Kisah Maulwi Saelan, Si Benteng Beton Timnas Indonesia

Kautsar Halim    •    10 Oktober 2016 23:43 WIB
sepak bola
Kisah Maulwi Saelan, Si Benteng Beton Timnas Indonesia
Maulwi Saelan sebagai kapten timnas Indonesia. (foto: istimewa)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia kehilangan tokoh nasional yang juga kiper legendaris timnas Indonesia, Maulwi Saelan. Ia mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) dan disemayamkan di kediamannya yang berada di Kawasan Bendungan Hilir (Benhill), Jakarta Pusat, Senin 10 Oktober pukul 18.30 petang WIB.

Sebelum berjasa dengan menjadi ajudan pribadi Presiden Soekarno, Maulwi sudah berkontribusi lebih lebih dulu di kancah sepak bola nasional. Maklum, cita-cita putra Amin Saelan tersebut memang menjadi pesepakbola terbaik di dunia.

Dengan segenap usahanya yang luar biasa, cita-cita itu akhirnya terwujud pada 17 November 1956 lewat Olimpiade Melbourne, Australia. Saat itu, Maulwi bertugas sebagai kiper dan tampil bersama pesepakbola legendaris nasional lainnya seperti, Ramang, Djamiat, Him Tjiang, Liong Houw, Kiat Sek, dan Ramlan.

Meski hanya sampai fase delapan besar, penampilan skuat Garuda tetap tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, Maulwi dan rekan berhasil menahan imbang Uni Soviet dengan skor tanpa gol. Sayang, di era tersebut belum  berlaku sistem adu penalti, dan Indonesia pun akhirnya remuk pada laga ulang dengan skor, 0-4.

Selain bisa tampil di level dunia, Maulwi dan rekan juga ditakuti di benua Asia. Itu terbukti ketika mereka menembus empat besar Asian Games 1954 dan merebut perunggu di Asian Games 1958. Namun, catatan karier Maulwi sebagai atlet harus berakhir di sini karena kondisi politik Indonesia yang semakin memanas.

Terlepas dari dunia sepak bola, Maulwi yang dijuluki Benteng Beton merupakan tokoh revolusioner yang cukup ternama. Ia pernah bertempur di sejumlah wilayah Indonesia untuk menghabisi pasukan khusus NICA yang dipimpin Westerling. Berkat keberanian itu, Maulwi diangkat menjadi Wakil Komandan Yon VII/CPM Makassar dan bertemu dengan Bung Karno di Pare-pare pada 1958.

Perjumpaan dengan presiden pertama RI tersebut membuat Maulwi makin tertarik dengan dunia militer. Ia pun diangkat menjadi staf di Resimen Tjakrabirawa (sekarang Paspampres) pada 1962, hingga akhirnya menjadi wakil komandan resimen tersebut ketika Peristiwa G30S/PKI meletus empat tahun kemudian.

Masa-masa sulit sempat dialami Maulwi seusai peristiwa G30s/PKI. Ia sempat diinterogasi secara tidak manusiawi demi sebuah pengakuan yang menyebutkan Bung Karno terlibat peristiwa terkutuk tersebut. Maulwi tidak melakukan itu dan lebih memilih dipenjara selama lima tahun untuk membuktikan bahwa dirinya tidak terlibat dengan gerakan G30s/PKI.

Selesai dari dunia militer, Maulwi menghabiskan waktu di bidang pendidikan sebagai ketua Yayasan Syifa Budi yang berlokasi di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Sekolah itu cukup populer dan lebih dikenal dengan nama Al-Azhar Kemang. Selain berkiprah di dunia pendidikan, Maulwi juga pernah menjabat menjadi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) periode 1964-1967.


Biodata
Nama: Maulwi Saelan
Tempat Tanggal Lahir: Makassar 8 Agustus 1926
Istri: Tjitji Awasih Saelan
Anak: Djagat Surachman, Kilat Maulwi, Shinta Sari Saelan
Fatih Wadya Saelan, Shifa Sari Saelan, Asha Wadya Saelan
Karier: PON I (1948) bersama tim Jakarta Raya, PON III (1953) bersama Sulawasi Selatan, Asian Games 1951, Asian Games 1954, Olimpiade 1956, Juara Pra Piala Dunia Zona Asia 1958

 


(RIZ)

Video /