Waspadai Utang Jangka Pendek

Irene Harty    •    19 Mei 2015 18:27 WIB
utang luar negeri
Waspadai Utang Jangka Pendek
Ilustrasi. Antara/Dhoni Setiawan

Metrotvnews.com, Jakarta: Rasio kemampuan membayar utang pemerintah tercatat sudah mencapai 56 persen dari standar 30 persen. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan umumnya rasio tinggi didapat dari utang swasta jangka pendek.

"Kalau debt to service ratio nya pemerintah selalu sekitar 51 atau 54 persen, terkait treat kredit itulah kenapa dua tahun lalu kita mengeluarkan makroprudensial untuk utang luar negeri," paparnya ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (19/5/2015). Oleh sebab itu perlu memperkuat risiko, seperti melakukan lindung nilai.

Perry pun optimistis kedepan utang luar negeri akan terus menurun dengan tenor jangka panjang. Lindung nilai juga akan terus membaik.

"Saya kira itu perbaikan-perbaikan bahwa tidak hanya tingkat utang luar negeri menurun tapi juga remitigasi dari corporate," tuturnya. Dia mengingatkan, Indonesia termasuk salah satu negara yang menganut prinsip kehati-hatian terhadap risiko utang luar negeri.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo juga menyatakan bahwa Indonesia memiliki utang cukup besar karena ekspor menurun. Hal itu perlu dikelola dengan baik karena sejauh ini surat berharga negara Indonesia yang dimiliki asing sudah 38 persen lebih tinggi dari idealnya 30 persen.

"Yang diwaspadai utang luar negeri termasuk USD166 miliar saat ini, dalam enam tahun akan meningkat tinggi," ucap Agus. Hal lain yang perlu dicermati adalah inflasi yang tinggi di kisaran 7 persen secara yoy dan 8,3 persen di 2013, lebib tinggi ketimbang negara-negara lain yang di bawah 4 persen.


(WID)


Video /