Setahun Jabat Ketum PSSI, Pusingnya seperti 10 Tahun

Kautsar Halim    •    07 Desember 2017 01:14 WIB
pssitimnas indonesia
Setahun Jabat Ketum PSSI, Pusingnya seperti 10 Tahun
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi mengikuti rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/4). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Jakarta: Edy Rahmayadi mengakui bahwa tugas sebagai Ketua Umum PSSI bukan pekerjaan mudah. Meski baru satu tahun menjabat, ia merasa sudah sangat lama memangku jabatan tersebut. 

Edy resmi dilantik sebagai ketum PSSI pada 10 November tahun lalu. Dalam pidato pertamanya, ia mengusung setidaknya tiga target dalam upanya membangkitkan kembali sepak bola Indonesia. Mulai dari meraih emas SEA Games 2017, hingga menembus empat besar Asian Games 2018.

Dari sejumlah target yang diusung, sejauh ini yang baru terealisasi adalah meloloskan timnas U-16 ke putaran final Piala Asia 2017. 

Sementara itu, timnas U-22 yang ditargetkan menjadi juara SEA Games 2017 hanya mampu memberikan perunggu. Sedangkan, timnas U-19 yang dituntut juara di Piala AFF U-19, hanya mentok di babak semifinal usai ditaklukkan Thailand.


Klik: Jawaban Ketum PSSI atas Buruknya Stadion Harapan Bangsa


Tidak hanya gagal membangun prestasi timnas Indonesia, PSSI juga dianggap belum berhasil untuk memajukan sarana dan prasarana sepak bola di Tanah Air. Itu bisa diketahui dengan buruknya kualitas stadion Harapan Bangsa di Banda Aceh yang menjadi tuan rumah 
Aceh World Solidarity Tsunami Cup (AWSTC) 2017.

Edy tidak membantah ketika diingatkan tentang berbagai catatan miring tersebut. Kendati demikian, bukan berati mantan Pangkostrad itu menyerah dalam mengemban tugas sebagai Ketum PSSI.

"Kami memang masih minus banyak. Lapangan sedikit, tapi pemainnya banyak
. Baru satu tahun jadi Ketum PSSI, pusingnya sudah seperti 10 tahun," kata Edy sambil melempar senyum di Makostrad, Gambir, Jakarta, Rabu (6/12/2017).


Klik: Laga Indonesia Selection Kontra Islandia Bukan di SUGBK


Kendati belum bisa memberikan prestasi untuk timnas, Edy bisa dibilang berhasil untuk menyatukan kembali PSSI yang terus dilanda konflik internal dalam beberapa tahun terakhir.

Tuntasnya penyelenggaraan Liga 1 dan 2 2017 --meski ada beberapa catatan-- adalah salah satu buktinya. Sebab, sebelumnya kompetisi Indonesia tidak bisa berjalan dengan baik, mulai dari terkendala sanksi FIFA hingga tidak diakuinya kompetisi Indonesian Soccer Champions (ISC) oleh AFC.

Selain itu, PSSI di bawah pembinaan Edy juga terlihat cukup perhatian menyoal regenerasi pemain. Salah satunya dengan menerapkan aturan wajib memainkan pemain U-23 di Liga 1 Indonesia 2017. Meski hanya diterapkan selama satu putaran, regulasi itu tetap dipatuhi tiap klub peserta dengan baik.

Penyelenggaraan kompetisi Liga 1 U-19 juga bisa jadi salah satu terobosan yang dilakukan Edy dalam upanya menciptakan bibit-bibit muda Indonesia. 




(ACF)

Pique Berharap Jumpa City di Liga Champions
Liga Champions 2017--2018

Pique Berharap Jumpa City di Liga Champions

12 hours Ago

Bek Barcelona Gerard Pique berharap timnya bisa bertemu Manchester City di Liga Champions musim…

BERITA LAINNYA
Video /