CEO XL Dian Siswarini: Karir, Keluarga dan Kesetaraan Gender

Ellavie Ichlasa Amalia    •    29 Mei 2015 15:50 WIB
tech and life
CEO XL Dian Siswarini: Karir, Keluarga dan Kesetaraan Gender
Dian Siswarini saat ditemui di kantornya.

Metrotvnews.com, Jakarta: Foto dokumentasi acara perusahaan, piala, plakat, piagam penghargaan, kartu nama yang tersusun rapi, dan segelas air putih. Ruang kerja yang minimalis.

"Halo, saya Dian," katanya mempersilakan saya masuk pada 25 Mei lalu. Dian tampak anggun dan segar dalam mode rambut bob.

Di lantai 8 Menara Prima, Mega Kuningan, Jakarta, inilah Dian Siswarini berkantor. Jabatan resminya sejak 1 April 2015: President Director/Chief Executive Officer PT XL Axiata, salah satu operator telekomunikasi terbesar di Indonesia. Dengan pelanggan mencapai 68 juta lebih, Dian tentu saja salah satu perempuan paling berpengaruh di Tanah Air.

Saat berada di puncak karir, bagaimana Dian memandang kesetaraan gender di dunia kerja, lebih khusus lagi: di industri komunikasi dan teknologi yang didominasi laki-laki?

Diskriminasi terhadap perempuan, terutama pada mereka yang bekerja di bidang yang dianggap sebagai teritori kaum pria, masih awam terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kasus-kasus seperti Ellen Pao dan GamersGate membuktikan bahwa di negara-negara maju sekalipun, seperti Amerika Serikat, diskriminasi terhadap perempuan belum bisa dihilangkan.

Bidang teknologi termasuk salah satu yang didominasi laki-laki. Karena itu, di perusahaan teknologi AS, sering muncul isu disparitas gaji dan kesetaraan kesempatan promosi antara karyawan laki-laki dan perempuan. Chief Operating Officer Facebook Sheryl Sandberg sampai merasa perlu menulis buku dan membuat organisasi khusus mengenai hal itu.

Walaupun kita pernah punya presiden perempuan, pencapaian Dian Siswarini di XL tetap simbol penting bagi semua perempuan di Indonesia. Dialah satu-satunnya CEO perempuan dari perusahaan telekomunikasi. Mengapa bisa demikian?

"Mungkin dalam peraturan tertulis, tidak ada diskriminasi terhadap perempuan," katanya sembari mengaku tak pernah mengalami diskriminasi di tempat kerja. "Tetapi dalam praktiknya, diskriminasi itu masih ada."

Meniti karir di XL sejak tahun 1996, Dian yang sudah kaya pengalaman mengatakan, "Misalnya, saat satu perusahaan memiliki dua kandidat untuk posisi tertentu, satu kandidat perempuan dan yang satu lagi laki-laki, dan keduanya memiliki kualitas yang sama, maka perusahaan tersebut lebih cenderung memilih kandidat pria."

Bentuk diskriminasi lain yang cukup sering terjadi adalah perbedaan gaji yang diterima karyawan laki-laki dan perempuan, meskipun mereka berada di posisi yang sama.

"Perbedaan gaji yang ada bisa mencapai hingga 85 persen," kata Dian. Walau dia dengan cepat mengatakan bahwa hal seperti ini tak terjadi di perusahaan yang dia pimpin.

Keadaan ini tak selamnya disebabkan niat atau rencana jahat perusahaan. Tetapi, "Kaum perempuan sendiri yang cenderung malu-malu untuk bernegoisasi gaji."

Biasanya, kandidat perempuan cenderung tak berani meminta gaji tinggi dan tak berani melakukan negoisasi gaji. "Sementara kandidat laki-laki lebih "berani malu," kata Dian sambil tertawa. "Dan meskipun pada akhirnya negoisasi gaji tersebut gagal, setidaknya mereka telah berusaha."

Dian tak setuju pada anggapan umum bahwa dunia teknologi komunikasi adalah dunia laki-laki. Baginya, perempuan dan laki-laki adalah sama. "Selama belasan tahun saya bekerja di bidang ini, saya tidak pernah menemui tantangan fisik yang tidak bisa dihadapi oleh perempuan."

Dian justru merasa bahwa kaum perempuan memiliki kelebihan dan dapat "bersinar" jika mereka memasuki dunia teknologi komunikasi. Penyebabnya, perempuan cenderung lebih disiplin, lebih tahan terhadap tekanan stres dan tentu saja kemampuan mengerjakan beberapa hal sekaligus.

"Terutama jika sang wanita sudah berkeluarga," katanya.

Dian berkaca pada dirinya sendiri yang sejak bangun tidur hingga berangkat ke kantor harus menyiapkan segala hal keperluan ketiga anaknya saat berangkat ke sekolah.

"Dalam waktu satu jam, saya harus memastikan bahwa ketiga anak saya sudah siap berangkat sekolah, mengetahui aktivitas apa saja yang akan mereka lakukan dalam waktu satu hari, menentukan masakan yang akan dimasak untuk hari itu, memastikan suami saya sudah sarapan," katanya. "Dan jika saya tak dapat melakukan multitasking, maka semua hal tersebut akan berantakan."

Dian yakin hal yang sama juga dihadapi para perempuan lainnya. Hal inilah yang memaksa perempuan untuk dapat melakukan multitasking. "Dan ketrampilan tersebut akan akan terbawa hingga ke tempat kerja," katanya.

Harus Kerja Keras
Dia mengatakan, salah satu kunci bagi para perempuan yang ingin memiliki karir tinggi adalah rela bekerja lebih keras. Karena sebagai perempuan, ada beberapa situasi yang memaksa mereka untuk cuti bekerja, seperti saat melahirkan.

Saat seorang perempuan melahirkan, mereka akan mendapat cuti selama 3 bulan. Selama waktu tersebut, pihak perusahaan harus mencari pengganti dan hal ini berarti ada beban tambahan yang harus ditanggung perusahaan. Hal inilah yang kadang membuat perusahaan enggan untuk memperkerjakan perempuan.

Dalam mengejar karir, perempuan juga harus memiliki dukungan keluarga. Dian mengaku sangat didukung anak-anaknya.

"Bagaimana Anda menyeimbangkan karir dan keluarga?"

"Saat saya sedang bekerja, saya tidak mengeluh karena saya harus bekerja lebih lama dan tidak bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga saya. Tetapi saat saya sedang bersama mereka, saya juga tidak mau waktu saya terganggu."

Intinya, kata Dian, adalah fokus. Saat Anda sedang bersama keluarga, berhentilah bermain gadget dan habiskan waktu Anda bersama mereka.

Mengobrol bersama Dian cukup menyenangkan dan terasa sudah satu jam berlalu. Kami menutup sore itu dengan sesi pemotretan.


(ABE)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

21 hours Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /