Alami Gangguan Psikis, Fuad Amin Dipindah ke Rutan Salemba

Yogi Bayu Aji    •    20 Mei 2015 07:57 WIB
fuad amin imron
Alami Gangguan Psikis, Fuad Amin Dipindah ke Rutan Salemba
Fuad Amin Imron saat menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (7/5/2015). Foto: Yudhi Mahatma/Antara

Metrotvnews.com, Jakarta: Bekas Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron dipindahkan tempat penahanannya dari rumah tahanan (Rutan) KPK ke Rutan Salemba. Alasannya, Fuad sedang mengalami gangguan psikis.

"Memang benar, FAI dipindah penahanannya ke Salemba," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha, saat dikonfirmasi Rabu (20/5/2015).

Menurut dia, perpindahan tempat penahanan tersebut berdasarkan penetapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 18 Mei. Penetapan ini baru diterima jaksa penuntut umum di KPK pada Selasa 19 Mei pukul 11.00 WIB kemarin.

Priharsa menjelaskan, Majelis Haklim punya beberapa pertimbangan dalam pemindahan Fuad. Pertama, dari kesehatan Fuad yang kini berstatus sebagai terdakwa sedang menurun. Dia sudah diperiksa dokter beberapa kali dan dinyatakan sedang sakit.

"Berdasarkan Surat hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik RSPAD Gatot Subroto tertanggal 12 Februari 2015 dengan lampiran hasil pemeriksaan kesehatan, surat resume medis dan hasil pemeriksaan kesehatan tanggal 27 Maret 2015 serta surat hasil pemeriksaan kesehatan tanggal 8 Mei 2015 dan tanggal 12 Mei 2015. Serta, faktor psikis terdakwa menyebabkan kondisi kesehatan terdakwa semakin menurun dan menyebabkan persidangan tidak berjalan secara efektif dan efisien," jelas Priharsa.

Fuad sudah dipindahkan dari Rutan di Gedung KPK ke Rutan Salemba pada pukul 17.00 WIB Selasa kemarin. Dia nampak didampingi sejumlah pengacaranya. "Permohonan tersebut diajukan atas dasar kemanusiaan dan mengingat usia serta kondisi kesehatan terdakwa. Untuk kelancaran persidangan," imbuh Priharsa.

Fuad sempat mengeluhkan kondisi kesehatannya dan meminta untuk dipindahkan dari rutan KPK di lantai 9 pada sidang 13 Mei lalu. Dia mengaku mengidap sakit jantung, vertigo, prostat dan acrophobia atau takut ketinggian.

"Vertigo saya malah bertambah parah, mata berkunang-kunang kalau di atas (Rutan KPK) tidak bisa baca sama sekali, dokter mengingatkan acrophobia," kata Fuad dalam sidang 13 Mei lalu.

Jaksa KPK menduga, Fuad mengalami gangguan psikis. "Dari pemeriksaan dokter, yang ada dalam diri terdakwa adalah sakit secara psikis yang membuat terdakwa seperti ini. Kemarin dokter memeriksa sakit vertigo, lalu dokter jantung menyarankan untuk mengukur kadar oksigen di lantai dasar maupun di atas tapi yang bersangkutan tidak mau, lalu untuk sakit prostat disarankan untuk dipasang popok dan kondom kateter tapi yang bersangkutan juga tidak merespon," ungkap jaksa penuntut umum KPK.

Adapun KPK mendakwa Fuad melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Fuad didakwa menerima Rp18,05 miliar dari PT Media Karya Sentosa (MKS) karena telah mengarahkan tercapainya perjanjian konsorsium dan perjanjian kerja sama antara PT MKS dan PD Sumber Daya serta memberikan dukungan untuk PT MKS kepada Kodeco Energy CO LTd terkait permintaan penyaluran gas alam ke Gili Timur.

Dia juga didakwa menyamarkan hartanya pada periode 2010-2014 sejumlah Rp229,45 miliar. Dakwaan ketiganya adalah pencucian uang pada periode periode 2003-2010 hingga senilai Rp54,903 miliar.


(KRI)