Kaleidoskop Timnas Indonesia 2018

Kaleidoskop 2018: Momen Manis dan Pahit Timnas Indonesia

Alfa Mandalika    •    27 Desember 2018 11:01 WIB
timnas u-19timnas u-23timnas indonesiatimnas u-16
Kaleidoskop 2018: Momen Manis dan Pahit Timnas Indonesia
Para pemain Timnas U-16 ketika menjadi juara Piala AFF di Sidoarjo (Foto: Antara/Zabur Karuru)

Timnas U-16 menorehkan tinta emas. Tim asuhan Fachri Husaini berhasil menjuarai Piala AFF 2018 U-16 dan nyaris ke Piala Dunia U-17. Sedangkan timnas senior, urung mengikuti jejak U-16 di Piala AFF.


Jakarta: Timnas U-16 langsung tancap gas sejak perhelatan AFF U-16 dimulai pada Juli 2018. Tergabung di Grup A, Indonesia menjadi satu-satunya tim yang menyapu bersih kemenangan.

Bahkan, Indonesia menjadi tim paling produktif pada fase grup dengan raihan 21 gol. Alhasil, Amiruddin Bagus Kahfi dkk mulus ke semifinal.

Kecemerlangan tersebut berlanjut saat mengalahkan Malaysia pada semifinal. Bagus menciptakan gol semata wayang lewat titik putih. Lalu, kiper Ernando Ari menjadi pahlawan kemenangan saat bertemu Thailand pada babak final. Dia menggagalkan tendangan Pongsakron Innet dan membuat Indonesia unggul 4-3. Indonesia U-16 merajai Asia Tenggara.

Tak lama usai AFF, timnas U-16 mengikuti Piala Asia U-16 pada September 2018 di Malaysia. Indonesia berada di grup C bersama dengan India, Vietnam, dan raksasa Asia, Iran.

Indonesia memulai turnamen dengan hasil oke usai mengalahkan Iran 0-2. Indonesia akhirnya lolos fase grup usai meraih dua poin tambahan saat menahan imbang Vietnam dan India.

Pada perempat final, Indonesia tinggal selangkah lagi ke Piala Dunia U-17 jika mampu lolos ke semifinal. Sayang, langkah Indonesia dihentikan oleh Australia. Indonesia kalah tipis 2-3.

Berpindah ke Timnas U-19, skuat arahan Indra Sjafri masih belum mampu menjadi juara. Witan Sulaeman dan kolega hanya finis di peringkat ketiga.

Indonesia sejatinya tampil konsisten pada penyisihan grup. Mereka menemani Thailand yang berada di puncak klasemen Grup A.

Namun, pada semifinal, Indonesia harus menyerah dari Malaysia usai kalah adu penalti. Pada perebutan posisi ketiga, Indonesia mengalahkan Thailand, 1-2.

"Dengan berakhirnya pertandingan tadi maka berakhir juga kerja kita untuk AFF dan ditutup dengan peringkat ketiga di turnamen ini, berarti sama persis dengan tahun lalu," ujar coach Indra usai laga melawan Thailand.

"Pertama, yang kami sampaikan mohon maaf kepada suporter dan masyarakat indonesia yang sudah begitu antusias dan punya ekspektasi tinggi terhadap timnas U-19. Kami berharap jangan patah semangat dan doakan selalu kami karena ada tugas yang lebih berat yaitu kita harus berupaya lolos ke Piala Dunia melalui Piala Asia di GBK," sambungnya.

Berlanjut ke Piala Asia U-19, Indonesia tampil di depan pendukungnya sendiri. Indonesia sempat harap-harap cemas pada fase grup. Namun akhirnya, mereka lolos menemani Qatar.

Pada babak perempat final, Indonesia tinggal selangkah lagi ke Piala Dunia U-20. Namun, langkah skuat Garuda Muda dihentikan Jepang 2-0.

Setelah pertandingan, Indra Sjafri mengungkapkan, level timnas tidak kalah dari negara Asia lainnya.


Timnas U-19. (Foto: Antara)

"Hasil dari pertandingan malam ini membuktikan sepak bola Indonesia tidak tertinggal dengan negara lain. Saya berterima kasih kepada pemain dan respek karena dengan kualitas ini mereka bisa bersaing di Asia," ujar Indra.

"Sepak bola tentu ada kalah dan ada menang. Tapi saya yakin bahwa level sepak bola Indonesia dengan Jepang atau negara lain masih cukup kompetitif," sambung mantan pelatih Bali United tersebut.

Berlanjut ke Timnas U-23 yang tampil di Asian Games 2018. Skuat polesan Luis Milla tampil impresif pada fase grup. Terbukti, mereka keluar sebagai juara grup.

Namun, ketika melaju ke babak 16 besar, Indonesia dikalahkan oleh Uni Emirat Arab. Indonesia kalah via adu penalti (3-4). 

"Pastinya saya sedih, kecewa, maaf saya juga sempat terbawa emosi melihat kerja anak-anak luar biasa tapi tereliminasi, rasanya tidak pantas. Sepak bola memang kejam, tapi yang terjadi ya sudah," ujar Milla

"Wasit memberikan dua penalti, penalti kedua harusnya tidak pernah terjadi. Tim lawan juga harusnya bermain dengan 10 pemain di 25 menit terakhir," sambung Milla.

