divisi tiga Denmark, Avarta.

Bek kanan Denmark pada malam itu yang mendapat pujian di lini masa media sosial berkat penampilan apiknya, Simon Vollesen, hanyalah seorang pelajar. Sama seperti Offenberg, Vollesen juga bermain sepak bola, namun berstatus amatir di divisi lima Liga Denmark.

Naik ke sektor gelandang, ada satu nama yang relatif terkenal sebagai YouTuber, Rasmus Johansson. Ia merupakan kreator konten freestyle football. Puluhan ribu subscribers mewarnai lini masa di akun Instagram dan YouTube-nya.

Sisa pemain Denmark lainnya juga berasal dari latar belakang yang unik. Ada yang bekerja sebagai sipir penjara, tukang reparasi kapal, tukang kayu, sampai pekerja galangan kapal. Beberapa lagi merupakan atlet futsal profesional timnas Denmark, yang secara ranking saja masih kalah dari Kepulauan Solomon dan Mozambique.

Bursa Taruhan Dibatalkan dan Harga Tiket yang Direduksi
Medcom.id kemudian iseng mencari tahu apakah ada rumah taruhan yang tetap menjadikan laga tersebut sebagai salah satu bursa taruhan. Berdasarkan keterangan dari bookmakers.tv, sejumlah betting house di Inggris membatalkan pertandingan ini.

Penyebabnya mudah ditebak; 99 persen penjudi menjagokan Slovakia. Padahal, awalnya Denmark lebih dijagokan (2/1), namun berubah menjadi 1/200. Menariknya, ada saja penjudi yang memasang taruhan Denmark menang 2-1. Ada pula yang memasang Slovakia dengan kemenangan 11-0.

Di sisi lain, khawatir stadion akan sepi penonton, SFZ (PSSI-nya Slovakia) menurunkan harga tiket dari sedianya 26 euro menjadi 1 euro saja. Menurut beberapa sumber, FIFA mungkin akan menghukum SFZ karena tidak diberi tahu perihal reduksi harga tiket ini.

Tidak Baca Pesan, Pione Sisto Tetap Berangkat
Sisto sepertinya bukan pribadi yang dekat dengan gawainya. Meski negaranya ramai dengan pemberitaan seputar timnas Denmark, ia tidak tahu ada polemik yang sedang terjadi.

Pemain Celta Vigo itu juga mengaku tidak membuka email dan pesan yang masuk ke telepon genggamnya. Padahal di dalamnya disebutkan bahwa skuat inti, termasuk Sisto, tidak masuk dalam susunan pemain Denmark kontra Slovakia.

Lucunya, ia tetap berangkat menggunakan pesawat ke checkpoint yang telah dibahas jauh hari sebelumnya pada rapat internal tim. Sisto bahkan telah sampai di Trnava, Slovakia, tempat berlangsungnya pertandingan tersebut menggunakan dananya sendiri lantaran tidak menemui pemain dan staf timnas di Denmark dan Austria (transit).

Sisto lantas kembali ke Kopenhagen, ibu kota Denmark, lalu langsung terbang lagi ke Spanyol tanpa tahu apa yang terjadi. Baru setelah sampai di Vigo (kota lokasi klub Celta Vigo), ia menyadari bahwa ada yang salah.

"Saya tahu ada banyak sekali pesan yang masuk ke telepon saya beberapa hari belakangan, ya karena saking banyaknya saya malas membacanya," kata Sisto kepada TV3 Sport.

"Salah satu dari pesan tersebut mungkin dari Asosiasi Pemain. Saya akan baca nanti walaupun sudah basi juga," ujarnya diselingi gelak tawa.

Kalah Statistik, Menang Simpati
Menghadapi Slovakia yang diisi oleh pemain-pemain kelas wahid macam Marek Hamsik, Martin Skrtel, Juraj Kucka, Milan Skriniar, sampai Vladimir Weiss, tidak heran mereka begitu mendominasi pertandingan.

Statistik menunjukkan Slovakia menguasai 73 persen penguasaan bola. Mereka juga berhasil melepaskan 22 tembakan, dengan 9 di antaranya mengarah ke gawang. Sebaliknya, Denmark cuma sanggup menciptakan enam kesempatan dan cuma satu yang on target.
 
Kendati begitu, dukungan dari dunia maya mengalir deras kepada Denmark. Sebagian besar mengutuk DBU karena dinilai rakus dan hanya mementingkan uang semata.

"Kalau saja saya ada di sana, saya akan mendukung timnas Denmark," tulis Zorya di akun Twitter-nya.

"Saya bersimpati kepada para pemain di lapangan. Lagi pula kenapa asosiasi sepak bola mengatur sponsorship individu pemain? Ini jelas akal-akalan mereka untuk mengeruk uang dari sponsor. Memangnya tidak cukup semangat juang para pemain di lapangan buat mereka dan negaranya?" ketus SeeDubya di kolom komentar pada laman BBC.

Video: Persija Takluk 1-2 dari Selangor FA di Laga Uji Coba
 


(ASM)


Video /