Ponaryo Astaman Pensiun

Akhir Petualangan Ponaryo Astaman, Salah Satu Gelandang Terbaik Indonesia

Gregah Nurikhsani Estuning    •    14 November 2017 01:25 WIB
sriwijaya fcpsm makassar
Akhir Petualangan Ponaryo Astaman, Salah Satu Gelandang Terbaik Indonesia
Ponaryo Astaman (kanan), menggiring bola dengan dihalangi pesepakbola Selandia Baru, Cole Peverley. (Foto: ANTARA/Andika Wahyu)

Samarinda: Salah satu gelandang terbaik Indonesia, Ponaryo Astaman memutuskan pensiun sebagai pesepak bola. Banyak kenangan yang telah ia berikan sejak pertama kali menggeluti si kulit bundar sejak tahun 2000 silam.

Popon, begitu Ponaryo akrab disapa, resmi gantung sepatu usai menjalani laga bersama Borneo FC kontra Arema FC di Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu 11 November 2017. Pesut Etam unggul 3-2 di laga tersebut.

Total ia bermain sebanyak 19 kali musim ini di Liga 1. Masuk menit 89 menggantikan Flavio Beck Junior, penampilan Ponaryo di laga itu sekaligus menjadi yang terakhir baginya, tidak cuma bagi Borneo FC, tapi juga di persepakbolaan Indonesia.
 

Baca: Indonesia Bawa Satu Gelar dari Macau Open 2017


Setelah pertandingan berakhir, Popon menyempatkan diri mengucapkan salam perpisahan kepada suporter Borneo FC dan juga rekan-rekan setimnya di tengah lapangan.

"Tahun ini tahun terakhir saya di sepak bola profesional. Saya memulai karier dari bawah tribun, juga mengakhiri karier di bawah tribun. Terima kasih atas dukungannya," kata Ponaryo.

Tak Pernah Bermain bagi Tim Kota Kelahirannya
Ponaryo mengawali karier profesionalnya di usia 17 tahun. Saat itu ia membela klub asal Kalimatan Timur, PKT Bontang tahun 2000. Setahun berselang, ia sempat berseragam timnas Indonesia U-23, tapi namanya belum begitu dikenal masyarakat Indonesia.

Bakat istimewanya di lini tengah kemudian tercium oleh salah satu raksasa Sulawesi, PSM Makassar. Setelah tiga tahun membela PKT, Popon lantas menerima pinangan tim Ayam Jantan dari timur tersebut. Di situlah sosoknya mulai meroket.

Tahun 2004, Ponaryo juga didaulat sebagai pemain terbaik Liga Indonesia Divisi Utama. Di tahun yang sama pula, ia berhasil mencetak gol pertamanya bagi timnas Indonesia di arena kompetitif.

Bakat serta kemampuan istimewanya mengantarkan Ponaryo hingga ke negeri tetangga, Malaysia. Selepas membela PSM, Melaka TMFC kepincut untuk mengontraknya selama satu tahun sebelum akhirnya hijrah ke Arema FC tahun 2007.

Lahir di Balikpapan, pemain yang akrab dengan nomor punggung 11 itu justru tak pernah bermain bagi tim asal kelahirannya. Padahal ada Persiba Balikpapan yang punya reputasi besar di Kalimantan.

"Orang banyak yang bilang, kenapa tidak kembali, kenapa tidak pulang? Saya selalu menjawab rumah bukan selalu dari mana kami berasal, tapi rumah kadangkala berarti di mana kami menentukan pilihan untuk tinggal," ucap Ponaryo lagi.

Makna Gol Indah Ponaryo Astaman ke Gawang Qatar
Di Piala Asia 2004 silam, Indonesia bergabung dengan tiga tim kuat seperti Bahrain, Qatar dan tuan rumah China. Ponaryo Astaman berhasil mencetak gol indah yang akan dikenang bukan oleh dirinya seorang, melainkan rakyat Indonesia sampai kapan pun.


Saat itu Popon melesakkan gol yang akhirnya masuk sebagai salah satu yang terbaik di sepanjang turnamen. Berawal dari bola liar di seperempat lapangan, ia menggiring bola dengan dua sentuhan sebelum melepaskannya telak ke pojok kanan gawang Qatar.

Lebih istimewanya lagi, Indonesia sanggup mempertahankan kemenangan 2-1 di laga tersebut, di mana itu menjadi kemenangan perdana bagi Indonesia senior di turnamen sepak bola antar negara terbesar di Asia.

Lanjutkan Karier sebagai Pelatih?
Gantung sepatu sebagai pemain, kabar mengenai karier masa depan Ponaryo masih ramai diperbincangkan. Salah satu opsi terbaik yang bisa Ponaryo pilih adalah menjadi pelatih.

Presiden klub Pusamania Borneo FC, Nabil Husein sempat mengutarakan niatnya mengangkat Ponaryo menjadi asisten pelatih Iwan Setiawan musim depan. Nabil ingin mewujudkan hal tersebut sebagai bentuk terima kasih karena loyalitas dan pengaruh besarnya bagi Borneo FC.

Di saat bersamaan, Ponaryo memang masih menggeluti kursus kepelatihannya hingga Desember mendatang, sehingga peluang baginya meneruskan karier sebagai pelatih bisa terwujud tahun depan.

Beberapa figur seperti Aji Santoso, Widodo C Putro dan Fakhri Husaini merupakan contoh nyata mantan pemain yang sukses ketika beralih menjadi pelatih.

Video: Data dan Fakta Unik Marc Marquez
 


(ACF)

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG
Liga Champions 2017--2018

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG

1 day Ago

Cristiano Ronaldo menegaskan dia dan rekan setimnya tidak takut jika harus berhadapan dengan Pa…

BERITA LAINNYA
Video /