Opini Piala Dunia 2018

Berharap Tim Samba Memuaskan Dahaga Saya

Abdul Kohar    •    05 Juni 2018 17:17 WIB
timnas brasilpiala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Berharap Tim Samba Memuaskan Dahaga Saya
Skuat Timnas Brasil saat bersiap melakoni laga uji coba jelang Piala Dunia 2018 (Foto: edailysports.com)

SAYA selalu terpikat dengan timnas Brasil di hampir semua ajang kompetisi sepak bola. Begitu juga dengan di perhelatan Piala Dunia 2018 Rusia kali ini.

Mungkin karena saya kelewat jatuh cinta kepada jogo bonito-nya Selecao. Di kaki para pemain Brasil, sepak bola tak cuma serupa tarian indah, tapi sudah menjelma menjadi sihir.

Kalau diamsalkan nyanyian, permainan Brasil kadang seperti Bohemian Rhapsody-nya Queen yang indah dengan not-not agak rumit dan tidak terduga, tapi bisa juga menyerupai Sweet Child O'mine milik Guns n Roses yang manis. Bahkan, bisa juga seperti Dangdut Terajana-nya Rhoma Irama dan Soneta yang asyik dibuat goyang.
 

Baca: 11 Bintang Tim Sakit Hati Piala Dunia 2018


Saya memang penyuka, bahkan pemuja, sepak bola indah. Kadang tidak terlalu peduli hasil akhir.

Untungnya, Tim Samba kali ini tidak sekadar mempertontonkan keindahan seni sepak bola. Di bawah asuhan Adenor Leonardo Bacchi, atau yang akrab dipanggil Tite, performa Brasil luar biasa.

Mantan pelatih klub Corinthians tersebut sanggup membawa Brasil lolos ke Piala Dunia 2018 dengan meyakinkan. Mereka cuma kalah sekali dalam 18 pertandingan yang dijalani, laga lainnya selesai dengan lima hasil imbang dan 12 kemenangan.


(Aksi Tite saat memimpin sesi latihan Timnas Brasil. Foto: AFP PHOTO / Oli SCARFF)

Bukan sekadar solid, Brasil juga tampil produktif. Mereka sanggup mencetak 41 gol, sekaligus juga bisa bertahan dengan baik karena cuma kebobolan 11 kali.

Tidak mengherankan bila entrenador Manchester United Jose Mourinho menilai bahwa tim Brasil kini tak cuma mengandalkan talenta besar, tapi juga didukung dengan fisik dan taktik yang oke.

"Saya sangat menyukai struktur dasar timnas Brasil, taktiknya, dan mentalitasnya. Ada perpaduan antara talenta alami Brasil dan pendekatan serius fisik serta taktik," kata Mourinho dalam sebuah kesempatan wawancara di ESPN.

Mereka merupakan tim yang bisa bertahan dengan baik, bisa mencetak banyak gol dengan dasar dukungan yang bagus. "Lalu, dengan para pemain seperti Willian, Neymar, Coutinho, dan Jesus, mereka semua merupakan pemain dengan kualitas luar biasa," Mou menegaskan.

Tapi, entah kenapa, saya masih kerap merindukan Timnas Brasil seperti era Falcao cs di Piala Dunia 1982. Wajar belaka bila saya merindukan situasi seperti itu karena menurut saya, di bawah besutan para pelatih pasca Piala Dunia 1982 termasuk saat ditangani Carlos Dunga dan Luiz Felipe Scolari, ada yang hilang dari DNA Tim Samba.

Tite, pelatih berusia 56 tahun, itu hendak memulihkan kebanggaan negaranya dengan lolos secara meyakinkan ke putaran final Piala Dunia 2018 dari babak kualifikasi Zona Amerika Selatan.

Timnas Brasil menang delapan kali beruntun dalam babak kualifikasi dan menjadi tim pertama yang lolos ke Rusia 2018, selain tuan rumah. Itu semua diraih dengan memerhatikan jogo bonito, kendati belum sesempurna tim 1982.

