Indonesia Junior Soccer League (IJSL) 2017

Mental Baja Jakarta Football School

Kautsar Halim    •    09 Juli 2017 23:44 WIB
sepak bola
Mental Baja Jakarta Football School
Jakarta Football School (JFS) di IJSL 2017 U-10. (Foto: MTVN/Zam)

Metrotvnews.com, Jakarta: Awaluddin selaku pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB) Jakarta Football School (JFS) memahami benar arti kompetisi Indonesia Junior Soccer League (IJSL). Oleh karena itu, ia sama sekali tidak mempermasalahkan tim binaannya harus berada di urutan paling bawah dan kebobolan banyak gol.

"Kami memang tidak mematok jumlah skor. Hal terpenting dari kompetisi ini (IJSL 2017) adalah mereka (para pemain) bisa belajar dan latihan. Itu saja yang paling penting karena skor bisa dicari," kata Awaluddin kepada Metrotvnews.com.


Klik: Hasil Lengkap Pekan Kedua IJSL 2017 U-10


Hingga berakhirnya pekan kedua IJSL 2017 kategori U-10, Minggu 9 Juli, JFS yang tergabung dengan Grup Putih harus terima berada di urutan paling buncit dengan koleksi 1 poin. Hasil negatif itu mereka dapat setelah bermain selama enam kali sejak pekan pertama.

Sejatinya, masih ada Putra Pakuan yang juga sama-sama memiliki satu poin di daftar klasemen sementara. Namun, JFS tetap lebih buruk karena sudah kebobolan 30 gol dan baru mampu memasukkan lima gol.

JFS sempat membuka harapan pada pekan kedua dengan meraih poin perdana saat menahan imbang One Way SS dengan skor, 2-2. Akan tetapi, mereka makin keteteran ketika melakoni dua laga selanjutnya. Saat itu, JFS dibantai Serpong City dengan skor 1-8, dan digebuk Astam dengan skor, 1-11.


Klik: Libur Panjang Berakhir, IJSL 2017 Kembali Bergulir


Metrotvnews.com turut menyaksikan sendiri pertandingan antara JFS kontra Astam. Dalam laga yang terkendala guyuran hujan tersebut, JFS memang kalah dalam urusan postur pemain, serta teknik bermain. Namun, semangat pantang menyerah mereka tidak kendur hingga laga berakhir.

"Sebetulnya, sebagian besar anak-anak ini usianya masih delapan tahun. Bahkan salah satu dari mereka ada yang masih tujuh tahun. Tapi tidak apa-apa mereka tampil di level yang dua tahun lebih tinggi. Ini bakal menjadi pembelajaran mereka dalam dua tahun ke depan," ujar pelatih yang akrab disapa Awal seusai laga.

"Kemudian, kami juga datang kesini tanpa latihan terlebih dahulu setelah libur puasa sekitar tiga minggu. Ini memang kesalahan kami, tapi mereka semua yang minta pada libur," tambahnya sambil tersenyum.

Tidak ada ekspresi kesal atau marah dari wajah Awal ketika anak-anak asuhnya kalah besar. Justru sebaliknya, pria bertubuh gempal itu malah melempar pujian sambil menyalami mereka satu persatu.

"Kalau dari sudut pandang pelatih, kemampuan individu mereka tetap bertambah. Kami juga sempat memainkan pemain yang masih berusia tujuh tahun dan semuanya berkembang dengan baik," tutup Awal.

Kemenangan atau menjadi juara memang merupakan kebanggaan tersendiri. Namun, itu bukan tujuan utama diselenggarakannya kompetisi IJSL. Pembelajaran tentang kompetisi yang sportif dan pembentukan mental bermain merupakan hal paling penting dalam kompetisi sepakbola usia dini ini.

 


(KAU)

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG
Liga Champions 2017--2018

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG

2 days Ago

Cristiano Ronaldo menegaskan dia dan rekan setimnya tidak takut jika harus berhadapan dengan Pa…

BERITA LAINNYA
Video /