Opini Piala Dunia 2018

Menggali Untung Pasca Pesta Bola

Arif Wicaksono    •    14 Juli 2018 08:00 WIB
piala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Menggali Untung Pasca Pesta Bola
Foto: Seorang fan Rusia berpose di depan salah satu bangunan ikonik Rusia, Red Square Moscow. (Foto: AFP PHOTO / CHRISTOPHE SIMON)

BAGI pecinta sepak bola, Piala Dunia adalah candu yang mengasyikan. Candu itu yang membuat orang rela bepergian ke Rusia, atau mendukung tim kesayangan lewat layar kaca sambil mungkin sedikit berjudi.

Kenikmatan ini yang juga dirasakan Nelson Mandela, ketika dipenjara, dan hanya mendengarkan siaran Piala Dunia melalui Radio di Robben Island sebagai hiburan. Hanya dengan melalui radio Mandela bisa menikmati obat pelipur lara di balik jeruji besi.

Piala Dunia juga mampu jadi penggerak ekonomi bagi industri sepak bola dengan melibatkan berbagai elemen dari keterlibatan sponsorship, keagresifan agen pemain, hadiah dari kejuaraan serta hak siar yang didapatkan melalui televisi. Sejak  satu dekade terakhir pendapatan FIFA dari menjual lisensi Piala Dunia terus naik.

Namun apakah ajang Piala Dunia sebagai bagian dari bisnis benar-benar menguntungkan bagi tuan rumah penyelenggara? 

Keyakinan bahwa sepak bola memberikan berkah yang sepadan dengan 'pengorbanan' tuan rumah Piala Dunia masih jauh dari kenyataan.

Alih-alih menguntungkan secara ekonomis Piala Dunia mencerminkan tingkah laku konsumsi dalam masyarakat modern yang lebih dipenuhi keinginan hasrat untuk mengkonsumsi komoditas berbau sensasi bukan manfaat sebagaimana diutarakan filsuf Prancis, Jean Baudrillard dalam bukunya "The Consumer Society: Myths and Structures (1998)."  
 

Baca: Mantan Aktor Pimpin Laga Pamungkas Piala Dunia


Setelah Piala Dunia di Afsel misalnya, banyak stadion nirfungsi bagi kepentingan warga setempat. Contoh yang nyata adalah kesulitan finansial pengelola stadion di Cape Town, Green point Stadium, tempat berlangsungnya Piala Dunia di Afrika Selatan pada 2010. Pengelola stadion sampai 'mengemis' kepada pemerintah lokal untuk dana sebanyak 2,4 miliar euro per tahun.  

Kisah pilu pun dialami Ajax Cape Town, salah satu klub populer di Afsel, mati-matian meraih 5.000 penonton per pertandingan untuk membayar biaya perawatan stadion itu.

Untuk menyelamatkan keuangan, tempat itu beralih fungsi sebagai tempat untuk konser artis internasional. Mulai dari Justin Beiber, Linkin Park sampai rapper kulit putih, Eminem. Dari tempat pertandingan sepak bola menjadi tempat konser musik. 

Banyaknya stadion kosong membuat banyak media internasional mengulas banyaknya white elephant (gajah putih) di Afrika Selatan. Gajah-gajah putih ini selain tak berguna bagi Afsel yang belum memiliki iklim bisnis olahraga sebaik Eropa, juga pada akhirnya berpotensi menjadi monumen presejarah yang diburu waktu. 
 
T.O Molefe dalam tulisannya di New York Times secara tegas mengatakan stadiun di Cape Town sebagai simbol kegagalan FIFA di Afrika Selatan. Menurutnya, megaproyek senilai USD 32 juta itu lebih baik digunakan untuk pengembangan sanitasi dan perumahan bagi warga miskin sekitar.

Tanpa tendeng aling, Molefe mengatakan bahwa FIFA menggunakan nama sepak bola untuk meraih profit semata. Piala Dunia 2010 memang menambah pundi-pundi FIFA yang diperkirakan berhasil meraih profit sebesar USD2,26 miliar, namun bagaimana dengan dampaknya terhadap Afsel..?  

Kolumnis Andile Mngxitama menjawabnya bahwa setelah Piala Dunia usai, Afrika Selatan tak berhasil mengubah nasibnya dan kembali menjadi negara miskin. Kalau dilihat dari biaya penyelengaraanya, Piala Dunia di Afsel memang lebih melihat gengsi ketimbang kebutuhan.

