Timnas Indonesia

Menerka Alasan PSSI Mempertahankan Luis Milla

Gregorius Gelino    •    29 Agustus 2018 12:04 WIB
liga indonesiatimnas u-23pssitimnas indonesia
Menerka Alasan PSSI Mempertahankan Luis Milla
Luis Milla (Antara/Sigid Kurniawan)

Jakarta: Luis Milla resmi mendapatkan perpanjangan kontrak dari PSSI, Selasa 28 Agustus malam. Pelatih asal Spanyol itu sebenarnya gagal mencapai target yang dicanangkan PSSI yaitu menembus babak semifinal Asian Games 2018. Namun, PSSI masih memberikan kesempatan setahun lagi kepada Milla.

Seperti diketahui, Milla hanya mampu mencapai perempat final, di mana skuat Garuda tumbang dari Uni Emirat Arab melalui babak adu penalti setelah bermain sama kuat 2-2 selama 120 menit.

Jadi, mengapa Luis Milla dipertahankan meski gagal mencapai target? Apa yang menjadi pertimbangan PSSI untuk mempertahankan pelatih berusia 52 tahun ini?

Ketua Umum Edy Rahmayadi menyebut Milla sudah mengetahui kekuatan sepak bola Indonesia. Oleh karena itu, ia meminta program yang sudah ada tetap dijalankan dan menargetkan juara AFF 2018 yang akan berlangsung  8 November - 15 Desember 2018.

Baca: Perpanjang Kontrak Luis Milla, PSSI Targetkan Juara Piala AFF

"Target tetap menjadi juara AFF 2018. Luis Milla sudah berada di Indonesia selama setahun delapan bulan dan dia sudah tahu kekuatan Indonesia. Artinya program tinggal berjalan dan diterapkan dengan baik. Nanti akan ada penjadwalan itu semua," tutur Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi. 

Milla tercatat pernah membela tiga klub besar Spanyol, yaitu Barcelona, Real Madrid, dan Valencia ketika bermain sejak debutnya pada 1984 hingga pensiun tahun 2001. Ia merupakan seorang gelandang bertahan dan pernah bermain di bawah asuhan beberapa pelatih legendaris seperti Luis Aragones, Johan Cruijff, Vicente Del Bosque, dan Fabio Capello.

Milla memulai karier kepelatihannya sejak 2006. Pemegang lisesnsi Pro UEFA ini menangani Pucol meski hanya bertahan setahun. Pada 2007 ia memilih untuk ikut dengan mantan rekannya di Barcelona dan Real Madrid, Michael Laudrup, sebagai asisten pelatih Getafe, di sana ia juga bertahan selama semusim. Ia mulai menangani tim nasional pada 2008, ketika itu ia menjadi pelatih kepala Spanyol U19, namun ia gagal membawa timnya lolos dari Piala Eropa U19 pada dua tahun pertama. Baru pada 2010 ia berhasil membawa La Rojita sebagai runner up kompetisi.

Baca: Jelang Piala AFF, Indonesia bakal Lakoni Dua Laga Uji Coba

Milla diangkat sebagai pelatih Spanyol U20 yang mengikuti Piala Dunia U20 pada 2009. Namun, ia gagal mempersembahkan prestasi ciamik lantaran harus keluar pada babak 16 besar. Prestasi terbaiknya di level tim nasional adalah membawa timnas Spanyol U21 sebagai kampiun Piala Eropa U21 pada 2011 di Denmark. Namun, Milla juga menorehkan prestasi buruk dengan gagal membawa timnas Spanyol U23 lolos dari babak grup Olimpiade 2012 di Britania Raya.

Sedangkan di level klub, prestasi Milla lebih mengenaskan lagi. Ia tercatat tidak pernah memenangkan gelar apapun selama menangani klub. Tercatat ia pernah menangani Al Jazira (klub UEA), Lugo, dan Real Zaragoza (keduanya tim divisi dua Spanyol) di mana ia tidak pernah bertahan lebih dari semusim, bahkan ia selalu dipecat di tengah jalannya kompetisi.

Melihat sejarah kepelatihan Milla, PSSI bisa berharap banyak dari pelatih kelahiran 1966 ini karena bisa dibilang ia memiliki spesialisasi menangani tim nasional. Namun ia butuh waktu untuk membangun skuatnya agar para pemain dapat beradaptasi dengan gaya permainannya. PSSI juga harus bisa menyuplai pemain muda berbakat bagi Milla untuk dikembangkan dengan cara memperbaiki sistem pembinaan pemain muda di Indonesia.

Video: PSSI Perpanjang Kontrak Luis Milla




(ASM)


Video /