Ratu dan Tahta di Eropa

Hardiat Dani Satria    •    16 Mei 2015 04:09 WIB
keraton yogyakarta
Ratu dan Tahta di Eropa
Ratu Elizabeth II. Foto: AFP/Justin Tallis

Metrotvnews.com, Jakarta: Keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Raja Keraton Yogyakarta pada tanggal 5 Mei 2015 yang mengubah nama putri sulungnya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi dinilai telah melanggar paugeran atau aturan internal keraton.  Keputusan ini  menimbulkan polemik di kerabat keraton dan di sejumlah kalangan masyarakat Yogyakarta.
 
Berdasarkan tradisi Keraton Yogyakarta, penggunaan gelar Mangkubumi hanya ditujukan untuk putra mahkota. Sehingga, penggantian nama putri sulung Sri Sultan menjadi GKR Mangkubumi dianggap telah menyalahi tradisi.
 
Sri Sultan HB X menyatakan bahwa ia hanya melaksanakan perintah (dawuh) Tuhan yang disampaikan melalui pesan ghaib para leluhurnya untuk mengganti nama putrinya itu menjadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bhawono Langgeng ing Mataram. Soal apakah nanti putrinya akan meneruskan tahta keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, itu persoalan lain. Sultan pun tak berani berspekulasi lebih jauh mengenai hal ini.
 
Namun, seperti yang diketahui, bahwa beberapa kerajaan ada yang menetapkan Ratu sebagai kepala negara. Ratu dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kepala kerajaan atau penguasa perempuan. Umumnya, seorang ratu adalah permaisuri raja. Namun ada kalanya seorang Ratu adalah orang yang menjadi pemimpin di negaranya.

Negara-negara kerajaan di Eropa antara lain Inggris, Denmark, dan Belanda, menggunakan sistem monarki konstitusinal dan mengangkat ratu sebagai kepala negara. Bahkan, sampai sekarang eksistensi sistem itu masih terus berlangsung.
 
Ratu termasuk ke dalam gelar penguasa monarki. Konsep penguasa monarki ini memiliki dua jenis, yaitu vesi laki-laki dan perempuan. Untuk versi perempuan, ratu digunakan tidak hanya untuk penguasa monarki wanita. Akan tetapi, juga untuk istri dari penguasa monarki pria.
 
Sedangkan sistem penguasa monarki ini menyimbolkan seorang kepala negara yang jabatannya biasanya dapat diwariskan. Selain itu, rentang pemerintahannya juga dapat berlangsung seumur hidup atau hingga turun tahta.
Saat ini gelar penguasa monarki di beberapa negara sudah tidak memiliki arti politik, karena negara tersebut  telah berubah menjadi republik. Meski begitu, gelar penguasa monarki itu tetap diwariskan.
 
Sistem negara monarki sendiri terbagi menjadi dua, yaitu mutlak (absolut) dan monarki konstitusional. Monarki mutlak merupakan bentuk monarki yang berprinsip bahwa seorang raja mempunyai kuasa penuh untuk memerintah negaranya. Sedangkan monarki konstitusional merupakan sistem konstitusional yang mengakui Raja, Ratu atau Kaisar sebagai kepala negara, namun tetap menggunakan konsep trias politica dalam menjalankan pemerintahan. Hal ini berarti bahwa raja atau ratu hanya berfungsi sebagai ketua simbolis dari cabang eksekutif.
 
Di Inggris Raya sendiri, Ratu Elizabeth II  sampai saat ini masih menjadi ratu monarki konstitusional dari teritorinya dan 54 anggota negara Persemakmuran. Dia juga merupakan Gubernur Agung Gereja Inggris. Perempuan yang lahir pada 21 April 1926 itu, naik tahta pada tanggal 6 Februari 1952 dan sampai saat ini masih berkuasa.

Lahir di London pada 21 April 1926, Elizabeth awalnya tidak diprediksi akan menjadi ratu. Namun, ketika pamannya yaitu Edward VIII memberikan tahtanya kepada George VI, ayah Elizabeth, pada tahun 1936, Elizabeth menjadi sorotan publik. Semasa Perang Dunia II, Elizabeth sempat bekerja sebagai supir dan montir kendaraan untuk membantu kebutuhan tentara. Ia naik tahta pada umur 26 tahun sepeninggal ayahnya

Masa pemerintahannya yang berlangsung selama 63 tahun tersebut merupakan masa pemerintahan terpanjang kedua dalam sejarah monarki Inggris Raya setelah Ratu Victoria. Ratu Elizabeth II juga menjadi ratu negara-negara persemakmuran. Antara lain adalah Kanada, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Sri Lanka, Jamaika, Barbados, Bahama, Grenada, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Tuvalu, Saint Lucia, Saint Vincent dan Granada, Belize, Antigua, Barbuda, Saint Kitts, Nevis.
 
Sedangkan di Belanda, Ratu Beatrix Wilhelmina Armgard menjadi ratu setelah menggantikan ibunya, Ratu Juliana. Beatrix naik tahta pada tanggal 30 April 1980 sampai tahun 2013.  Perempuan kelahiran 31 Januari 1938 tersebut akhirnya menyerahkan tahtanya kepada putranya, Pangeran Oranye Willem-Alexander.
 
Selama berkiprah sebagai Ratu, Beatrix pernah menginisiasi pembukaan kedutaan besar Belanda di Yordania pada tahun 1994. Selain itu, pada tanggal 8 Februari 2005 dia juga menerima doktor kehormatan yang jarang diberikan oleh Universitas Leiden. Pasalnya, pemberian gelar ini adalah suatu hal yang tidak biasa ditujukan kepada kepada Ratu. Sebab, pemberian itu adalah wujud penghargaan atas prestasi Ratu Beatrix dalam menjalankan sistim monarki, serta mempertingati 25 tahun kiprahnya sebagai ratu.
 
Untuk di Denmark, Ratu Denmark Margrethe Alexandrine Porhildur Ingrid mendapat reputasi sebagai salah satu pelaksana monarki Eropa yang paling modern dan progresif. Disamping itu, dia juga orang yang sangat terbuka terhadap media massa. Buktinya, dia selalu terbuka untuk diwawancara di televisi.
 
Di Denmark sendiri, fungsi Ratu juga tidak mengambil bagian dalam partai politik dan tidak mengungkapkan pendapat-pendapatnya dalam hal politik. Ratu yang sudah menjabat lebih dari 43 tahun tersebut juga merupakan Kolonel Kepala dari Resimen Kerajaan Putri Wales, sebuah resimen infanteri dari Tentara Britania Raya.
 
Selain itu, Ratu Margrethe juga populer dalam berkesenian. Dia  merupakan seorang pelukis yang terkenal dan  karyanya banyak dipuji oleh para kritikus. Bahkan, banyak pihak yang seringkali mengatakan bahwa Margrethe bukan seorang Ratu, melainkan seorang seniman. Salah satu karyanya pernah menjadi ilustrasi untuk edisi novel The Lord of the Rings versi Denmark yang diterbitkan pada 1977 dan diterbitkan ulang pada tahun 2002.
 
Ratu Margrethe, wanita kelahiran Kopenhagen pada 16 April 1940 itu, pada awalnya tidak pernah dipersiapkan menjadi ratu. Karena, secara aturan tradisi Denmark hanya memperbolehkan laki-laki menjadi Raja. Namun, ketika hampir dipastikan ayahnya, Raja Frederik IX dan ibunya yang telah melahirkan tiga putri dan tidak mungkin melahirkan lagi, referendum pun akhirnya digelar untuk mengetahui aspirasi masyarakat tentang pemimpin mereka selanjutnya. Hasil referendum itu ternyata menunjukkan bahwa rakyat Denmark setuju untuk dipimpin seorang Ratu. Margrethe II pun akhirnya naik tahta sepeninggal ayahnya pada tahun 1972.

 


(ADM)

Sejumlah Transfer Pemain di Liga Eropa

Sejumlah Transfer Pemain di Liga Eropa

2 hours Ago

Juventus selangkah lagi mendapatkan striker muda Republik Ceko Patrik Schick dan turut mendapat…

BERITA LAINNYA
Video /