Pertumbuhan Ekonomi: Berharap Manis di Akhir

Antara    •    31 Mei 2015 17:39 WIB
analisa ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi: Berharap Manis di Akhir
Ilustrasi -- ANTARA FOTO/PRADITA

KEGALAUAN masyarakat mungkin tak terelakkan setelah beberapa kebijakan reformasi struktural ekonomi terutama di bidang energi, pascaenam bulan pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Reformasi memang terkadang berbuah pahit dan ironi di awal, namun perlu keberanian untuk menanti manfaatnya dalam jangka panjang. Belakangan ini, mungkin kerap terdengar teriakan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau juga para mahasiswa yang memrotes dampak pelambatan dan kebijakan-kebijakan ekonomi sepanjang triwulan I-2015.

Keluhan itu merupakan imbas dari kebijakan-kebijakan dalam kerangka reformasi struktural perekonomian yang sedang dijalankan. Tantangannya adalah saat reformasi itu dijalankan dengan berbagai tekanan internal, Indonesia juga harus menghadapi ancaman-ancaman eksternal akibat pelambatan ekonomi global.

Ekspor yang masih lesu dan volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan terjadi sepanjang tahun. Kebijakan pelepasan subsidi premium dan subsidi tetap pada solar merupakan kebijakan pemerintah yang paling disorot hingga saat ini. Mekanisme pasar dan evaluasi harga bahan bakar minyak yang terlalu cepat, dituding sebagai pangkal penyebab melemahnya daya beli masyarakat.

Perilaku harga di Indonesia yang masih kaku membuat harga barang dan jasa naik drastis setelah kenaikan harga BBM, namun hanya turun marjinal jika ketika pemerintah menurunkan harga BBM. Melemahnya konsumsi masyarakat juga beriringan dengan melambatnya konsumsi swasta yang belum menunjukan sinyal-sinyal peningkatan produksi terlihat dari laju impor bahan baku dan barang modal, meskipun tren konsumsi tinggi pada bulan Ramadan tinggal setengah bulan lagi.

Secara teoritis, lesunya permintaan menjadi "pekerjaan rumah" yang harus dibenahi pemerintah, selain membenahi suplai. Dari triwulan I, investasi pemerintah yang diharapkan menjadi stimulus penopang pertumbuhan, juga masih belum optimal terealisasi.

Transformasi dan perluasan industri manufaktur hingga ke luar Jawa juga terlambat digencarkan. Alhasil ekspor barang bernilai tambah hasil industri pengolahan belum signifikan. Badan Pusat Statistik merilis pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2015 hanya sebesar 4,71 persen, atau lebih rendah dari estimasi  pemerintah, Bank Indonesia, dan berbagai lembaga riset ekonomi yang memperkirakan pertumbuhan di rentang yang berbatas bawah 4,9 persen hingga ke kisaran 5,0 persen.

Namun, apakah pencapaian ekonomi sepanjang pemerintahan ini dapat menjadi landasan untuk mengambil sebuah kesimpulan? Pencapaian pertumbuhan 4,71 persen memang tidak bagus, namun setidaknya lebih baik dibanding negara-negara lain penghasil komoditas dan tambang di tengah situasi ekonomi global saat ini.

Dalam proyeksinya per 18 Mei 2015, tim riset DBS Bank menyatakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan 5,1 persen tahun ini lebih prospektif dibanding perkiraan pertumbuhan Malaysia 4,9 persen, Singapura 3,2 persen, dan Thailand 3,6 persen.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memang menyatakan kemungkinan penurunan proyeksinya ke bawah 5,2 persen. Namun, Deputi Direktur IMF Asia Pasifik Kolpana Kochhar masih menyiratkan perekonomian Indonesia akan membaik dan berada di kisaran 5,0 persen dengan konsistensi penerapan kebijakan-kebijakan pembangunan seperti yang sudah direncanakan pemerintah sebelumnya.

Perspektif Seimbang Pelambatan kondisi ekonomi juga mengundang berbagai reaksi negatif terhadap kinerja Kabinet Kerja. Dorongan "reshuffle" kabinet, terutama untuk posisi menteri-menteri ekonomi, sempat disuarakan anggota parlemen, koalisi oposisi, Lembaga Swadaya Masyarakat, hingga partai pendukung pemerintah. Namun, bingkai ekonomi juga sejatinya tak lepas dari hasil-hasil positif reformasi struktural ekonomi.

