Gawai dan Daring yang Meneror Anak Kita

   •    20 Mei 2015 14:21 WIB
opini
Gawai dan Daring yang Meneror Anak Kita
(AP)

Oleh: Muhammad Sufyan Abd. (Dosen Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University)

Pada 18 Mei lalu, laman Metrotvnews.com mempublikasikan pesimisme eks Menteri Pemuda Olahraga RI dan pengamat telematika, Roy Suryo, tentang pemberantasan atas fenomena prostitusi dalam jaringan/daring. Isu pekerja seks komersial online --yang dipicu kasus Dedeuh dan artis AA-- ini tak lama berselang tambah menggelisahkan dengan banyaknya keluhan masyarakat atas tren pesan singkat menawarkan jasa esek-esek berbasis layanan telepon premium prefix 0809. 

Dalam beberapa hal, sikap pesimistis tadi wajar adanya jika mengingat penetrasi teknologi informasi yang demikian eskalatif di negeri ini, sehingga jumlah kartu perdana telekomunikasi seluler tahun ini sudah tembus angka 300 juta atau melampaui jumlah penduduk Indonesia 260 juta.

Perluasan teknologi yang sayangnya menimbulkan efek samping berupa ketiaadan identitas jelas yang riskan disalahgunakan, sehingga wacana registrasi prabayar 10 tahun ke belakang (sejak Menkominfo dijabat Sofyan Djalil, M.Nuh, Tifatul Sembiring, dan kini Rudiantara) tak pernah benar-benar efektif. Kita kemudian seperti maju kena mundur kena, betapa di satu sisi banyak benefit terwujud dari kehadiran teknologi mobile ini.

Akan tetapi, di sisi lain, kita pun seolah tak bisa apa-apa menghadapi berbagai penyimpanan yang terjadi karena banyak yang lolos sedari dini. Dahulu, kita khawatir keluarga kita terkena kriminalitas saat mereka di luar rumah, dari mulai penculikan atau salah pergaulan yang berimplikasi kenakalan remaja sampai kriminalitas.

Hari ini,  kekhawatiran kita bertambah karena sejak di dalam rumah pun bisa mudah terjerumus. Anak-cucu kita sekarang bukan hanya ringkih dan mencemaskan atas pilihan pertemanan mereka di lingkungan nyata. Lebih dari itu, mereka pun menjadi lebih riskan dan sumber utama kegalauan orangtua atas interaksinya di lingkungan maya. 

Lalu, apakah kita kemudian hanya bisa pesimistis dan selanjutnya cukup pasrah --seraya berdoa agar anak dan keluarga kita selalu disadarkan untuk mengakses yang baik-baik saja? Sebagai bagian generasi solutif, tentu sikap optimismitis-lah yang harus selalu kita gaungkan!

Kita bisa memulai mereduksi efek negatif tersebut dengan dengan menginvetaris ancaman sekaligus mengetahui prilaku terkait gawai dan daring dari generasi muda Indonesia mutakhir. Data dari Kementerian Komunikasi Informatika (Kominfo) awal Maret 2015 lalu bisa jadi rujukan.

Juru Bicara Kominfo Ismail Cawidu memaparkan, netizen (internet citizen) alias penduduk Internet di Indonesia hingga awal tahun ini sudah mencapai 75 juta orang atau telah melewati Jawa Barat sebagai provinsi terbesar di Indonesia 46 juta orang. Dengan tingkat penetrasi 29% dari jumlah penduduk negeri ini, 58,4% rata-rata berada di usia 12 hingga 34 tahun atau segmen produktif. Maka, dengan sendirinya, anak-anak dan cucu kita jelas merupakan sasaran empuk dari berbagai cybercrime.

Kemudian, 30 juta dari 75 juta pengguna internet itu merupakan pengguna ponsel cerdas (smartphone) dan komputer sabak. Ini jadi tambah mengerikan karena aneka tindak kriminal daring sangat dekat, berada dalam genggaman keseharian keluarga kita.

Belum cukup sampai sana. Netizen Indonesia juga sudah masuk kategori heavy user, karena 40% waktu melek dari hidupnya (tujuh jam dari 18 jam) terkoneksi dunia maya dengan rincian 4-5 jam di komputer personal dan sisanya di smartphone/komputer sabak.

(Thinkstock)

Ancaman bagi mereka selain konten seksualitas semacam PSK daring tadi, yang tak kalah berbahaya adalah konten radikalisme, bahkan remaja di negara maju yang rasional pun, terbius pergi dari rumahnya imbas persuasi konten ISIS di dunia maya. Belum termasuk pengaruh vandalisme, dari mulai tawuran hingga berandalan bermotor, yang kian mudah ditemukan di internet. Ada pula ancaman dari oknum pelaku e-dagang yang bisa mudah menjebak dan menipu hingga menguras kantong anak kita.

Ada pula soal tren pencurian akun media sosial (phising) yang malah makin tinggi seiring kenaikan pengguna media sosial. Juga, permainan digital yang makin disukai dan sekaligus memunculkan bahaya kecanduan dan kontaminasi nilai negatif. Termasuk di dalamnya budaya serba instan dan mengutamakan tampilan cangkang, sehingga sikap ilmiah yang rajin meredup demikian pesat. Bahkan, cyber-bullying bisa terjadi setiap saat sehingga meruntuhkan mental dan kepercayaan diri anak-cucu kita.

Solusi Teror Gawai dan Daring
Dalam hemat penulis, ada dua hal utama yang bisa dilakukan. Pertama, menumbuhkan pemahaman bersama tentang esensi dunia maya (cyberspace). Baik lingkungan, pendidik, dan apalagi orangtua, penting selalu
menajamkan pemahaman bahwa dunia maya tak ada sedikitpun berbeda dengan dunia nyata. Betul memang ada spesifikasi teknis seperti anonimitas dan borderless di dalamnya.

Namun percayalah, spesifikasi digital itu tidak sedikit pun meniadakan tanggungjawab personal. Terlebih instrumen hukum di Indonesia, seperti pengetahuan aparat, termasuk forensik digital, pada saat ini sudah berkembang makin baik sehingga aneka pelanggaran tetap bisa terlacak.

Tanamkan prinsip anak kita mencaci di dunia maya, sama menyakitkan dan berisiko jika hal itu dilakukan di dunia nyata. Menyakiti dan berbuat baik daring akan memiliki konsekuensi, efek, dan timbal balik serupa dengan luring (luar jaringan).

Tinggikan pemahaman bahwa justru TIK, yang secara natural memproses, mereplikasi, dan menyimpan data-informasi, akan membuat anonimitas bukan lagi ketiadaan identitas. Akan tetapi, pada hari ini, anonimitas adalah pintu masuk dalam mengeksplorasi individu/kelompok.

Dalam hal interaksi daring, generasi muda harus dipersuasi untuk selalu mengagungkan konsep THINK (Truth, Helpful, Inspiring, Necesarry, Kind). Relasi harus mengutamakan nilai kebenaran, kebermanfaatan, inspiratif, perlu tidaknya, serta kebajikan di dalamnya.

Nah, ini yang kadang luput, bahwa pemahaman sebaik ini hanyalah mungkin sekiranya orangtua dan pendidik terlibat dan mengerti apa yang biasa dilakukan oleh anak kita. Bukan berarti kita harus menjajal satu-persatu apalagi jadi paranoid, namun minimal tahu subtansi aplikasi TIK.

Secara umum, esensi aplikasi yang menjadi favorit anak muda Indonesia adalah jaringan pertemanan, baik dalam bentuk pertukaran data ataupun pesan singkat. Maka itu, kita harus bisa masuk guna mengenali bentuk bangun pertemanan digital mutakhir mereka.

Secara simultan, juga menjadi naif jika kita berkehendak mengawasi sonder strategi dan kemauan belajar. Siasat menyediakan gawai dalam ruang keluarga terbuka yang mudah diawasi ataupun limitasi akses masih menjadi cara yang terampuh.

Kedua, bagi pemerintah, segeralah menguatkan pengawasan negara atas konten internet secara organisasional. Dengan cakupan Kementerian Kominfo yang demikian luas, ditambah ancaman yang makin tajam, yang diperlukan saat ini gerak urgensi dengan kedalaman respons. 

Kita ambil contoh terekstrem seperti dilakukan Republik Rakyat Tiongkok. Di negeri ini, ada sekitar 30.000 polisi siber serta dua juta pemantau trafik internet bagi 564 juta netizen dari total 1,34 miliar penduduknya (penetrasi 42,1%). Bertajuk program Great Firewall of China, polisi siber ini berada di bawah proyek yang berada di bawah kendali Ministry of Public Security yang dibentuk tahun 2001 dengan investasi awal USD770 juta/Rp10,01 triliun. Biaya demikian mahal untuk mensortir konten daring!

Di Jepang, negara yang demikian maju dan relatif liberal, ternyata pintu rumah kita bisa langsung didatangi polisi siber jika sebuah rumah tangga terpantau mengakses laman berbahaya. Maka itu, dengan asumsi jumlah pengguna Internet di Indonesia saat ini 80 juta orang, dibutuhkan setidaknya 8.000 orang polisi siber dan ratusan ribu pemantau trafik. Apa daya, di Indonesia, mengacu data Direktorat Tipideksus Mabes Polri, penyidik dan anggaran kejahatan siber demikian minim!

Untuk itulah, eskalasi wacana pendirian Badan Cyber Nasional (yang diinisiasi Deputi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Sekretaris Kabinet, Maret 2015 lalu, sebagai komplementer peran Kementerian Kominfo), selayaknya menjadi salah satu prioritas kerja pemerintah.

Paparan negatif dunia maya kepada generasi muda Indonesia kini adalah ancaman nyata yang makin masif dan bisa merusak satu generasi dengan cepat. Tanpa optimisme dan gerak cepat pemerintah, niscayalah efek destruktif gawai dan internet bisa mendekati efek jahat narkoba!


(ABE)

Sulit Dapatkan Perisic, MU Incar Winger AS Monaco
Bursa Transfer Pemain

Sulit Dapatkan Perisic, MU Incar Winger AS Monaco

4 hours Ago

Manchester United tampaknya mulai menyerah mengejar winger Inter Milan Ivan Perisic. Teranyar, …

BERITA LAINNYA
Video /