Kaleidoskop Sepak Bola 2017

Kilas Balik Sepak Bola Nasional 2017

Achmad Firdaus    •    31 Desember 2017 08:22 WIB
pssiliga 1 indonesiakaleidoskop 2017
Kilas Balik Sepak Bola Nasional 2017
Momen saat tim medis berupaya melarikan Choirul Huda menuju ambulans (Foto: ANTARA/Rahbani Syahputra)

Jakarta: Setelah hampir dua tahun tidak diakui FIFA, Indonesia akhirnya bisa menata kembali sepak bola nasional pada tahun 2017. Kompetisi Liga 1 Indonesia 2017 pun bisa berjalan hingga tuntas, meski tentunya masih ada banyak catatan 'merah' yang terjadi sepanjang bergulirnya kompetisi sepak bola Indonesia sepanjang 2017.

Setelah sanksi FIFA dan pembekuan pemerintah resmi dicabut pada akhir tahun 2016, PSSI di bawah pimpinan ketua umum yang baru, Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi, akhirnya menggulirkan kompetisi resmi yang diakui FIFA pada April setelah didahului dengan turnamen Piala Presiden 2017 pada Februari hingga Maret.

Sebanyak 18 klub bertarung untuk memperebutkan status tim terbaik di Indonesia, sekaligus mewakili Indonesia di pentas Asia. Tak hanya Liga 1, PSSI lewat PT Liga Indonesia Baru selaku operator kompetisi juga menggulirkan kompetisi Liga 2, Liga Nusantara dan Liga 1 U-19.

Sejumlah terobosan-terobosan baru coba diaplikasikan demi mendongkrak kembali kualitas sepak bola Indonesia. Salah satunya adalah dengan kebijakan "Marquee Player" di mana klub-klub Liga 1 diperbolehkan merekrut pemain asing berlabel bintang. Kriteria yang jadi syarat adalah; si pemain pernah tampil di Piala Dunia atau pernah bermain di kompetisi Eropa.

Beberapa pemain top pun akhirnya ikut meramaikan persaingan di Liga 1. Persib Bandung sukses memboyong mantan penggawa Chelsea, Real Madrid dan AC Milan, Michael Essien. Selain itu, ada juga nama besar lain seperti eks penyerang West Bromwich Albion Peter Odemwingie (Madura United) dan mantan gelandang Liverpool Mohammed Sissoko yang merumput bersama Mitra Kukar.

Secara kontribusi, para pemain top dunia ini tidak terlalu memegang peranan penting buat klub masing-masing. Maklum, mereka rata-rata telah melewati masa keemasannya. Meski begitu, kompetisi Liga 1 tetap berjalan dengan menarik, bahkan cenderung ketat hingga akhir musim.

Bali United dan Bhayangkara FC menjadi aktor utama di balik ketatnya persaingan Liga 1 Indonesia 2017. Kedua tim memiliki kans yang sama untuk juara, ketika Liga 1 hanya menyisakan tiga pertandingan. Tapi, Bhayangkara mendapat "durian runtuh" ketika hasil imbang yang mereka dapat saat bertandang ke markas Mitra Kukar di pekan ke-32 berubah menjadi kemenangan WO.

Komisi disiplin PSSI memberikan kemenangan WO kepada Bhayangkara karena Mitra Kukar melakukan pelanggaran dengan menurunkan pemain ilegal, dalam hal ini Mohamed Sissoko yang seharusnya masih harus menjalani sanksi larangan bermain.

Kubu Bali United pun dibuat kecewa berat lantaran keputusan tersebut menipiskan peluang mereka untuk juara. Benar saja, meski sukses menyapu bersih dua laga terakhir dengan kemenangan, Bali United yang memiliki poin sama dengan Bhayangkara di akhir musim (68 poin), harus rela jadi runner-up. Padahal, jika Bhayangkara tidak mendapatkan kemenangan WO, Bali United berhak jadi juara karena unggul dua poin dari Bhayangkara.


