Polres Bakal Periksa Kejiwaan Bocah Pelaku Pembunuhan Sadis

   •    15 Mei 2015 22:38 WIB
kejahatan seks
Polres Bakal Periksa Kejiwaan Bocah Pelaku Pembunuhan Sadis
Ilustrasi

Metrotvnews.com, Mataram: Penyidik Kepolisian Resor (Polres) Sumbawa Barat berencana memeriksakan kondisi kejiwaan JJ, anak di bawah umur yang menjadi pelaku pembunuhan sadis terhadap M Ikram, bocah enam tahun di Sumbawa Barat, ke psikolog.

JJ diduga membunuh dan mensodomi M Ikram pada Rabu (13/5) dan sempat menyembunyikan jasad korban sehari semalam sebelum ditemukan pada Kamis (14/5) malam. (Baca: Bocah 12 Tahun Jadi Pelaku Pembunuhan Sadis)

Kasubag Humas Polres Sumbawa Barat Iptu Hofni Nevabureni yang dikonfirmasi Jum'at (15/5/2015) mengatakan, meski telah melakukan pembunuhan sadis, JJ tampak biasa saja tanpa beban. Ia terlihat asik bercanda dan main komputer dengan penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres.

Bocah yang sejak 2014 di keluarkan dari sekolahnya di salah satu sekolah dasar (SD) di Taliwang itu, pada saat kejadian baru berusia 12 tahun dua bulan dan 17 hari.

"JJ di keluarkan dari sekolahnya karena terlibat kasus pelecehan seksual terhadap temannya," ujar Hofni.

Kepada penyidik, JJ mengaku melakukan perbuatan sodomi karena terobsesi akibat sering nonton film porno di internet dan permainan online.

"Dari perilaku yang ditunjukkan itu, penyidik akan membawa JJ untuk diperiksakan kondisi kejiwaannya ke psikolog di Mataram," kata Hofni.

JJ sendiri tinggal di kos  bukan berasal dari keluarga tidak mampu. Ayah JJ, Er (52) merupakan karyawan bagian "training" di perusahaan tambang multi nasional di kecamatan Sekongkang.

Tidak heran kebutuhan hidup JJ sehari-hari tercukupi dengan baik. Di kamar kosnya, JJ juga dipasangkan jaringan internet, lengkap dengan laptop dan perangkat audio video, serta jaringan TV berlangganan. JJ sangat mahir bermain internet dan dapat dengan mudah mengakses situs-situs porno yang kemudian mempengaruhi orientasi seksualnya.

H Usman, pemilik kos-kosan tempat tinggal JJ, menyatakan sehari-hari JJ jarang keluar dari kamar, kecuali untuk sekolah. Er, ayah JJ sudah tinggal di kos-kosan tersebut selama 15 tahun, sejak JJ belum lahir. H Usman mengaku pernah mengusir Er dari kos-kosan miliknya tetapi yang bersangkutan tidak mau keluar.

"Sejak dikeluarkan dari sekolahnya pada 2014 lalu, JJ hanya tinggal di kamar. Berkomunikasi dengan penghuni kos yang lain juga jarang. Perilaku yang sama juga ditunjukkan ayahnya, meski sudah tinggal belasan tahun disini. Baru komunikasi dengan saya ketika akan berangkat keluar daerah untuk waktu cukup lama," kata Usman.

Meski demikian, sehari-hari JJ termasuk anak yang mandiri. Saat ayahnya masuk kerja malam dan berangkat ke luar kota untuk beberapa hari, JJ selalu ditinggal sendiri. Kondisi itu dialami sejak ayah dan ibunya bercerai sekitar dua tahun lalu.  Usman memperkirakan perceraian kedua orangtuanya ditambah didikan ayahnya yang keras mempengaruhi kondisi kejiwaan JJ.

"Kalau ayahnya pergi, ia ditinggal sendiri dan mengurus keperluannya sendiri, termasuk memasak. Mungkin karena sering ditinggal sendiri itu ia dengan leluasa mengakses internet karena fasilitas dalam kamarnya lengkap
dengan wifi dan laptop," ungkapnya. (antara)


(ALB)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

3 days Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /