Tiga Faktor yang Bisa Membawa Inggris Juara

Gregah Nurikhsani Estuning    •    09 Juli 2018 17:25 WIB
timnas inggrispiala dunia 2018
Tiga Faktor yang Bisa Membawa Inggris Juara
Fans Inggris. (Foto: AFP PHOTO / Tolga AKMEN)

Jakarta: Rakyat Inggris tengah dalam euforia. Timnas kebanggaan mereka semakin dekat menuju gelar juara. Trofi Piala Dunia yang terakhir diraih 1966 (dan satu-satunya), berpeluang bertambah menjadi dua. Football's coming home, begitu katanya.

Kemenangan 2-0 atas Swedia di babak perempat final mengantar Pasukan Tiga Singa untuk pertama kalinya sejak 1990 menembus semifinal Piala Dunia. Banyak catatan impresif di laga itu, seperti misal gol perdana Harry Maguire untuk The Three Lions.

Dele Alli yang mencetak gol lewat sundulan pada pertandingan tersebut juga membuat Inggris makin 'jemawa di udara'. Tercatat, anak asuh Gareth Southgate kini total telah mencetak lima gol dari sundulan.

Terlepas dari kritikan perihal 'taktik' Inggris yang disebut-sebut sengaja mengalah dari Belgia agar mendapat jalan lebih mulus di fase knock-out, performa Harry Kane cs memang patut diacungi jempol. Jika memang itu adalah bagian dari strategi Southgate, ternyata keputusan tersebut tidak benar-benar berjalan mulus.

Pada kenyataannya, Inggris tidak serta merta dengan mudah melenggang ke babak semifinal. Partai dramatis tersaji di 16 besar kala bersua Kolombia. Memimpin 1-0 hingga 90 menit, laga terpaksa dilanjut hingga adu penalti karena Yerry Mina sanggup mencetak gol di injury time.

Sampai laga menghadapi Kolombia, sebetulnya masih ditemukan kekurangan di sana-sini. Raheem Sterling bahkan mendapat kritikan keras lantaran dianggap gagal menjadi rekan duet yang baik untuk Kane di lini serang.

Klik: Benang Merah Jargon It's Coming Home Suporter Inggris

Akan tetapi, tagline football's coming home lebih nyaring terdengar seantero Inggris Raya ketimbang kritikan-kritikan teknis dari pihak-pihak yang masih saja nyinyir terhadap keberhasilan Jordan Henderson cs.

Pada pertandingan melawan Swedia, ada beberapa hal yang patut dicermati dan membuat fan Inggris layak optimistis menyambut laga kontra Kroasia (dan final). Berikut ulasannya:

1. Set-piece Mematikan
Memiliki banyak pemain jangkung saja tidak akan cukup bila skenario bola mati masih mentah. Inggris mempunyai sejumlah pemain yang tinggi lagi andal dalam duel udara. Di sini, Southgate sanggup memanfaatkan advantage tersebut dengan sangat baik.

Salah satu faktor penting kesuksesan Inggris di Piala Dunia 2018 sejauh ini adalah keberanian Southgate memainkan formasi 3-5-2. Banyak pemain yang harus dikorbankan. Tapi risiko sudah diambil, dan ia kini memetik hasilnya.

Kyle Walker misalnya, harus rela berganti peran menjadi bek tengah. Untungnya, ia sudah terbiasa menjalani peran tersebut di Manchester City. Berkah justru menimpa Kieran Trippier, yang praktis mendapatkan jatah Walker di sayap kanan (right wing back).

Klik: Dilema Henry dan Bayar Utang Southgate

Trippier membayar kepercayaan Southgate dengan aksi impresif. Ia malah mendapat julukan The Bury Beckham karena kepiawaiannya memberikan umpan seperti David Beckham.

Sayap kiri yang ditempati Ashley Young tak kalah mengerikan. Umpan-umpan dari situasi in-play mungkin tidak sebanyak dan sebaik Trippier, akan tetapi, pemain Manchester United itu sukses menjalankan tugasnya dengan baik kala mengambil set-piece.

Lawan Tunisia misalnya, Young punya andil besar terhadap gol perdana Inggris di Piala Dunia 2018. Umpannya dari sepak pojok mampu ditanduk John Stones. Tidak berujung gol memang, tapi bola muntah dimanfaatkan oleh Kane. Yang perlu dicatat adalah, gol tersebut bermula dari skenario bola mati.

Terlihat jelas bahwa Southgate menginstruksikan tiga bek tengahnya untuk berdiri saling berdekatan namun jauh dari gawang. Sementara pemain lain berada dekat tiang, merusak zonal marking yang dilakukan Tunisia, serta mengganggu penglihatan kiper lawan yang sebetulnya bermain cukup baik pada laga tersebut.

Laga berikutnya melawan Panama, enam gol yang dicetak Inggris, tiga di antaranya bahkan terjadi lewat dead ball situation. Ini menjadi bukti betapa kematangan Inggris memanfaatkan set-piece akan mengancam lawan-lawannya di semifinal nanti (dan mungkin juga di final).

2. Tidak Bertumpu pada Harry Kane
Keganasan Kane di fase grup tak perlu diragukan lagi. Ia sukses menceploskan bola sebanyak lima kali. Kontra Panama, striker Tottenham itu bahkan mencetak hat-trick.

Sayang, ia gagal mengulang performa impresifnya di laga-laga berikutnya. Hanya satu gol yang ia lesakkan ke gawang lawan, tepatnya saat bersua Kolombia di 16 besar.

Klik: Southgate Ungkap Rahasia Skema Bola Mati Inggris

Hal positif yang bisa dipetik adalah, Inggris kini praktis tidak begitu mengandalkan Kane seorang. Saat ia kesulitan menembus pertahanan lawan, masih ada lini kedua yang siap membantu, bahkan bek pun bisa mencetak gol.

Stones dan Maguire menjadi bukti betapa tiap lini Inggris juga bisa membahayakan. Di sektor gelandang, Jesse Lingard dan Dele Alli pun bisa diandalkan. Keempat pemain yang disebutkan di atas masing-masing telah mencetak satu gol.

3. Kiper Bisa Diandalkan
Tidak banyak kiper Inggris yang bisa dikenang karena kepiawaiannya menjaga gawang. Peter Shilton dan David Seaman bisa dianggap era keemasan yang belum ada penggantinya. Paul Robinson, David James, sampai Joe Hart gagal bermain konsisten.

Tapi siapa sangka, kiper yang gagal membawa Sunderland selamat dari jurang degradasi dua musim lalu, Jordan Pickford, kini muncul sebagai The Guardian Angel. Pria berusia 24 tahun itu itu bermain sangat baik, terutama di laga kontra Kolombia dan Swedia.

Menghadapi Swedia, kiper Everton itu melakukan tiga penyelamatan krusial. Pertama, ketika ia mengadang sundulan Marcus Berg. Berikutnya, lagi-lagi Berg, melepas tendangan keras ke pojok kiri atas gawang. Pickford masih bisa menjangkau dan mencegah bola menggetarkan jala gawangnya, pun dengan peluang emas John Guidetti di menit-menit akhir pertandingan.

Masih akan ditunggu penampilan Pickford di semifinal menghadapi Kroasia. Ivan Perisic, Mario Mandzukic, sampai Ante Rebic bakal menjadi monster kotak penalti. Butuh konsistensi dari Pickford untuk membuktikan bahwa memang dialah Guardian Angel milik Inggris.

Video: Intip Sibur Arena Stadion Tercantik di Rusia, #SalamdariRusia
 


(ACF)


Deschamps Berharap Pemain Prancis Raih Ballon d'Or
Timnas Prancis

Deschamps Berharap Pemain Prancis Raih Ballon d'Or

3 hours Ago

Meski demikian ia percaya pemenang Ballon d'Or dalam 10 edisi sebelumnya, Lionel Messi dan …

BERITA LAINNYA
Video /