"Menurut saya wasit tidak memiliki level, mungkin dia punya level, tapi dia tidak punya hati. Apakah dia tidak melihat para pemain sudah bekerja dengan sangat luar biasa? Buat saya wasit malam ini tidak pantas memimpin ajang multi event sebesar ini," pungkasnya.

Baca: Ronaldo Selamatkan 10 Pemain Juventus dari Kekalahan


Drama kontrak Milla dan Kegagalan Timnas Senior di AFF

Seusai Asian Games, isu masa depan Milla ramai dibicarakan. Sebab, Milla urung membawa timnas U-23 ke semifinal Asian Games.

Dukungan untuk Milla bertahan mulai berdatangan dari pemain. Evan Dimas dan Andritany Ardhiyasa ingin Milla terus melanjutkan kepelatihan. Mereka merasa Milla memberikan perubahan buat timnas.

"Saya sebagai pemain senior, saya ingin sekali Luis Milla dipertahankan. Saya merasakan ada perubahan signifikan dari coach," ujar Andritany.

"Ya, menurut saya Luis Milla pantas dipertahankan," tambah Evan.

Sementara itu, seusai kalah di Asian Games, Milla mengatakan bakal pamit ke Spanyol. Sebab, belum ada yang berbicara perpanjangan kontrak dengan dirinya.

"Diperpanjang atau tidak saya tidak tahu, saya mau analisis dulu. Sudah sebulan lebih saya bersama pemain. Sampai saat ini belum ada orang yang mendatangi saya menanyai kontrak," kata Milla.

"Saya mau pamit ke anak-anak karena ingin kembali ke Spanyol. Saya Masih marah karena tak layak tim saya kalah. Tapi saya senang dengan perjuangan pemain. Tak ada yang lebih membanggakan," sambungnya.


Luis Milla. (Foto: Antara)

Imbas dari pamitnya Milla, muncul desakan agar PSSI mempertahankan Milla.

Tak lama berselang, akhirnya PSSI mengambil keputusan tetap mempertahankan Milla. Hal itu diutarakan oleh Ketum PSSI, Edy Rahmayadi.

"Target tetap menjadi juara AFF 2018. Luis Milla sudah berada di Indonesia selama setahun delapan bulan dan dia sudah tahu kekuatan Indonesia. Artinya program tinggal berjalan dan diterapkan dengan baik. Nanti akan ada penjadwalan itu semua," tutur Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi. 

Akan tetapi, pernyataan Edy tampaknya tidak direspons positif. Kabar soal tunggakan gaji Milla juga ramai dibicarakan.

Dua pekan berselang, Sekretaris Jendral PSSI, Ratu Tisha mengaku pihaknya belum mendapatkan balasan dari agen Milla.

"Sampai saat ini belum ada balasan (dari agen Luis Milla). Jadi, saya mohon publik untuk bersabar. Jika ada perkembangan pasti sesegera mungkin dikabarkan. Tidak ada yang disembunyikan dari kami, kami transparan untuk segala hal," kata Tisha di Hotel Novotel, Jakarta, Jumat 14 September 2018 silam.

Hal tersebut membuat Bima Sakti harus turun tangan menjadi 'Pelaksana Tugas' pelatih kepala Timnas Indonesia senior. Ia bertugas mengawal timnas menghadapi laga uji coba dalam persiapan jelang Piala AFF 2018. 

Bima berkesempatan menjadi juru taktik timnas senior dalam tiga laga. Ia membawa Indonesia menang 1-0 kontra Mauritius, 3-0 kontra Myanmar, dan 1-1 kontra Hong Kong.

Seiring tidak adanya bukti konkret terkait kepastian masa depan Luis Milla, PSSI resmi menunjuk Bima sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia pada Minggu 21 Oktober kemarin. Bima langsung dihadapkan dengan tugas berat, yaitu Piala AFF 2018.

Pada hari yang sama, Milla menuliskan salam perpisahan di media sosialnya yang mengindikasikan bahwa dirinya tak lagi melatih Timnas Indonesia. Selain berterima kasih, ia juga menyindir profesionalitas para petinggi PSSI.
 
"Hari ini bukan hari yang mudah bagi saya, karena saya tidak akan melanjutkan melatih di Indonesia. Proyek selama satu setengah tahun telah selesai, meskipun manajemen sangat buruk, pelanggaran kontrak, dan para pemimpin yang kurang profesional selama 10 bulan terakhir, saya merasa telah melakukan pekerjaan dengan baik," kata Milla dikutip dari tautan media sosialnya.

Bima Sakti melakukan persiapan Piala AFF dengan waktu yang mepet. Alhasil, dia memanfaatkan komposisi pemain yang ada usai Asian Games dan melakukan beberapa penambahan pemain.

Namun, upaya Bima tidak maksimal. Indonesia bisa dibilang tidak mengeluarkan permainan terbaiknya. Dalam empat pertandingan di Grup B, Indonesia hanya menang sekali, sekali imbang, dan dua kali kalah.

Timnas finis di urutan keempat dengan raihan empat poin. Sedangkan Thailand dan Filipina keluar sebagai juara grup dan runner up.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Evan Dimas Resmi Gabung ke Barito Putera


(ASM)


Lawan Uji Coba Timnas U-22 Tidak Harus Klub Besar
Persiapan Piala AFF U-22

Lawan Uji Coba Timnas U-22 Tidak Harus Klub Besar

1 day Ago

Indra Sjafri membantah bahwa Timnas U-22 akan beruji coba melawan Persija Jakarta dan Persebaya…

BERITA LAINNYA
Video /