Dipecat Ahok, Retno Diminta Sadar Diri

Wanda Indana    •    18 Mei 2015 16:58 WIB
basuki tjahaja purnama
Dipecat Ahok, Retno Diminta Sadar Diri
Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat. (Foto:MI/arya)

Metrotvnews.com, Jakarta: Retno Listyarti diminta sadar diri terkait pemecatan yang dilakukan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atas jabatannya sebagai Kepala Sekolah SMA 3. Sebab, tugas utama Retno adalah guru.
 
Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengaku heran masalah pemecatan Retno menjadi sorotan media. Padahal, mutasi yang dilakukan kepala daerah kepada kepala sekolah hal wajar.
 
Ia juga merasa aneh melihat sikap Retno yang berlebihan dengan melibatkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan mengancam akan melaporkan Pemprov DKI Jakarta kepada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) serta Ombudsman Republik Indonesia.
 
Retno disarankan menjadi pengajar yang baik setelah dimutasi ke SMAN 13 Jakarta Utara. "Dia (Retno) harus sadar diri, tugas utamanya itu mengajar, kepsek hanya tugas tambahan. Sebagai PNS, dia harus siap dievaluasi tiap hari," kata Djarot di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2015).
 
Sebelumnya, Dinas Pendidikan DKI Jakarta telah memecat Retno Listyarti dari jabatannya sebagai kepala SMA Negeri 3 Jakarta. Dia dikembalikan menjadi guru di SMA Negeri 13, Jakarta Utara.
 
Pemecatan Retno ini, merupakan instruksi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama."Pak Gubernur instruksikan,'bersihkan sekolah dari kepala sekolah yang belagu, arogan, dan tidak punya rasa tanggung jawab ke sekolahnya'," kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Arie Budhiman, Sabtu 16 Mei kemarin.
 
Pelantikan serta mutasi kepala sekolah ini dilaksanakan Dinas Pendidikan pada Jumat 8 Mei lalu. Kini posisi Kepala SMA Negeri 3 diduduki oleh Ratna Budiarti yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala SMA Negeri 29.
 
Arie menjelaskan, pemecatan sudah melalui berbagai prosedur serta pemeriksaan. Berdasarkan laporan yang diterima Arie dari Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Selatan, Retno tidak mengambil naskah soal Ujian Nasional di sekolah subrayon sebelum diwawancara televisi swasta di SMA 2 Olimo Jakarta Barat.
 
"Ya saya kira beginilah, dalam masa ujian sekolah itu kan tanggung jawab penuh penyelenggara sekolah. Pagi-pagi sebelum ujian, kepala sekolah sudah harus mengambil naskah soal ujian di sekolah subrayon, tetapi laporannya beliau tidak mengerjakan itu. Padahal hal seperti ini yang perlu dia perhatikan," kata mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI itu.
 
Dia berharap, kejadian kepala sekolah keluyuran saat jam ujian nasional tidak terjadi lagi. Kasus Retno, jelas Arie, bisa jadi contoh.


(FZN)