Feature

Bukan Soal Rangkasbitung, Tetapi Eddie Van Halen dan Warisannya

Adi Waluyo    •    07 Mei 2015 12:40 WIB
feature showbiz
Bukan Soal Rangkasbitung, Tetapi Eddie Van Halen dan Warisannya
Eddie Van Halen (celana merah) 8 Februari 2012 di Forum in Inglewood, California. Foto: AFP/Kevin Winter

ANDA bisa menyaksikan wawancara Eddie van Halen yang bercerita sedikit soal Rangkasbitung di Youtube, dalam sebuah wawancara di sebuah studio yang latarnya memakai kain-kain batik menggantung.


Eddie & Alex van Halen diwawancarai David Lee Roth. (Foto: i.ytimg)

Tetapi kali ini bukan itu yang akan kita bicarakan. Kita akan menyusuri sosok Eddie sebagai tonggak rock modern.

Mari kita mulai. Berdirinya Van Halen bisa dianggap sebagai tonggak peralihan dari klasik rock ke modern rock. Eddie Van Halen, sang gitaris yang eksentrik itu, begitu banyak memberikan sumbangan pemikiran berharga bagi musik rock.

Paling tidak, ada tiga warisan penting Van Halen di dunia musik yang masih terus terpelihara hingga saat ini. Karena alasan inilah, tak salah kalau Eddie Van Halen layak disebut sang inovator.

Yang pertama, musik Van Halen yang bernada positif adalah sesuatu yang baru bila dibandingkan dengan era heavy metal dan hard rock yang kental dengan nuansa suram. Lagu Dance The Night Away dari album Van Halen II (1979) adalah prototype sentuhan 'manis' Van Halen dalam musik rock, yang berperan besar melahirkan sebuah genre baru dalam musik rock, pop rock. Inilah cikal bakal musik yang diusung band-band sesudahnya, seperti Bon Jovi dan Mr. Big.

Yang kedua, teknik permainan gitar dan skill gitar Eddie Van Halen di lagu instrumental Eruption dari debut album mereka, Van Halen (1978) menjadi monumen lahirnya sebuah generasi gitaris baru. Teknik gitaran Eddie membuat orang berpikir bahwa ternyata gitar bisa dimainkan dengan 'tanpa batasan'.

Kerangka gitar heavy metal dan hard rock yang telah disusun oleh para penggawa gitar legendaris macam Jimi Hendrix, Eric Clapton, Jeff Beck, Jimmy Page, dan Ritchie Blackmore telah 'dilampaui' Eddie.

Seperti para pendahulunya, Eddie memang masih mematuhi pakem gitar rock tradisional, yang merupakan paduan blues dan rock 'n' roll. Namun cara ia memainkannya yang membuat orang berdecak kagum.

"Aku suka lagu-lagu klasik Eric Clapton, sebelum ia mulai bernyanyi. Aku bahkan bisa menyenandungkannya, karena telah tertanam di kepalaku. Sangat sederhana, kau ambil sebuah Les Paul dan mencolokkan kabelnya ke ampil Marshall. Just the basic," tutur Eddie dalam sebuah wawancara.

"Aku selalu mengatakan bahwa Eric Clapton adalah pengaruh terbesarku. Tapi bila kau menyimak permainanku, lebih mirip dengan permainan Jimmy Page-dengan caraku sendiri tentunya," imbuhnya.

Two Handed Tapping, sebagian besar gitaris menganggap ini adalah teknik yang diciptakan oleh Eddie Van Halen. Namun kenyataan yang sebenarnya tidaklah demikian.

"Kukira, aku mendapat ide melakukan tapping setelah melihat Jimmy Page memainkan solo Heartbreaker di tahun 1971. Dia melakukan pull-off pada sebuah open string, dan aku berpikir, open string...pull off. Aku bisa melakukannya, tapi bagaimana jika aku menggunakan jariku sebagai nut dan menggesernya kesana-kemari? Jadi aku mengambilnya (teknik Jimmy Page) dan memainkannya dengan cepat," jelas Eddie.