Pada triwulan I, Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat reformasi perizinan telah menaikkan tingkat kepercayaan investor. Kebijakan reformasi subsidi energi dan peningkatan alokasi anggaran infrastruktur diyakini sangat memberikan andil untuk menarik minat investasi. Realisasi investasi pada triwulan I-2015 mencapai Rp124,6 triliun atau tumbuh 16,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp106,6 triliun. Reformasi kebijakan subsidi juga membawa hasil dengan menurunnya konsumsi BBM, dan rendahnya harga minyak.

Bank Indonesia mencatat perbaikan neraca migas memicu penurunan defisit neraca transaksi berjalan menjadi USD3,8 miliar atau 1,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dari USD5,7 miliar atau 2,6 persen dari PDB pada triwulan IV-2014. Manajemen fiskal yang baik dan konsistensi kebijakan di tengah tekanan-tekanan politik dan umur pemerintahan yang baru seumur jagung, setidaknya membuat pandangan dunia terhadap fundamental ekonomi Indonesia terus membaik.

Keberanian pemerintah terus mempertahankan kebijakan pencabutan subsidi premium dan subsidi tetap pada solar dipuji lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor's (S&P). Setidaknya risiko fiskal dari membengkaknya beban subsidi BBM sudah berkurang. Meskipun dinilai terlambat, S&P memperbaiki "outlook" ekonomi Indonesia dari Stabil menjadi Positif. Perbaikan peringkat rating ini cukup memberikan angin segar karena peringkat "investment grade" semakin dekat. Perbaikan peringkat ini juga memperbesar kesempatan Indonesia untuk mencari sumber-sumber pembiayaan tambahan dengan tawaran imbal hasil yang rendah dan biaya dana yang minim.

Seperti kita ketahui, untuk infrastruktur saja, hingga 2019, kebutuhan pembiayaannya mencapai Rp4.700 triliun. "Ini menjadi bukti upaya perbaikan terutama menyangkut investasi," kata Deputi Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Leonard Tampubolon.

Tantangan ke Depan

Dalam laporannya, S&P menilai konsistensi kebijakan pelepasan subsidi BBM dan peningkatan anggaran infrastruktur menjadi hal krusial dalam pembenahan ekonomi Indonesia. Tantangan ke depan adalah ketika ketidakpastian kenaikan suku bunga The Fed terus terjadi, tekanan terhadap rupiah akan semakin besar. Volatilitas rupiah ini, ditambah kenaikan harga minyak dunia akan menguji konsistensi kebijakan Indonesia dalam mempertahankan pelepasan subsidi BBM. Hal itu tentu ditambah upaya pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga laju inflasi dampak dari mekanisme pasar harga BBM.

Tantangan lainnya, mengutip Kolpana Kochhar, adalah bagaimana mengoptimalkan potensi ekonomi dari konsumsi kelas menengah Indonesia. Jika potensi kelas menengah Indonesia dimanfaatkan, akan memberikan insentif bagi dunia usaha dan investasi. Meningkatnya permintaan, tentu akan menggairahkan sektor usaha untuk melipatgandakan kapasitas bisnisnya. Indonesia dapat menikmati investasi dan serapan tenaga kerja dari hal ini. Tentunya yang paling penting adalah janji-janji pemerintah untuk konsisten dengan reformasi struktural ekonomi, sekaligus mempercepat pembangunan.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di depan para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri, Senin (29/1), mengingatkan bahwa daerah-daerah di Indonesia harus bertranformasi, untuk tidak lagi mengandalkan komoditas, namun menciptakan industri pengolahan. "Ekonomi yang berkelanjutan bukan ekonomi yang mengandalkan komoditas," ujar Bambang.

Selain itu, pemerintah juga telah memfokuskan agenda infrastruktur. Sebanyak 10 proyek infrastruktur prioritas sudah ditetapkan dan pembangunannya harus dimulai tahun ini. Sebanyak 10 proyek itu menekankan jaminan ketersediaan energi dan perbaikan konektivitas. Dengan berbagai niat tersebut, setidaknya harapan untuk merasakan manisnya pertumbuhan berkualitas yang digemborkan Presiden Joko Widodo masih besar. Target pertumbuhan ekonomi 5,7 persen pada tahun ini pun harus dibuktikan sebagai target yang tidak hanya "memacu adrenalin".


(AHL)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

3 days Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /