Opini Piala Dunia 2018

Antibola Sambut Piala Dunia

Sobih AW Adnan    •    07 Juni 2018 17:20 WIB
piala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Antibola Sambut Piala Dunia
Salah seorang fan menangis bahagia usai menyaksikan timnas Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 (Foto: AFP PHOTO / JOHANNES EISELE)

SAYA adalah satu dari segelintir orang yang tidak gandrung sepak bola. Betapa tidak, merujuk riset Nielsen Sport 2017, sebanyak 77 persen penduduk di Indonesia (sudah termasuk laki-laki dan perempuan) memiliki ketertarikan khusus kepada si kulit bundar. Itu pun, belum menghitung ulang barang kali dalam setahun belakangan; sisa 23 persennya telah berpindah 'iman' dan mulai tumbuh kegemaran.

Akan tetapi, saya tak ambil pusing. Berada di luar obrolan olahraga -yang konon- paling disukai manusia sejagat ini justru membuat saya banyak belajar ihwal bagaimana rasanya menjadi minoritas. Terlebih, jelang perhelatan Piala Dunia 2018 yang katanya digelar di Rusia, kampung halaman Lev Davidovich Bronstein alias Leon Trotski, penulis The Permanent Revolution and Results and Prospects (2004) yang saya baca secara sembunyi-sembunyi ketika masih menyandang status sebagai santri.

Saya minoritas, tetapi tetap pede dan tak sepi ide. Bagi yang senasib sepenanggungan, tak usah khawatir. Ada banyak cara bagi kita untuk tetap bisa menyambut hajatan raya ini tanpa harus sok-sokan suka, atau mendadak belaga gila bola. 

Toh, berpura-pura gila itu jauh lebih sulit ketimbang sudah gila dari sononya.

Intinya, mari kita sedikit berikhtiar untuk tetap tampak sebagai manusia normal sepanjang sebulan penuh piala dunia diselenggarakan. Dan berikut saya bisikkan beberapa kuncinya;

Kenali warna tim
Saya tumbuh di lingkungan santri. Tentu, makin terpojok. Sebab, di pesantren, nyolong-nyolong nonton pertandingan sepak bola dianggap obat paling mujarab untuk mengurangi beban hafalan yang tengah mendera. Kadar kemanjurannya, satu tingkat di atas obat sakit kepala yang katanya bisa diminum kapan saja.

Alhasil, jika hari-hari biasa; umumnya dilarang, sepak bola menjadi pilihan utama yang disentuh ketika masuk masa liburan.

Sepak bola memang keterlaluan. Di wilayah paling muasal sekali pun, saya dibuatnya tak punya tempat. Beruntung, di beberapa tradisi lain masih ada yang menghukumi sepak bola sebagai barang makruh. Yakni, ketika teknik mainnya dihubung-hubungkan dengan peristiwa duka Karbala. 

Belum lagi, saya anak ke enam dari tujuh bersaudara. Empat dari saudara sekandung adalah penggemar sepak bola. Sementara sisa dua orangnya, perempuan, selain sebagaimana keumumannya yang tak punya ketertarikan, mereka juga lebih memilih menyibukkan diri dengan seabrek agenda jamiyahan.

Seorang kawan pernah membocorkan bahwa "selemah-lemahnya iman" dalam sepak bola adalah mengetahui warna seragam -saya tidak fasih menyebut jersey- dari tim yang bertanding.

Soal ini, ingat pula dengan kelakar sahabat sekampung bernama Mubarok Hasanuddin. Ia putra Kiai Hasanuddin Busyrol Karim, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon, Jawa Barat. Suatu hari, ketika sedang seru-serunya menyimak laga Liverpool vs Manchester United, tiba-tiba sang ayah iseng bertanya;

"Apa lawan apa ini?"

"MU, Pak, lawan Liverpool."

"Yang merah apa?"

"MU."

"Yang putih?"

"Ya Liverpool, Pak. Kan tadi saya bilang MU lawan Liverpool, tidak ada tim lain."


