Menkeu: Ekonomi Tumbuh 5,4% Lebih Realistis

Irene Harty    •    13 Mei 2015 13:38 WIB
pertumbuhan ekonomi
Menkeu: Ekonomi Tumbuh 5,4% Lebih Realistis
Ilustrasi. Antara/Zabur Karuru

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menilai, perubahan asumsi pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari asumsi APBN Perubahan 2015, lebih realistis. "Sekarang ini kita lihat mungkin 5,4 persen lebih realistis," ujarnya usai memberikan sambutan seminar bertajuk 'Strategi Mewujudkan Arsitektur Sistem Keuangan dan Perbankan Nasional yang Tangguh', di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (13/5/2015).

Perubahan asumsi itu bukan berarti menurunkan asumsi pertumbuhan ekonomi tapi mengupayakan pertumbuhan ekonomi sebaik mungkin. Pertumbuhan diasumsikan 5,7 persen di APBN Perubahan 2015 memang sesuai dengan kondisi yang diproyeksikan saat itu.

Perubahan itu juga banyak dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang masih bergejolak. Tapi banyak pihak berpendapat sekali buta asumsi seolah-seolah tidak dapat berubah padahal ekonomi bergerak dinamis.

Tantangan kondisi global pula yang menyebabkan asumsi pertumbuhan ekonomi dunia menurun. "Prediksi pertumbuhan ekonomi global saat ini diturunkan dari 3,6 persen awal tahun menjadi 3,1 persen," tukasnya.

Perlambatan ekonomi itu melihat bahwa beberapa ekonomi besar seperti Tiongkok juga menurunkan asumsi pertumbuhan ekonominya menjadi sekitar 6 persen. Tiongkok, menurut Bambang juga sudah melakukan penurunan interest rate beberapa kali mengingat basis pertumbuhan pada konsumsi juga menurun.

Di sisi lain, normalisasi kebijakan moneter dianggap masih belum dapat dilakukan. "Banyak pihak di Amerika Serikat bilang belum stabil seperti dalam konteks pengurangan pengangguran jadi proses recovery jalan tapi belum stabil," ucapnya.

Hal itu juga dipengaruhi oleh gejala super dolar yang dikhawatirkan oleh Amerika Serikat dapat menggerus ekspor. Dengan begitu ada kemungkinan normalisasi suku bunga acuan akan diperkecil dari yang direncanakan.

"Itu pun tidak bisa terlalu lama karena cost nya tinggi," tambah Bambang. Dari Eropa, European Central Bank telah melakukan pembelian aset hingga 1,3 triliun Euro dari sebelumnya 26,2 miliar Euro per 18 Maret.

Guyuran dana juga datang dari Jepang yang juga sudah membeli aset mencapai 18,83 juta Yen. Akan tetapi guyuran dana tersebut dikatakan Bambang tidak akan berdampak pada naiknya harga komoditas.

"Itu karena ada vacuum cleaner dari Amerika Serikat yang berusaha menarik kembali dolar mereka," cetusnya. Dampak yang terjadi sekarang lebih netral meskipun negara emerging economy mendapat pengaruh cukup besar.

Kedepannya Jepang dilihat akan bersyukur bila terjadi inflasi, India meskipun pertumbuhan ekonomi baik tapi masih banyak kendala, lalu Tiongkok ekonominya masih melambat sekitar 6,84 persen, serta Rusia, Turki, Brasil, Afrika Selatan masih mengalami pertumbuhan negatif.


(WID)

Hadapi City, Napoli Diminta Istirahatkan Bintang
Jelang Manchester City vs Napoli

Hadapi City, Napoli Diminta Istirahatkan Bintang

6 hours Ago

Meski laga melawan City menjadi pertarungan penting, Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis just…

BERITA LAINNYA
Video /