Salah satu yang mencolok adalah bagaimana mungkin anggaran Piala Dunia yang diperkirakan mencapai USD 3 miliar atau  mencapai 10 kali dari APDB Afsel yang saat itu USD 375 juta dengan tumpukan utang pemerintah yang saat itu rasionya mencapai di atas 35 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)..? 

Bahkan, Piala Dunia juga tak secara otomatis membangun dunia pariwisata di Afrika Selatan. Persentasenya terhadap PDB tak naik semenjak Piala Dunia 2010. Bisa dikatakan persentase pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Afrika Selatan malah terus-terusan menurun. 

Salah satu alasan menurunya kontribusi sektor pariwisata adalah lemahnya pertumbuhan ekonomi di Afrika Selatan yang membuat warganya malas untuk berpergian. Pertumbuhan ekonomi  Afsel dari 2010 sampai 2017 terus menurun hingga mencapai satu persen. Dari Piala dunia hingga sekarang tingkat pengangguran di Afrika Selatan konstan selalu di atas 20 persen.  

Kisah serupa juga terjadi di negeri Samba pasca melaksanakan Piala Dunia 2014. Brasil yang menghabiskan dana sebesar USD 11,3 miliar dalam event itu juga belum berhasil meraih manfaat ekonomisnya. Cyhthia Arnson, Direktur Amerika Latin dalam Lembaga Think Thank Woodrow WIidon International Centre sempat menegur bahwa Piala Dunia hanya berdampak pendek terhadap perekonomian Brasil. 

Pernyataan Cynthia jauh masuk akal ketimbang yang diutarakan Menteri Olahraga Brasil Aldo Robelo dan FIFA. Aldo mengklaim bahwa turnamen itu bisa menghasilkan USD 90 miliar ke ekonomi Brasil dalam 10 tahun ke depan. Keyakinan Aldo seakan dikuatkan pernyataan  FIFA yang 'pede' bahwa pembangunan stadion  akan memberikan kenyamanan bagi fans baik lokal dan asing yang akan secara otomatis akan meingkatkan kunjungan ke stadion. 

FIFA lupa bahwa bagi negara berkembang seperti Brasil, pengeluaran konsumsi untuk kebutuhan pangan jauh lebih urgen ketimbang menonton sepak bola di stadion untuk klub lokal mereka. Jika membeli pangan saja susah bagaimana untuk membeli tiket di stadion?

Jumlah penonton ke stadion di Brasil semakin menyusut setiap tahun. Anjloknya penonton di Brasil karena dua hal, yakni harga tiket yang dianggap mahal serta ramainya kriminalitas baik di stadion dan luar stadion. Semenjak ekonomi negara samba itu anjlok, kasus kekerasan terus meningkat. 

David Biller dalam artikelnya di Bloomberg menulis kerugian dari aksi tindakan kriminal di Brasil mencapai USD75 juta per tahun atau naik selama dua dekade. Kisah pembunuhan dan pencurian menjadi berita biasa saja di media massa.

Sehabis menonton sepak bola, pendukung tim yang kalah berkelahi dan ujung-ujungnya berakhir di kantor polisi. Tingginya tingkat kriminal disebabkan kurangnya anggaran sosial untuk pendidikan, kesehatan dan pengentasan kemiskinan. 

Kesulitan finansial sampai membuat stadion terkenal di Brasil , Mane Garrincha, kosong melompong pasca Piala Dunia. Stadion mewah itu bahkan lebih sering menjadi tempat parkir bus ketimbang dipakai klub lokal.

Stadion berkapasitas 72.000 penonton itu membebani cost klub kecil yang tak bisa membayar biaya perawatan stadion yang sebesar 62.000 pound per pertandingan.   

Thiago Henrique salah satu staff klub di Brasiliense mengaku Piala Dunia membuat klub lokal tak bisa menyewa Stadion Mane Garrincha karena mahalnya biaya perawatan setelah stadion itu digunakan untuk Piala Dunia. Ibaratnya, Piala Dunia seperti orang yang membeli mobil Ferari dengan tumpukan utang, namun cuma untuk jadi pajangan di garasi. Mahal, tapi tidak berguna.

Selain itu, popularitas Liga Brasil semakin turun semenjak banyak pesepak bola lokal yang lebih memilih berkarir di Eropa. Sebut saja Gabriel Jesus, Paulinho, Neymar Jr, dan Philippe Coutinho. Sudah menjadi kebiasaan pemain Brasil baru mau kembali main ke liga domestik Brasil ketika kariernya sudah nyaris menyentuh titik nadir.