"Tite adalah seorang pelatih hebat, salah satu yang terbak di dunia. Ia hanya tidak punya status seperti (Pep) Guardiola dan (Jose) Mourinho karena ia tidak berada di Eropa," kata Neto, mantan pemain Timnas Brasil yang kini menjadi komentator sepak bola.

Tite mengambil alih jabatan pelatih Brasil pada Juni 2016 setelah Brasil tersingkir dari Piala Amerika Selatan dan terpuruk di urutan keenam babak kualifikasi Piala Dunia Rusia 2018.

Tite membalikkan keadaan tim Selecao secara fantastis: menjadi tim pertama yang lolos kualifikasi ke Rusia selain tuan rumah, pada Maret 2017. Ia membenahi kekuatan tim Brasil setelah kalah telak 1-7 dari Jerman pada babak semifinal Piala Dunia 2014 di bawah asuhan Dunga.

"Seorang pelatih harus tahu mesinnya. Berapa banyak yang bisa dibutuhkan dan cara kerjanya. Tahu bagian mana yang bisa Anda pacu lebih keras,” kata Tite saat ditanya ihwal resepnya 'menyulap' Selecao.

Dalam rentang waktu 18 bulan, Tite telah mengembalikan spirit yang kian lama menghilang di tim Brasil.

“Yang paling memesona saya adalah Brasil tahun 1982.  Mereka bermain hampir seperti tanpa berpikir lagi (semuanya mengalir),” kata Tite.



Ia menambahkan, "Skuat saat itu begitu mengesankan. (Roberto) Falcao, Socrates, (Toninho) Cerezo, dan Zico. Saya melihat tim itu dan saya berpikir betapa indahnya bermain sepak bola."

Klop dengan selera saya. Tapi, Tite juga tahu persis bahwa tim Brasil yang dari sudut kualitas permainan, keterampilan individu, dan daya pikat yang begitu hebat pada Piala Dunia 1982 bisa tersingkir. Para pemuja sepak bola indah serempak meratap ketika tim yang sangat artistik itu akhirnya tersungkur setelah dikalahkan Italia dengan pertahanan yang kuat dan serangan balik bak badai yang dahsyat.

Hal itu juga yang membuat Tite masih tergoda akan imajinasinya bahwa untuk membuat tim Brasil seperti era Zico dan kawan-kawan 1982 bukan cara terbaik dalam sepak bola modern sekarang. Ia tetap terusik dengan pakem 'harus ada keseimbangan antara menyerang dan bertahan serta tahu kapan main cantik dan tampil efektif'.
 

Baca juga: Deretan Penampil Terbanyak Piala Dunia


Karena itu, saya juga mesti menyisakan ruang 'kekecewaan' jika toh pada akhirnya Tite memilih sepak bola efektif di Piala Dunia kali ini. Bagaimana pun ia dibebani target kemenangan, agar gelar kampiun sepak bola sejagat yang terakhir mereka genggam pada Piala Dunia 2002 bisa mereka rengkuh lagi di Rusia, kali ini.

Apa boleh buat, melulu bermain cantik belum pernah teruji membuahkan hasil juara. Tidak juga Timnas Brasil di 1982, juga Timnas Belanda di era Johan Cruyff. Hanya Timnas Spanyol di era Xavi Hernandez dkk yang mencoba nembuktikannya lewat tiki taka di Piala Dunia 2010, tapi tak sepenuhnya berhikmad pada sepak bola indah.

Saya berharap Tite, melalui Neymar dkk, sanggup mencetak sejarah di pesta bola Rusia 2018 kali ini. Kalau pun tidak juara, ya minimal bisa di partai puncak, agar dahaga saya terpenuhi. (berbagai sumber).

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Legenda Perancis di Piala Dunia



(ACF)


Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl
Uji Coba Timnas Indonesia vs Hong Kong

Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl

5 days Ago

Terakhir, Andik tampil saat Timnas Indonesia melakoni uji coba melawan Islandia pada 14 Januari…

BERITA LAINNYA
Video /