Ricuh Suporter Indonesia

Kasus Suporter Tewas Menanti Ketegasan PSSI

Krisna Octavianus    •    13 Oktober 2017 18:46 WIB
liga 2 indonesia 2017
Kasus Suporter Tewas Menanti Ketegasan PSSI
Sejumlah anggota tim medis berusaha menghindari lemparan saat terjadi kerusuhan antar suporter pada pertandingan PSM Makassar melawan Mitra Kukar pada leg ke-2 Perempat Final Piala Presiden 2015 di Stadion Mattoanging Gelora Andi Mattalatta Makassar. (ANT

Metrotvnews.com, Jakarta: Pegiat sepak bola dari organisasi Save Our Soccer (SOS), Akmal Maharli, mengimbau seluruh pihak yang terkait mesti tegas dalam mengusut kasus suporter tewas di Tanah Air. Dia berharap masalah kekerasan suporter bukan hanya dibicarakan saja, tapi ada tindak lanjut yang perlu dipikirkan secara serius.

Sebelumnya, pendukung Persita Tangerang yang bernama Banu Rusman meninggal dunia karena terlibat bentrok dengan para suporter PSMS Medan. Itu terjadi usai Persita dikalahkan PSMS Medan 0-1 di Stadion Mini Persikabo, Cibinong, Bogor, Rabu 11 Oktober.

Banu sempat mendapat perawatan di rumah sakit setelah dianiaya para oknum suporter PSMS yang diduga anggota TNI. Namun, nyawanya tetap tidak tertolong karena lukanya terlalu parah.


Klik: Bek Milan Waspadai Perisic


Belum hilang ingatan akan kasus kematian Ricko Andrean yang dikeroyok oleh sesama pendukung Persib Bandung, sudah muncul lagi kasus kematian Banu Rusman. Ketegasan tentu diperlukan untuk menyelesaikan kasus ini agar tak terulang lagi.

"Hampir lima korban meninggal sepanjang 2017 ini dan tidak ada yang benar-benar diusut tuntas mengenai siapa sesungguhnya pelakunya. Semuanya hanya sekedar ucapan belasungkawa saja. Ramai satu bulan kemudian hilang, ramai lagi lalu hilang, ya seperti jamur di musim hujan saja," kata Akmal ketika dihubungi wartawan, Jumat (13/10/2017). 

"Harusnya, kontribusi pemerintah tidak hanya ucapan prihatin saja. Tetapi mereka juga harus mencari cara agar bisa meminimalisir kejadian ini tidak terulang lagi," sambungnya.


Klik: Manajemen Persita Sudah Ajukan Laporan Terkait Kerusuhan Suporter


Akmal menjelaskan, benturan antar sesama suporter tentu memiliki akar persoalan. Kadang, bukan karena efek pertandingan dari kedua kesebelasan, tetapi ada hal lain juga yang membuat kedua kawanan suporter bergesekan. 

Oleh karena itu, Akmal mengimbau Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk makin peka dan bertindak lebih tegas. Pasalnya, PSSI bisa lebih leluasa bergerak mengelola kelompok suporter lewat Komite Integritas.

"Kompetisi sudah memasuki laga-laga krusial. Secara kasat mata kita sudah bisa melihat segala sesuatu bisa saja terjadi. Wasit yang berpihak kepada salah satu klub misalnya, itu kan menguras emosi penonton yang mengakibatkan bentrok di lapangan," kata Akmal.

"Nah, di sisi ini PSSI harusnya melalui Komite Integrasi ini melihat, siapa yang bersalah maka itu yang dihukum. Selama ini wasit dijotos malah klub yang kena. Tapi untuk kasus PSMS lawan Persita ini bagaimana?" tambahnya. 

Bentrokan suporter PSMS dan Persita ditengarai melibatkan oknum pihak keamanan, yakni TNI. Menurut Akmal, PSSI harus mengambil sikap tegas dengan melarang pihak TNI untuk mengikuti kompetisi.

"Sekarang kami ingin lihat bagaimana PSSI bertindak dan bereaksi. Sebab, kasus ini kan juga melibatkan pihak kemanan. Selama ini jika klub melakukan pelanggaran ujung-ujungnya denda. Dendanya juga tidak sedikit karena berkisar dari Rp50 juta hingga Rp100 juta," kata Akmal menjelaskan

"Seharusnya, PSSI yang punya Komite Integritas juga bekerja untuk mengusut tuntas sampai ke akar. Bahkan jika perlu, pakai tim pencari fakta untuk mengusut pihak yang membuat kerusuhan dan jangan tebang pilih," tambahnya menutup.

 


(KAU)

Pique Berharap Jumpa City di Liga Champions
Liga Champions 2017--2018

Pique Berharap Jumpa City di Liga Champions

49 minutes Ago

Bek Barcelona Gerard Pique berharap timnya bisa bertemu Manchester City di Liga Champions musim…

BERITA LAINNYA
Video /