Sampai saat ini belum ada pemain bintang di Liga Brasil yang mampu menjadi magnet penonton selepas kepergian Neymar Jr ke klub beken asal spanyol, Barcelona. 

Pertumbuhan ekonomi negara asal Pele itu hanya mencapai 0,41 persen di 2014 kemudian turun 3,55 persen (2015), minus 3,47 persen (2016) dan naik 0,98 persen di 2017. Tingkat pengangguran di Brasil dalam dua tahun terakhir mencapai 11,5 persen dan 13,4 persen dari Jumlah penduduk atau tertinggi selama 10 tahun terakhir. Data itu menunjukan bahwa limpahan uang dari Piala Dunia belum mampu menggerakan ekonomi Brasil. 

Kritikan terhadap pesta Piala Dunia kembali hadir di Rusia. Biang keladinya siapa lagi kalau bukan aksi politik luar negeri Rusia, di bawah Putin yang 'menganggu' negara-negara tetangga. Piala Dunia pun dari awal diperkirakan tak akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi perekonomian Rusia sebagaimana dikatakan Moody meskipun pemerintah Rusia yakin bahwa gelaran bergengsi ini akan memberikan dampak positif bagi pembangunan ekonomi Rusia. 

Citra Rusia yang juga memiliki catatan buruk dalam sepak bola juga memberi pesan bahwa Rusia memilih sepak bola sebagai cara diplomasi untuk meredakan ketegangan politik. Aksi Rusia sebagai tuan rumah dalam pesta olahraga musim dingin empat tahun lalu dianggap gagal mendinginkan tensi politik. Kemudian apakah Rusia akan bernasib sama seperti dua negara pendahulunya? 

Sejauh ini ekonomi Rusia cukup lumayan. Pendapatan per kapita Rusia (2017) mencapai USD 10.742 lebih tinggi dari Brasil dan Afrika Selatan. Rusia juga merupakan salah satu negara kaya minyak di dunia. Dalam tiga tahun ke depan, ekonomi Rusia diprediksi akan tumbuh stabil mencapai 1,5 persen per tahun dengan tingkat pengangguran lima persen, jauh sekali dengan tingkat pengangguran di Afrika Selatan dan Brasil. 

Ketimbang menghabiskan dana untuk membangun stadion, pemerintah Rusia lebih memilih untuk memaksimalkan pembangunan infrastruktur bagi publik. Rusia fokus pada pembangunan bandara, rumah sakit serta tempat publik lainnya. Pilihan yang tak salah karena setelah Piala Dunia usai sisa pembangunan itu masih dibutuhkan. 

Sebagian besar alokasi dana Piala Dunia Rusia 2018 digunakan untuk pengembangan infrastruktur transportasi. Total pembangunan untuk infrastruktur mencapai USD6,8 miliar atau 50 persen dari total anggaran. Sementara hanya 30 persen dana untuk pembangunan stadion yang jumlahnya mencapai USD4,1 miliar. Sisanya 20 persen hanya digunakan untuk mendukung aktivitas olahraga. 

Rasio anggaran pembangunan stadion Rusia lebih kecil dibandingkan dengan Afrika Selatan yang mengalokasikan 55 persen anggaran untuk pembangunan stadion dan sisanya untuk transportasi publik. Kemudian Brasil yang mengalokasikan 32 persen anggaran Piala Dunia untuk stadion dan 23 persen untuk pembangunan bandara serta 30 persen untuk proyek transportasi urban.  

Dalam jangka pendek, pengusaha hotel, makanan dan ritel Rusia juga akan mendapatkan keuntungan dari kedatangan para turis asing. Berdasarkan analisis Nordea Market kedatangan mereka akan menambah konsumsi dalam negeri sebanyak USD2,5 sampai USD4 miliar atau 10 hingga 20 persen dari total biaya sebesar USD13 miliar pada pergelaran Piala Dunia kali ini.

Tampaknya Rusia memiliki modal lebih baik ketimbang dua negara pendahulunya. Namun kemungkinan untuk terbelangkalainya stadion di Russia juga bukan isapan jempol karena bisnis sepak bola Russia sedang anjlok pada tahun lalu. Pendapatan Liga Rusia masih jauh dari lima negara pendulang pendapatan terbanyak dari Liga Eropa seperti Inggris, Jerman, Spanyol dan Italia. 

Pendapatan Liga Rusia per tahun baru mencapai 701 juta euro atau bahkan di bawah liga turki yang meraih 734 juta euro pada 2016. 