Dasar-dasar dari teknik tapping memang telah dicontohkan oleh para gitaris jempolan sejak tahun 50 - 70 an. Mulai dari George Van Eps, Duane Allman, Frank Zappa, Ace Frehley, ZZ Top, Harvey Mandel, hingga Steve Hackett.

Tapi tak bisa dipungkiri, teknik two handed tapping yang dipakai Eddie dalam Eruption telah membuka cakrawala baru dalam bermain gitar. Dengan teknik ini, praktis jari-jari di kedua tangan seorang gitaris bisa bergerak lebih leluasa menjelajahi fretboard dan dengan kecepatan yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Sayangnya, begitu banyak gitaris sesudah era Eddie Van Halen, hanya tertarik pada aspek tekniknya saja. Bagi mereka, yang kini populer dengan sebutan shredders, asal bisa bermain gitar secepat kilat itu sudah cukup. Tujuan mereka, membuat penonton konser melongo melihat aksi akrobat mereka.

Permainan gitar para shredders memang asyik untuk ditonton, namun hambar untuk dinikmati, karena tak punya 'jiwa', tak bisa membangkitkan emosi. Mereka lupa, bahwa secepat apapun Eddie mencabik senar gitarnya, ia tetap 'meniupkan napas' pada musiknya. Selalu ada feel di lagu-lagu Van Halen. Inilah aturan baku yang tetap dipegang teguh Eddie dari para pendahulunya.

Pencetus Generasi Pointy Guitar

Frankenstrat, boleh dibilang adalah gitar Eddie Van Halen yang paling termasyhur. Awalnya, Eddie ingin memiliki gitar dengan tone sebulat dan selembut Gibson tapi punya attack segalak Fender. Akhirnya, ia menggabungkan Gibson PAF humbucker pick up dengan body Stratocaster Fender dan melengkapinya dengan Floyd Rose tremolo.

Eddie membangun gitar Frankenstrat-nya dari Fender replika, dengan ash body dan maple neck, seharga USD130 yang dibelinya dari Wayne Charvel dan Lynn Ellsworth. Ia pun memasang pick up Gibson PAF (patent applied for) yang dicopotnya dari Gibson ES-335 miliknya.

Sepintas, Eddie ingin membuat desain gitar yang sederhana dan efektif. Namun menurut pengakuannya sendiri, 'kesederhanaan' itu adalah hasil dari kurangnya pengetahuan Eddie soal sirkuit elektronik, skill menyolder yang masih primitif, dan keputusasaannya tak menemukan kombinasi yang pas antara pick up bridge dan neck. Bahkan saat memasang humbucker ke gitarnya, ia tak tahu bagaimana menyambungnya dengan sirkuit elektronik di gitarnya. Akhirnya, ia merangkai sirkuit paling sederhana agar pick up itu berfungsi.

Setelah selesai, Eddie mengecat body gitarnya dengan warna hitam. Setelah kering, ia menempelkan masking tape kemudian mengecatnya dengan warna putih. Hasilnya, gitar warna hitam dengan kombinasi pola garis-garis putih. Inilah desain klasik gitar Frankenstrat.

Eddie juga menempelkan logo Gibson di headstock gitarnya, untuk menekankan bahwa gitar ini adalah hasil persilangan Gibson dan Fender.


Eddie dan gitar Frankenstratnya di Smithsonian’s National Museum of American History, Washington  12 Februari 2015. Foto: Owen Sweeney

Dengan semakin meroketnya popularitas Eddie sebagai jawara gitar yang baru dan debut album Van Halen yang meledak di pasar di akhir 70-an dan awal 80-an, banyak produsen mulai memproduksi gitar dengan motif cat yang sama (hitam garis-garis putih) dan membuat replika Frankenstrat.

Saat itu, signature guitar series belum muncul. Eddie yang kesal karena tak memperoleh kompensasi dari pembajakan ini, mencoba 'menipu' para produsen gitar. Ia memasang pick up single coil merah di neck dan memasang three way selector di gitarnya. Semua itu tak berfungsi, hanya sebagai dekorasi untuk mengelabui para imitatornya.  Akhirnya, Eddie memutuskan berhenti memakai gitar Frankenstrat saat tampil di depan publik.