Meski kecewa gagal juara, kubu Bali United masih bisa tersenyum lantaran mereka berhak mengambil jatah Bhayangkara untuk tampil di kompetisi Asia (play-off Liga Champions) musim depan, karena Bhayangkara tidak mendapatkan lisensi dari AFC. Selain Bali United, Persija Jakarta yang menempati posisi empat juga akan tampil di Piala AFC, karena PSM yang menduduki posisi tiga juga tidak mendapatkan lisensi dari Otororitas Sepak Bola Asia tersebut.

Di kompetisi Liga 2, klub legendaris Persebaya Surabaya keluar sebagai juara usai mengalahkan PSMS Medan di partai final. Selanjutnya, Persebaya ditemani PSMS Medan dan PSIS Semarang berhak untuk promosi ke Liga 1 musim 2018. 

Catatan Merah Kompetisi Indonesia
Di luar keberhasilan Bhayangkara FC dan Persebaya Surabaya tampil sebagai juara, kompetisi Indonesia tahun 2017 ini menyisakan banyak catatan merah yang harus jadi pelajaran. Insiden keributan antar pemain, suporter, hingga tindak kekerasan kepada perangkat pertandingan masih menjadi pemandangan yang lazim terjadi hampir di setiap pertandingan. Bahkan, tak jarang menimbulkan korban luka hingga korban jiwa. 


Klub-klub peserta pun sepertinya harus bisa lebih dewasa, terutama ketika menerima keputusan wasit. Salah satu insiden yang cukup menyita perhatian dan disayangkan banyak orang adalah pertandingan klasik antara Persija kontra Persib Bandung di Stadion Manahan Solo, November silam.

Saat itu, Persib yang merasa dirugikan dengan berbagai keputusan wasit, memutuskan untuk tidak melanjutkan pertandingan atau walk over. Akibat keputusan ini, Persib terancam mendapat sanksi degradasi karena menurut buku panduan liga, aksi WO mereka itu bisa dianggap mundur dari kompetisi. Namun, dengan berbagai pertimbangan, komdis PSSI akhirnya hanya menjatuhkan sanksi denda.

Duka Sepak Bola Indonesia
Kasus meninggalnya kiper Persela Lamongan Choirul Huda menjadi salah satu kejadian paling menyesakkan yang terbingkai dalam potret perjalanan kompetisi sepak bola paling bergengsi di Indonesia tahun 2017.


Huda mengalami benturan hebat dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues saat mengadapi Semen Padang, 15 Oktober. Ia terkapar di lapangan dan kemudian meninggal dunia di rumah sakit Soegiri, Lamongan. Insiden Huda disayangkan banyak kalangan, terutama praktisi kedokteran/kesehatan yang menilai, tim medis yang ada di lapangan tidak dibekali pengetahuan yang cukup dalam memberikan pertolongan pertama.

Di luar negeri, insiden seperti yang dialami Huda sempat dialami sejumlah pemain, salah satunya Fernando Torres. Beruntung, nyawanya berhasil diselamatkan karena pemain dan tim medis tahu bagaimana cara memberikan pertolongan pertama.

Sebelum insiden meninggalnya Huda, awan duka sempat menggelayuti sepak bola Indonesia pada 10 Januari 2017. Kiper Arema FC, Achmad Kurniawan meninggal dunia setelah mendapat perawatan intensif di rumah sakit selama kurang lebih dua pekan. Pria yang disapa AK itu didiagnosa mengalami komplikasi pada jantung dan lambung.

Di luar lapangan, kabar meninggalnya suporter pun ikut mewarnai kompetisi tahun ini. Ricko Andrean menjadi salah satu suporter yang harus meregang nyawa akibat "fanatisme buta" oknum suporter Indonesia. Ricko meninggal dunia usai dikeroyok oknum suporter Persib Bandung saat menyaksikan laga melawan Persija Jakarta di Bandung. Ricko dituding pendukung Persija. Padahal, faktanya ia adalah suporter Persib dan berdomisili di Bandung.