Sulitnya bisnis sepak bola di Rusia tak lepas dari soft power Rusia setelah kepemimpinan Boris Yeltsin. Dimulai dari era Vladimir Putin banyak pengusaha Rusia seperti Roman Abramovich (pemilik Chelsea), Alisher Usmanov (pemilik saham Arsenal), Maxim Demin (pemilik Bournemoth) memilih berinvestasi di Inggris ketimbang di klub lokal. Kesulitan finansial membuat Liga Sepak Bola Russia juga tak dipenuhi pemain superstar seperti Liga Super China yang bisa menarik animo penonton.

Ketua Serikat Pemain Liga Rusia, Vladimir Leonchenko, mengaku bahwa sulitnya klub Rusia mencari pendapatan dari penonton dan sponsor karena tak ada nama beken yang dijual.  

Sebelum Piala Dunia kick off, beberapa klub Rusia mengalami kesulitan finansial. Juara Piala Rusia FC Tosno mengaku tak bisa mengikuti babak penyisihan Liga Europa karena tak ada uang membayar pendaftaran untuk kompetisi itu. Tumpukan beban utang membuat Tosno memilih absen.

Selain itu Rubin Kazan, juara dua kali Liga Rusia, juga alami persoalan dana sampai tak bisa membayar gaji pemain pada tahun lalu. Kesalahan pengelolaan uang membuat Rubin Kazan yang sempat disponsori Tatar-American Investment and Finance (TAIF), terpaksa menjual pemain untuk membayar gaji pemain. 

Beberapa tahun lalu, para pemain bintang seperti Axel Witsel, Hulk yang memperkuat Zenit St Petersburg hijrah ke Liga Super Tiongkok kerena persoalan finansial. Gazprom pemilik saham Zenit mengalami krisis keuangan setelah kejatuhan harga minyak dunia. Laba bersih anjlok 86 persen pada 2014. Selain itu, Dynamo Moscow sudah kehilangan salah satu investornya, bank kedua terbesar di Rusia VTB karena dianggap tak menguntungkan. 

Kemudian apakah setelah Piala Dunia, stadion di Russia akan menjadi kosong seperti yang sudah terjadi di Afrika Selatan dan Brasil ? Selama tiga tahun terakhir secara rata-rata jumlah kedatangan penonton di Liga Rusia naik dari 10.135 penonton (2015) menjadi 13.956 penonton (2017).

Namun hanya sebagian kecil klub sepak bola domestik yang bisa meraih penonton di atas 60 persen dari kapasitas stadion. Beberapa klub itu adalah Zenit, Spartak Mostkow, Krasnodar serta Rostov. Sisanya berkisar 50 persen dan bahkan banyak juga yang di bawah 40 persen. Ketimpangan klub di Rusia juga tampak masih tinggi.  

Baca juga: Antiklimaks Berbau tak Sedap


Liga Rusia menghadapi tantangan untuk menjadi saluran alternatif selain liga beken di eropa, seperti Inggris, Italia, Spanyol, Jerman atau Prancis. Perubahan ini penting untuk menarik minat penonton Rusia untuk datang ke stadion lokal dan mendukung tim domestik ketimbang menonton aksi megabintang pesepakbola di liga ternama dunia. 

Kalau dilihat dari kemapanan liga, maka bisa diperkirakan tak akan ada tuan rumah baru dari berbagai benua dalam event ini mengingat perputaran uang dari sepak bola masih didonimasi liga sepak bola di negara eropa barat. Tanpa tuan rumah baru Piala Dunia bisa jadi tak akan menjadi lebih menarik. 

Sebagai sebuah gengsi, Piala Dunia sudah menjadi pesta yang dirayakan tanpa menghitung keuntungan ekonomi semata. Simon Kupper penulis buku "Soccernomic"s mengatakan Piala Dunia merupakan pesta yang butuh banyak biaya dan kerap dilakukan atas nama kesenangan. Pesta dulu, tekor belakangan.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Menyusuri Keindahan Kota Terindah di Dunia, St. Petersburg, #SalamdariRusia




(ACF)


Deschamps Berharap Pemain Prancis Raih Ballon d'Or
Timnas Prancis

Deschamps Berharap Pemain Prancis Raih Ballon d'Or

3 hours Ago

Meski demikian ia percaya pemenang Ballon d'Or dalam 10 edisi sebelumnya, Lionel Messi dan …

BERITA LAINNYA
Video /