Jelang Piala Dunia 2018

Menengok Euforia Piala Dunia di Suriah

A. Firdaus    •    13 Juni 2018 11:13 WIB
piala dunia 2018
Menengok Euforia Piala Dunia di Suriah
Salah satu pedagang menjajakan bendera peserta Piala Dunia 2018 (Foto: AFP/ LOUAI BESHARA)

Damaskus: Piala Dunia menjadi hiburan menarik yang tak boleh terlewatkan oleh para pencinta sepak bola. Tak terkecuali di Suriah, yang belakangan dikenal sebagai negara konflik akibat perang internal.

Bukti nyata terhampar di pasar sekitaran kota besar, seperti Damaskus. Para warga Suriah yang mulai bangkit dari trauma, mulai berbenah dan menyambut Piala Dunia 2018 dengan antusias.

Beberapa bendera negara favorit, seperti Argentina, Jerman, dan Brasil terpampang jelas. Warna ketiga bendera negara itu tergantung pada tali rangkaian di jalan-jalan sekitaran pasar Al-Qaymariyah, Kota Tua Damaskus.

Klik di sini: Lopetegui Latih Madrid, Fans MU Memohon kepada Istri De Gea

Di antara ketiga bendera tersebut, ternyata ada satu bendera tambahan yang menyita perhatian. Yaitu bendera Rusia yang dipasang di sebuah tiang. Pemandangan yang cukup aneh.

Tapi apa yang dilakukan warga Suriah bukan tanpa alasan. Tuan rumah Piala Dunia 2018 itu punya peran penting dalam memberikan ketenangan rakyat Suriah yang bertahan di negaranya.

"Sebelum masalah perang di Suriah, tidak ada yang akan mendukung tim Rusia. Mereka adalah negara biasa, bukan yang sangat kuat," kata Ahmad al-Mudramani, penggemar sepak bola fanatik yang juga pedagang toko elektronik di Al-Qaymariyah.

"Tetapi setelah mereka melakukan intervensi di Suriah, mereka punya fan di sini," katanya.


Meski bukan tim favorit, bendera Rusia juga menjadi buruan warga Suriah (Foto: AFP)

Konflik Suriah meletus pada 2011, setahun setelah Piala Dunia 2010 berlangsung di Afrika Selatan. Pada turnamen berikutnya, pada 2014, Suriah kian membara karena adanya perang sipil.

Nyaris, tak ada aktivitas nonton bareng atau sekadar menyaksikan dari layar kaca di rumah mereka sendiri. Sehingga tak ada dalam pikiran mereka untuk ikut meramaikan Piala Dunia yang saat itu berlangsung di Brasil.

"Pada 2014, perang berada pada puncaknya di Damaskus dan orang-orang disibukkan untuk menjaga diri mereka dari kekacauan karena perang," lanjut Mudramani.

- Medan perang ke lapangan sepak bola
Seiring kian kondusifnya situasi di Suriah, para pencinta sepak bola di negara itu mulai menyibukkan diri mereka untuk membahas tentang Piala Dunia. Meski berstatus obrolan ringan, tapi paling tidak itu bisa meninggalkan rasa trauma mereka karena perang.

Seperti yang dilakukan Mudramani. Selain membuka toko, ia juga mengelola sebuah forum di facebook tentang sepak bola. Di forum itu ada 70 ribu anggota dengan pembahasan olahraga menjelang Piala Dunia 2018 yang akan kick off Kamis 14 Juni mendatang.

Sebagian besar, kata Mudramani, banyak anggota di forum itu mendukung Brasil dan Argentina. Tetapi nama Rusia terus bermunculan dalam komentar dan jajak pendapat.

Hadirnya Rusia menjadi negara favorit di Suriah tak lepas dari intervensi mereka terhadap perang internal. Rusia juga mengirim pesawat tempur dan militer untuk menyokong tentara Presiden Bashar al-Assad yang sedang berjuang mempertahankan negara dari para pemberontak.

Sejak itu, pasukan Suriah telah merebut kembali lebih dari setengah negara mereka yang hilang, dan upaya Rusia untuk menjaga Suriah tetap utuh ternyata terbayarkan dengan hadirnya para penggemar baru mereka pada Piala Dunia nanti.

"Orang-orang merasa nyaman hari ini, mereka dapat menonton Piala Dunia dengan penuh semangat untuk mengalihkan rasa takut," kata Mudramani.
 
Lain lagi cerita Hamoud Khamees yang merupakan penjual pernak-pernik Piala Dunia. Di tokonya, terbentang bendera dua bintang Suriah di antara 32 peserta Piala Dunia.

Meski banyak yang membeli bendera Brasil, Jerman, dan Argentina, tak sedikit pula yang meminati bendera Rusia.

"Saya menyediakan banyak bendera Brasil, Jerman, dan Argentina, dan saya menaruh bendera Rusia di jendela toko. Beberapa orang membeli bendera Rusia untuk membuat pernyataan politik melalui olahraga," kata Khamees.

"Kami biasa menjual bendera Rusia sejak malam sebelum pertemuan Dewan Keamanan PBB, atau selama perkembangan politik besar," kenang Khamees.

Tak jauh dari Toko Khamees, musik keras berdengung kencang dari etalase toko di pasar Suwayqa, yang dikenal dengan produk elektroniknya.

Klik di sini: Usai Tangani Madrid, Zidane Lebih Memilih Istirahat

Mahmud Abu Malek, 50 tahun, tengah merapikan kotak-kotak yang ia sebut decoder, yang berfungsi menangkap saluran TV Satelit untuk melihat tayangan Piala Dunia tanpa harus berlangganan.

Malek baru saja menerima pengiriman baru, tetapi dia juga menelepon kepada pemasok untuk memesan lebih banyak lagi alat tersebut. "Ada permintaan lebih besar tahun ini untuk mengikuti Piala Dunia," tutur Malek.

Sepak bola telah populer di Suriah. Tetapi negara yang telah ditinggalkan 5,5 juta penduduknya mengungsi ke luar negeri, tidak pernah lolos ke Piala Dunia.

Salah satu momen untuk melihat Suriah tampil di Piala Dunia adalah pada tahun ini. Mereka nyaris lolos ke putaran final di Rusia andai tak disingkirkan oleh Australia pada kualifikasi putaran keempat zona Asia.

Sempat bermain imbang 1-1 Socceroos di Hang Jebat Stadium, Malaysia. Suriah akhirnya harus mengubur mimpi tampil di Piala Dunia setelah pada pertemuan kedua mereka takluk 1-2 oleh Australia pada leg kedua.

Ini Dia Informasi Stadion dan Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2018



(ACF)


Adam Lallana tak Dendam kepada Southgate
Timnas Inggris

Adam Lallana tak Dendam kepada Southgate

2 weeks Ago

Adam Lallana merasa Gareth Southgate sudah melakukan keputusan tepat dengan tidak memanggilnya …

BERITA LAINNYA
Video /