Selain bermaksud mengerjai anaknya yang begitu khusyuk memelototi sebabak pertarungan Liga Inggris, Kiai Hasan, jangan-jangan memang sedang mengajari orang-orang seperti saya; setidaknya tentang tiga hal.

Pertama, tak suka bukan berarti malas bertanya. Kedua, biasakanlah bertanya sampai saksama. Dan yang ketiga, pertanyaan Kiai Hasan ini bisa dijadikan poin kuisioner survei untuk mengukur tingkat emosional para penggila bola.

Jika bukan Kiai Hasan, sudah nyaris pasti dijawab dengan nada tinggi, atau diabaikan lantaran cukup mengesalkan.

Akhirnya, di kancah persepak-bolaan, saya merasa tak nista-nista amat. Saya masih cukup tahu bahwa seragam tim Brasil yang berwarna kuning itu lazim disebut Amarelinha. Sementara setitik warna hijau di bagian kerah diambil dari semangat hutan hujan, bukan pohon beringin.

Atau, dominasi merah pada jersey Rusia. Jika saja lambang burung di dada sebelah kirinya tak terdiri dari dua kepala, niscaya ia menjelma saudara kembar tim Indonesia.

Mengenali warna seragam tim juga ternyata tak cukup sekali. Perlu tahu istilah kandang-tandang yang memungkinkan suatu tim berlaga dengan seragam yang berbeda dari biasanya.

Membekali diri dengan pengetahuan warna-warna seragam tim juga menghindarkan "minoritas" dari kejadian konyol. Ambil misal, ketika diajak nobar, paling tidak ia bisa membedakan apakah itu gol bunuh diri atau gol kemenangan. Jangan sampai berteriak sendirian.

Bersikap jujur
Sekali lagi, tak menyukai sepak bola bukan perkara salah. Tak ada pasal yang mengharuskannya wajib lapor ke Polsek atau Koramil terdekat.

Ketidaksukaan, bahkan ketidakpahaman tentang sepak bola merupakan fitrah sebagian manusia. Sebagaimana kecantikan perempuan yang kerap kali dinilai relatif, suka-tidak suka juga merupakan hak preogatif.

Yang keliru adalah ketika seseorang justru menentang jati diri yang telah dimiliki. Atau sebaliknya, satu orang mendesak satu lainnya untuk mempunyai kegemaran yang sama.

Bukan cuma sepak bola. Disadari atau tidak, banyak perkara pribadi lain yang sering kali disulap menjadi kaca mata untuk menilai seseorang. 

Contoh sepelenya, kawan sekantor, Mohammad Adam yang sudah didengar ke-27 kalinya dalam tiga bulan terakhir mengatakan, "Ngopi itu ya tanpa gula. Kalau pakai gula, itu sirup!"

Lah, bagaimana bisa definisi barang ditentukan lidah sendiri? Sebelum mengkritik jamiyah kopi manis, mestinya dia menghimpun massa sebanyak-banyaknya untuk mendemo pabrik kopi saset. Terus perjuangkan aspirasinya sampai tulisan "Kopi + Gula" diganti "Sirup" saja.

Atau komentar Damang "Coki" Lubis, penulis indepth yang kepincut mati-matian terhadap gim Mobile Legend. Di saat dia sedang mokswa dengan kawan seminatnya, pasti melirik saya yang tengah melongo, lalu sesumbar bilang, "Sudah, main ludo saja sana."

Alhasil, menghargai keberagaman selera manusia adalah bagian dari kejujuran. Terlebih ihwal sepak bola, kehadiran piala dunia jangan sampai menjadikan non-penggila si kulit bundar gusar. Tak boleh ada paksaan, mirip warteg di siang bolong Ramadan yang seolah mengharuskannya memasang tirai.

Di "bulan suci" piala dunia, manusia harus tetap saling menghormati.

