Dijemput Paksa, Ibunda Novel Tak Terima Perlakuan Penyidik

Desi Angriani    •    02 Mei 2015 20:22 WIB
novel baswedan
Dijemput Paksa, Ibunda Novel Tak Terima Perlakuan Penyidik
Novel Baswedan saat dibawa dari Bareskrim Mabes Polri--Antara/Retno Esnir

Metrotvnews.com, Jakarta: Ibunda Novel Baswedan, Fatma, tak terima dengan cara penyidik Bareskrim Mabes Polri yang menjemput paksa Novel Baswedan. Penyidik KPK ini dijemput paksa di kediamannnya, pada Jumat 1 Mei dini hari itu.

"Kalau Pak Novel enggak bekerja berat, boleh dikriminalisasi. Santai-santai saja boleh. Jangan seperti itu (dijemput paksa)," kata Fatma kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (2/5/2015).

Menurut Fatma, Novel dua kali mangkir saat dipanggil Bareskrim lantaran tengah menjalankan tugasnya sebagai penyidik KPK. Fatma semakin geram saat tahu Bareskrim menyita barang-barang yang bukan merupakan barang bukti dari kasus yang menjerat putranya. 

"Gambar anak anak, buku, fotokopian KTP, surat rumah, angsuran rumah, laptop anak," beber dia.

Sebelumnya, Muji Kartika Rahayu selaku kuasa hukum Novel menuding penyidik bareskrim melakukan cacat administrasi saat menggeledah dan menyita harta kliennya.

"Tidak ada surat penggeledahan ke rumah Novel Baswedan dan surat penyitaan barang-barang pribadi milik Novel, istrinya, dan anaknya. Surat penyitaan tidak disiapkan," kata dia kepada wartawan, pada Jumat 1 Mei.

Novel sebelumnya dijemput paksa di rumahnya, Jumat dini hari. Dia kemudian digelandang ke Mabes Polri buat menjalani pemeriksaan dalam kasus dugaan penganiayaan di Polda Bengkulu. Selang sembilan jam setelah diperiksa, Novel dibawa ke Mako Brimob untuk kemudian dibawa ke Bengkulu.

Disana, ia batal menjalani rekontruksi kasus dugaan penganiayaan pencuri sarang burung walet pada 2004 silam saat menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu. Ia pun mendapat penangguhan penahanan dari Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

Kemudian ia diterbangkan dari Bengkulu dan digiring kembali ke Bareskrim Mabes Polri sebelum dipulangkan ke KPK.

Kasus ini sempat diusut pada 2012 saat konflik Polri dan KPK. Namun polisi menghentikan penyidikan setelah Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono meminta konflik KPK-Polri diselesaikan. Salah satunya, polisi diperintahkan untuk tak melanjutkan kasus ini.

Sementara, Jokowi sudah memerintahkan kepada Kapolri untuk tidak menahan Novel. Dia tidak ingin proses 'rujuk' antara KPK-Polri terganggu.


(ICH)

Antara Riedl, Indonesia dan Label <i>Runner Up</i>
Piala AFF 2016

Antara Riedl, Indonesia dan Label Runner Up

11 minutes Ago

Sebelumnya sempat ada perjanjian jika Riedl gagal membawa Indonesia juara AFF, kontrak tiga tah…

BERITA LAINNYA
Video /