Ricuh Suporter Indonesia

SOS Berharap TNI dan Polisi Keluar dari Sepak Bola Nasional

Krisna Octavianus    •    13 Oktober 2017 18:57 WIB
liga 2 indonesia 2017
SOS Berharap TNI dan Polisi Keluar dari Sepak Bola Nasional
Pesepak bola PSMS Medan menyalami pesepak bola PS TNI usai bertanding pada pertandingan persahabatan di Stadion Teladan Medan, Sumatera Utara.

Metrotvnews.com, Jakarta: Koordinator Save Our Soccer (SOS), Akmal Maharli menilai PSSI dan Pemerintah, dalam hal ini Kemenpora harus mengkaji ulang keikutsertaan lembaga negara seperti TNI dan Polisi dalam kompetisi sepak bola nasional. Dia beralasan, semua harus dikembalikan sesuai tugasnya masing-masing.

Akmal berbicara seperti itu merujuk nasib nahas seorang suporter Persita Tangerang, Banu Rusman. Ia terluka parah hingga akhirnya meregang nyawa usai dianiaya oknum suporter PSMS Medan yang diduga para anggota TNI.  

Kerusuhan antar suporter pecah seusai Persita ditaklukkan PSMS Medan dengan skor 0-1 pada babak 16 besar Liga 2 Indonesia 2017 di Stadion Mini Persikabo, Cibinong, Bogor, Rabu 11 Oktober. Kabarnya, itu terjadi karena suporter Persita tidak terima dengan hasil pertandingan dan nekat masuk ke lapangan untuk memprotes panitia laga.


Klik: Manajemen Persita Sudah Ajukan Laporan Terkait Kerusuhan Suporter


Sejatinya, bukan fenomena baru jika para anggota TNI ikut mendukung tim sepak bola di Indonesia. Pasalnya, ada PS TNI juga yang ikut berlaga di Liga 1 Indonesia 2017. Selain itu, Edy Rahmayadi yang merupakan Ketua Umum PSSI dan Pangkostrad memiliki jabatan sebagai pembina PSMS Medan.

Sejarah mencatat, ini adalah kerusuhan sepak bola kedua di sepanjang 2017 yang melibatkan TNI. Sebelumnya, para anggota TNI juga pernah melukai suporter Persegres Gresik United pada Mei lalu.

Melihat kejadian ini, Akmal merasa perlu ada pengkajian ulang atas keikutsertaan lembaga negara seperti TNI (PS TNI) dan Polisi (Bhayangkara FC) dalam kompetisi sepak bola nasional. Dia berharap, TNI dan Polisi dikembalikan tugasnya sebagai penjaga keamanan.

“Sangat riskan bila lembaga negara apalagi aparat penegak hukum (TNI dan Polisi) ikut terlibat di kompetisi. Potensi terjadi gesekan sangat besar apalagi sepak bola melibatkan massa (penonton, suporter, fans)," ujar Akmal saat dihubungi wartawan. 

"Aparat keamanan lebih baik dikembalikan ke fungsi utamanya. Termasuk menjaga keamanan dan kenyamanan dalam pertandingan sepak bola” Akmal menegaskan.


Klik: Babak Delapan Besar Liga 2 Ditunda


Selain mengusut tuntas pelaku pengeroyokan dan memberikan hukuman sepadan, Akmal juga meminta PSSI dan Pemerintah (dalam hal ini Kemenpora), melakukan evaluasi total terhadap kompetisi yang sedang berjalan. 

Dalam berbagai aspeknya, mulai dari penegakkan aturan sampai pelanggaran yang dilakukan. Bentrokan suporter, vandalisme dan anarkisme di lapangan tak lepas dari kurang tegasnya PSSI dan Pemerintah dalam menegakkan aturan. 

“Selama ini pengusutan terhadap tewasnya suporter tak pernah tuntas. Hanya lips service setelah itu hilang ditelan bumi. Perlu langkah nyata dari PSSI dan Pemerintah untuk menuntaskannya," terangnya. 

"Sepak bola itu bukan tempat mempertontonkan kekuatan. Bukan medan pertempuran, bukan kuburan untuk korban yang berjatuhan. Sepak bola adalah hiburan. Panggung mengekspresikan kegembiraan. Tempat meluapkan kebahagiaan,” pungkas Akmal.

 


(KAU)

Pique Berharap Jumpa City di Liga Champions
Liga Champions 2017--2018

Pique Berharap Jumpa City di Liga Champions

1 day Ago

Bek Barcelona Gerard Pique berharap timnya bisa bertemu Manchester City di Liga Champions musim…

BERITA LAINNYA
Video /