Giliran Thailand Tolak Kapal Berisi Pengungsi Rohingya

Fajar Nugraha    •    15 Mei 2015 11:47 WIB
rohingya
Giliran Thailand Tolak Kapal Berisi Pengungsi Rohingya
Pengungsi Rohingya di atas kapal (Foto: BBC)

Metrotvnews.com, Bangkok: Angkatan Laut Thailand dikabarkan menolak kapal pengungsi Rohingya. Kapal tersebut saat ini dikabarkan tengah bergerak ke Indonesia.
 
Radio pemerintah Thailand melaporkan, kapal kayu berisi sekitar 400 orang tersebut hendak menuju negara ketiga. Tidak disebutkan negara tujuan dari pengungsi itu.
 
Kapal kayu itu ditemukan pada Kamis (14/5/2015) dekat selatan Pulau Koh Lipe, di Laut Andaman.  Isi kapal sangat penuh dengan para pengugsi Rohingya, termasuk anak-anak.
 
Pihak berwenang Thailand memperbaiki mesin dari kapal dan menyediakan makanan, air dan obat-obatan sebelum melepaskan kembali ke laut pada Jumat pagi waktu setempat. 
 
"Mereka yang di dalam kapal tidak ingin ke Thailand, jadi kami memberikan mereka makanan, obat, bahan bakar dan air bersih," ujar Komandan Veerapong Nakprasit, seperti dikutip Reuters, Jumat (15/5/2015).
 
"Kami sudah melakukan tugas kemanusiaan. Mereka ingin pergi ke negara ketiga. Mereka tidak ingin datang ke Thailand, jadi kami membiarkan mereka pergi. Ini bukan mengusir, karena orang-orang itu ingin pergi," lanjutnya.
 
Veerapong menambahkan, kapal itu tidak dikendalikan oleh kapten tetapi beberapa dari orang di atas kapal dilatih oleh nelayan Thailand untuk navigasi.
 
"Mereka dilatih sekitar tiga jam hingga bisa mengendalikan kapal. Mereka sangat menguasainya," imbuh Veerapong.
 
Sebelumnya pada Minggu 10 Mei 2015 terdapat 582 orang Rohingya yang masuk ke Aceh. Meskipun bukan negara yang meratifikasi perjanjian Konvensi Tentang Pengungsi, namun Indonesia menerima prinsip non-refoulement atau praktik tidak memaksa pengungsi atau pencari suaka untuk kembali ke negara di mana mereka bertanggung jawab untuk sasaran penganiayaan.
 
Selain itu adapula kapal pengungsi yang melintas Selat Malaka di waktu yang sama. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir pada 13 Mei 2015 mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi dari TNI Angkatan Laut yang salah satu kapalnya bertemu kapal pengungsi itu.
 
"Kapal pengungsi itu bertemu dengan KRI Sutanto yang berpatroli di Selat Malaka. Kapal itu berkeinginan tidak ingin ke Indonesia, tetapi mereka meminta bantuan air bersih dan makanan. Setelah mendapatkan bantuan itu diberikan, mereka pun berpisah," tegas Arrmanatha.
 
Prinsip ini di dasarkan atas Right Passage atau Prinsip Laut Damai di Selat Malaka. Prinsip itu membolehkan sebuah kapal untuk melanjutkan melintas dan Pemerintah Indonesia tidak bisa memaksa kapal itu berlabuh.



(FJR)

Video /