Klub Israel Ubah Nama Jadi Beitar Trump Jerusalem

Gregah Nurikhsani Estuning    •    15 Mei 2018 18:17 WIB
soccertainment
Klub Israel Ubah Nama Jadi Beitar Trump Jerusalem
Beitar Trump Jerusalem. (Foto: Twitter/fcbeitar)

Yerusalem: Klub asal Israel, Beitar Jerusalem, mengubah nama menjadi Beitar Trump Jerussalem. Ini dilakukan sebagai bentuk kecintaan dan rasa terima kasih mereka kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Klub yang dibentuk 82 tahun lalu itu mengapresiasi 'kinerja' Trump dan stafnya memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv menuju Yerusalem. Hal itu ditandai dengan pemindahan kantor Kedutaan Besar mereka.

Manajemen klub Beitar kemudian memutuskan untuk menyematkan Trump di tengah-tengah nama resmi. Meski demikian, belum diketahui apakah peraih enam kali Liga Israel itu bakal tetap menggunakan nama tersebut atau tidak.

Dalam keterangan resminya, disebutkan jika Beitar Trump Jerusalem akan digunakan "mulai hari ini". Eli Tabib sebagai pemiliki klub juga sudah merestui penyematan nama tersebut.

"Selama 70 tahun, Yerusalem menunggu persetujuan secara internasional, sampai akhirnya Presiden Donald Trump, dengan caranya yang berani, mengesahkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel," tulis pernyataan Beitar dalam laman Facebook resmi klub dan Twitter.

"Presiden Trump menunjukkan keberanian dan cinta sejati buat orang-orang Israel. Pemimpin-pemimpin dari negara lain mengikuti langkahnya memberikan status ibu kota kepada Yerusalem. Kami memutuskan untuk menyematkan nama sang Presiden Amerika Serikat yang telah menciptakan sejarah, dan mulai hari ini klub ini akan menjadi Beitar Trump Jerusalem," sambungnya.

Beitar Jerusalem dianggap sebagai 'klub paling rasis' di dunia. Kelompok suporter garis keras mereka yang dikenal dengan nama La Familia berideologi sayap kanan yang ultra nasionalis.

La Familia memiliki anthem khusus yang menyatakan kalau mereka bangga dengan julukan klub paling rasis di dunia. Saking rasisnya, protes besar-besaran pernah mereka lakukan tahun 2012--2013 lalu kala manajemen klub merekrut dua pemain beragama Muslim dari Chechnya.


Direkrutnya dua pemain tersebut dinilai melanggar prinsip Beitar Jerusalem yang anti Arab dan anti Muslim. Menteri Luar Negeri Israel yang rutin menyaksikan laga Beitar sempat diteror karena membiarkan pihak klub mererkut pemain Muslim.

Sebagai 'klub kebanggaan orang Yahudi Israel', Beitar Jerusalem memang menjadi favorit para petinggi negara. Benyamin Netanyahu bahkan terang-terangan menganggap klub dengan warna kebesaran kuning-hitam itu sebagai klub pergerakan nasional.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Salam Perpisahan Wenger untuk Arsenal
 


(FIR)


Video /