Dan lain sebagainya
Soal kegemaran terhadap sepak bola, ada satu hal yang dianggap layak untuk bikin saya malu. Yakni, ketidak-sanggupan saya menapaki jalan hidup sang idola, Allah yarham KH Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid. 

Sudah amat masyhur, Gus Dur yang politisi, kiai, dan guru bangsa begitu fasih kala berbicara tentang bola. Sampai-sampai, ada buku khusus yang berisi kumpulan analisa almarhum tentang si kulit bundar, yaitu Gus Dur dan Sepak Bola: Kumpulan Kolom-Kolom Gus Dur tentang Sepak Bola (2014).

Yang menarik, dalam artikel-artikel yang ia tulis sejak 1970-an, Gus Dur begitu lincah mengait-pautkan sebabak pertandingan dengan potret sosial, politik, ekonomi, demokrasi, atau apapun yang dianggap dekat dan hadir di tengah masyarakat. 
 

Sebuah pelajaran penting... bagi upaya demokratisasi kehidupan bangsa. Perkembangan keadaan senantiasa dihadapi dengan sikap yang dewasa, bukannya secara emosional. Dahulu dapat dilakukan sikap "menyerang" melalui pernyataan yang bernada garang dan analisis keadaan secara apa adanya saja. Ini memelihara kehadiran perjuangan sendiri saja rasanya sudah cukup beruntung... "Sikap bertahan" untuk mengadakan perubahan sosial melalui strategi sosio kultural yang berwatak gradual lalu menjadi kebutuhan yang wajar. Asal saja tidak bergeser dari upaya menumbuhkan demokrasi, menegakkan kedaulatan hukum dan mengusahakan keadilan sosial. Untuk tujuan tersebut, cara "adu penalti" sekali pun harus dapat dimainkan oleh mereka yang menginginkan Indonesia baik di masa depan. 


Gus Dur, menyulap kegandrungannya terhadap sepak bola menjadi jalan kritik. Gus Dur juga, sering memetaforakan sepak bola dengan perilaku dan drama dalam perpolitikan kita.

"Tipe bola menyerang yang sekarang demikian canggih dikembangkan, termasuk akal-akalan, pura-pura jatuh oleh pemain kelas dunia untuk menghasilkan penalti, dan bisa memunculkan pola pertahanan total yang berwatak pasif di masa depan, kalau tidak ditemukan perpaduan dengan serangan tajam," tulis Gus Dur, masih dalam buku yang sama.

Di sisi lain, kemahiran Gus Dur menyasarkan pertandingan sepak bola pada banyak aspek ini membuka peluang bagi kaum "minoritas" di tengah perhelatan piala dunia. Boleh jadi, mereka para penggila yang berpikiran terbuka, akan membutuhkan kegemaran kita dalam bidang lain. 

Maka, seperti Gus Dur, rawatlah keandalan kita dalam tema-tema non-bola. Misal, agama, politik, ekonomi, budaya, demokrasi, musik, komparasi olahraga lain, bahkan mungkin, berhubungan pula dengan bidang kuliner dan tata boga.

Mengenang Gus Dur, meneguhkan bahwa kegandrungan terhadap sepak bola tak berdiri sendirian. Musabab sepak bola dijuluki "The Beautiful Game" pun tak lepas dari keberadaannya yang dibentuk dari banyak aspek, lantas diorkrestasi menjadi sesuatu yang harmonis.

Terakhir, ada satu artikel bola yang ditulis Gus Dur pada 1978 dengan judul "Si Awam dan Piala Dunia". Dari tajuk yang dipakai, status sebagai non-penggila bola bukan sesuatu yang menghalangi kita untuk turut serta dalam menyambut dan mengomentari negara-negara yang berlaga di lapangan dan layar kaca.

*Santri dan jurnalis, yang jelas tidak berminat meliput pertandingan sepak bola.




(ACF)


Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid
Lionel Messi

Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid

1 week Ago

Kapten timnas Argentina itu tak memedulikan berapa pun hasil yang diraih Madrid dalam menghadap…

BERITA LAINNYA
Video /