Ia mulai menggunakan gitar Bumblebee, yang punya motif sama namun punya warna berbeda (hitam dan kuning). Charvel Bumblebee ini juga yang didekap gitaris Pantera Dimebag Darrel dalam pusaranya. Eddie begitu bersedih saat sahabatnya, Dimebag, tewas dibunuh. Ia pun meletakkan gitar kesayangannya itu dalam pelukan Dimebag sebagai kenang-kenangan terakhir.

Charvel Bumblebee telah dipakai Eddie untuk merekam album Van Halen II. Setelah beberapa waktu, ia tak puas dengan performa suaranya. Eddie pun melirik kembali gitar Frankenstrat-nya. Kali ini, ia mengganti warna hitam dengan warna merah. Eddie memperoleh inspirasinya dari sepeda Schwinn.

"(Warna merah) cat sepeda Schwinn memberinya (Frankenstrat) sentuhan 'pop'," ujar Eddie.

Jangan anggap remeh gitar yang terkesan dibuat asal-asalan ini. Kombinasi pick up humbucker dan single coil menjadi basis desain gitar listrik paling populer di dunia urutan ketiga, Ibanez. Fender sendiri mulai meluncurkan seri HSS, yang menggunakan humbucker sebagai bridge pick up-nya.  

Inilah warisan Eddie Van Halen yang ketiga untuk musik rock.

Eddie Van Halen, sang inovator, hingga kini telah memegang 3 hak paten (US Patent), yaitu guitar support device (US 4656917), yang memungkinkannya memainkan gitar seperti seorang pianist. Kemudian D Tuna Floyd Rose (US 7183475), yang mempermudah tuning senar E bawah turun full satu step, menjadi D (drop D tuning). Eddie juga pemegang hak paten D388117 untuk desain headstock gitar EVH Wofgang-nya.

Eddie Van Halen lahir di Nijmegen, Belanda pada 26 Januari 1955. Eddie punya darah Indonesia yang diwarisinya dari ibunya, Eugena van Halen. Eugena, yang campuran Belanda dan Indonesia, lahir di Rangkasbitung, Banten.

Bakat musik Eddie nampaknya menurun dari ayahnya yang mahir bermain klarinet, saxofon, dan piano. Nama tengah Eddie, Lodewijk, diambil dari nama komposer terkenal Ludwig van Beethoven.

Dalam buku biografi visual Eddie Van Halen, yang menampilkan hasil jepretan fotografer kawakan Neil Zlozower, beberapa gitaris kampiun dunia memberikan kata sambutan. Salah satunya Angus Young (AC/DC). Angus menulis, "Eddie adalah seorang inovator. Ketika aku dibesarkan, musik rock memiliki banyak pemain gitar yang hebat dari Inggris, seperti Jimmy Page, Eric Clapton, dan Jeff Beck. Dan kemudian, tentu saja, ketika Jimi Hendrix muncul, ia mengubah permainan."

"Aku akan menaruh Eddie dalam kategori inovator seperti Hendrix. Dia mengubah permainan dengan teknik gitarnya. Ketika Eddie muncul, ia melahirkan begitu banyak peniru. Seperti Hendrix, tiba-tiba Anda mulai melihat orang-orang yang ingin membeli gitar yang sama dengan yang ia pakai dan juga memainkan lick-nya. Eddie telah membalikkan aturan bermain gitar dengan pendekatannya. Ada banyak eksperimen dalam permainannya. Eddie juga telah melintasi batas paling tinggi dalam musik rock, yang menempatkan dia dalam kategori yang sama seperti Hendrix."


(AWP)

Kronologi Nihilnya Penjualan Tiket Timnas Indonesia di Markas Persikabo Bogor
Semifinal Leg 1 Piala AFF 2016: Indonesia vs Vietnam

Kronologi Nihilnya Penjualan Tiket Timnas Indonesia di Markas Persikabo Bogor

1 hour Ago

PSSI dan ketua Panpel laga Indonesia versus Vietnam memberikan penjelasan mengenai pendistribus…

BERITA LAINNYA
Video /