Jalani Rekonstruksi, Novel Diterbangkan Ke Bengkulu

Desi Angriani    •    01 Mei 2015 16:56 WIB
novel baswedan
Jalani Rekonstruksi, Novel Diterbangkan Ke Bengkulu
Novel Baswedan. Foto: Wahyu Putro A/Antara

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan diterbangkan ke Bengkulu sore ini. Dia akan  menjalani rekonstruksi kasus yang menyeretnya.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, Novel diterbangkan menggunakan pesawat khusus Polri dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, pukul 16.00 WIB tadi.

"Pukul 16.00 WIB berangkat pakai pesawat khusus polri dari Bandara Halim. Sampai sana, nanti malam pukul 19.00 WIB," katanya seusai menerima Wakil Presiden Jusuf Kalla di Gedung Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat (1/5/2015).

Pukul 00.30 WIB nanti, lanjut dia, nasib Novel diputuskan, ditahan atau tidak. Untuk itu, ia berharap sepupu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan itu kooperatif selama proses rekontruksi.

"Pukul 00.30 WIB batas akhirnya. Saya berharap bisa kooperatif untuk menyelesaikan semua apa yang bisa dituntut," pungkas dia.

Sekadar diketahui, Bareskrim dini hari tadi menjemput paksa Novel dari rumahnya di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Setelah diperiksa hampir 10 jam, Novel dipindahkan ke Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob, Depok.

Penangkapan ini selang dua hari setelah seorang anggota Polsek Menteng, Brigadir Agung Krisdiyanto dalam kasus suap Adriansyah. Agung yang adalah kurir suap Andrew Hidayat itu diperiksa hampir 11 jam, pada Rabu 29 April lalu. Dalam kasus itu, Novel disebut-sebut salah satu penyidiknya.

Novel dilaporkan atas kasus dugaan penganiayaan pencuri sarang burung walet di Bengkulu pada 2004. Saat kasus itu terjadi, Novel menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu. Ia dituding terlibat dalam penganiyaan dan penembakan pelaku pencuri. Untuk diketahui, kasus dengan ancaman hukuman lebih dari tiga tahun otomatis kadaluarsa dalam jangka waktu 12 tahun.

Kasus ini sempat diusut pada 2012 saat konflik Polri dan KPK. Namun polisi menghentikan penyidikan setelah Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono meminta konflik KPK-Polri diselesaikan. Salah satunya, polisi diperintahkan untuk tak melanjutkan kasus ini.


(KRI)

Video /