Kecerdikan Deschamps Picu Serangan Balik Apik Prancis

Gregorius Gelino    •    16 Juli 2018 19:47 WIB
timnas prancispiala dunia 2018
Kecerdikan Deschamps Picu Serangan Balik Apik Prancis
Didier Deschamps (kedua dari kanan). (Foto: AFP/ Franck Fife)

Moskow: Timnas Prancis baru saja mengamankan trofi Piala Dunia kedua mereka dalam tiga final terakhir. Hal ini tentu tidak lepas dari peran pelatih mereka, Didier Deschamps. Mantan pelatih AS Monaco itu menjadi manusia ketiga yang mampu menjuarai Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih, sebelumnya hanya Mario Zagallo bersama Brasil dan Franz Beckenbauer bersama Jerman yang mampu mencapai prestasi itu.

Bermaterikan pemain muda bertalenta semacam Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele, pemain yang matang yang berpengalaman seperti Antoine Griezmann dan Hugo Lloris, gelandang kelas wahid dalam diri Paul Pogba dan N'Golo Kante, serta bek yang tangguh dalam diri Raphael Varane dan Samuel Umtiti, membuat timnas Prancis seperti tanpa celah. Namun jika tidak diracik pelatih berkualitas, materi pemain sebaik apapun tidak akan bekerja maksimal di lapangan.

Kekalahan di Euro 2016 ketika menjadi tuan rumah membuat Deschamps menyadari bahwa pendekatan taktikal adalah yang utama. Dalam laga final Minggu 15 Juli kemarin, Prancis yang bertabur bintang hanya menguasai 39% bola, berbanding 61% penguasaan bola Kroasia. Tetapi penguasaan bola Kroasia menjadi sia-sia karena barisan gelandang Prancis yang diisi Pogba, Kante, dan Matuidi (meski bermain di sayap, Matuidi lebih sering beroperasi di tengah ketika timnya bertahan) bermain disiplin dan membuat gelandang kreatif Kroasia tidak berkutik.

Baca: Pele Baru dan Mimpi Indonesia


Deschamps, sebagai mantan gelandang bertahan, paham betul bahwa sektor tengah lapangan adalah kunci. Kemampuan skuat Ayam Jantan dalam melakukan transisi memanfaatkan visi Pogba, kecepatan Griezmann dan Mbappe, serta kekuatan Giroud dalam menahan bola, membuat Prancis menjadi tim yang berbahaya dalam laga final. Hal ini bekerja efektif melawan Kroasia karena tim yang diasuh Zlatko Dalic ini memainkan garis pertahanan yang tinggi. Sering kali umpan yang diintersepsi oleh pemain tengah Prancis langsung diarahkan ke ruang yang ditinggalkan oleh bek sayap Kroasia yang dieksploitasi oleh Mbappe.

Skor 4-2 memang tidak menggambarkan dominasi Kroasia, tapi ini menggambarkan naifnya negara pecahan Yugoslavia itu. Bermain dengan garis pertahanan tinggi meski tahu bahwa Mbappe siap mengincar ruang di belakang pertahanan sendiri membuat Kroasia kehilangan kesempatan untuk merengkuh trofi Piala Dunia pertama mereka dan menghentikan siklus juara baru setiap 20 tahun.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Nobar Rasa Atmosfer Stadion di Fanzone Spartak, #SalamdariRusia


(ASM)


Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl
Uji Coba Timnas Indonesia vs Hong Kong

Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl

4 days Ago

Terakhir, Andik tampil saat Timnas Indonesia melakoni uji coba melawan Islandia pada 14 Januari…

BERITA LAINNYA
Video /