Kebijakan Aneh PSSI

Selain beberapa peristiwa di atas, hal menarik lain yang pantas diingat dari kompetisi Liga Indonesia tahun 2017 adalah kebijakan-kebijakan aneh yang dikeluarkan oleh PSSI.

Pertama soal Marquee Player. Untuk kebijakan ini, PSSI dan PT LIB memang punya tujuan bagus, yakni meningkatkan gengsi dan kualitas kompetisi. Sayangnya, ini tidak dibarengi dengan perencanaan yang matang, terutama soal izin tinggal sang pemain. Walhasil, para pemain seperti Essien, Charlton Cole, dan Odemwingie nyaris di bui karena belum memiliki KITAS (Kartu Izin Tinggal/Terbatas).

Kedua terkait regulasi U-23. Dengan semangat menggalakkan regenerasi, PSSI mewajibkan seluruh kontestan Liga 1 untuk memainkan setidaknya tiga pemain U-23 selama 45 menit dalam satu pertandingan. Untuk mengakomodir kebijakan ini, PSSI juga mengubah regulasi pergantian pemain yang tadinya maksimal tiga jadi lima pemain dalam satu laga.

Kebijakan untuk memainkan U-23 memang cukup bagus. Sayangnya, PSSI tidak konsisten menerapkannya. Beberapa saat setelah para penggawa Timnas Indonesia U-23 tampil di SEA Games 2017, PSSI menghapus kebijakan tersebut. Tidak ada lagi kewajiban bagi klub memainkan pemain mudanya. Pergantian pemain pun kembali menjadi tiga.

Kebijakan PSSI soal penggunaan wasit asing juga sedikit agak aneh. Pertama, kebijakan ini baru diberlakukan pada paruh kedua kompetisi atau setelah PSSI banyak menerima keluhan dari klub terkait kepemimpinan wasit lokal. Namun pada faktanya, wasit-wasit asing itu juga manusia yang tidak luput dari khilaf.

Sepanjang paruh kedua musim, tak sedikit wasit asing yang melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan. Imbasnya, ada beberapa dari mereka yang mendapatkan perlakuan kasar dari pemain dan juga ofisial klub.

Terakhir, kebijakan PSSI yang membuat gempar adalah larangan para pemain Indonesia bermain di kompetisi luar negeri. Ketum PSSI, Edy Rahmayadi menjadi orang yang bersuara lantang soal larangan tersebut. Ia melarang tiga penggawa Timnas Indonesia; Evan Dimas Darmono & Ilham Udin Armaiyn (Selangor FA) dan Ryuji Utomo (PTT Rayong) melanjutkan karier di Malaysia dan Thailand.

Edy berpendapat, kompetisi dua negara tetangga tersebut tidak lebih baik dari Indonesia. Ia juga takut para pemain yang berkarier di Indonesia tidak bisa mengikuti program latihan atau pelatnas yang telah disusun PSSI untuk mempersiapkan diri menghadapi Asian Games 2018 dan Olimpiade 2020.
 

"Saya coret dari PSSI. Kalau ada panggilan timnas, dia harus mau, kalau menolak, berarti dia pengkhianat," tegas pria yang saat ini maju dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara itu.


Buntut dari kebijakan itu, Selangor FA selaku klub yang sudah mengontrak Evan Dimas dan Ilham Udin berencana mengadukan masalah ini ke ororitas sepak bola dunia, FIFA. Bagaimana akhir dari cerita ini? Kita lihat saja tahun depan..

Video: Kaleidoskop Sport 2017: Catatan Kompetisi Liga 1 2017
 


(ACF)


Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid
Lionel Messi

Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid

1 week Ago

Kapten timnas Argentina itu tak memedulikan berapa pun hasil yang diraih Madrid dalam menghadap…

BERITA LAINNYA
Video /