Begini Proses Bruce Jenner Memilih Nama Perempuan untuk Dirinya

Rosa Anggreati    •    03 Juni 2015 13:22 WIB
bruce jenner (caitlyn jenner)
Begini Proses Bruce Jenner Memilih Nama Perempuan untuk Dirinya
Caitlyn Jenner (Foto:Vanity Fair)

Metrotvnews.com, Jakarta: Caitlyn Jenner. Demikian nama baru Bruce Jenner, mantan atlit Olimpiade dan bintang reality show yang juga ayah tiri Kim Kardashian.

Bruce resmi mengganti namanya sejak Senin, 1 Juni. Seluruh dunia telah mengetahui bahwa mantan suami Kris Jenner itu bertransformasi menjadi seorang transgender. Sebuah keinginan yang telah 50 tahun lamanya dipendam Bruce, maaf, Caitlyn.

Majalah People menyebutkan, Caitlyn merupakan nama yang sejak lama dipersiapkan Bruce, yakni ketika dia menyadari ada sisi feminin dalam dirinya.

Setiap transgender mengalami proses "penamaan" diri yang membuat mereka seolah terlahir kembali. Selain Bruce, ada Janet Mock, seorang host MSNBC dan penulis buku.

Terlahir dengan nama Charles Mock, ketika beranjak dewasa, Janet memutuskan menjadi transgender. Dia memilih nama "Janet" terinspirasi dari lagu Velvet Rope milik penyanyi Janet Jackson.

Proses transformasi Janet Mock menjadi transgender (Foto:Mycelebrityandi.com)

Pemilihan nama "Janet" pun rupanya cocok dengan karakter Janet Mock. Teman Janet menyebut, ada kemiripan antara Janet Jackson dan Janet Mock. Dari segi fisik, keduanya sama-sama berkulit hitam dan berambut keriting.

Janet mantap memakai nama baru "Janet" saat masih duduk di bangku SMA. Masa ketika Janet pertama kali menyadari dirinya ingin menjadi transgender.

"Ada kekuatan di balik pemilihan nama seseorang, bentuk pengumuman kepada dunia tentang siapa diri Anda," tulis Janet dalam buku Redefining Realness.

Contoh berikutnya, Greta Martela, produser eksekutif Trans Lifeline, satu-satunya pusat krisis untuk orang transgender dan dikelola sepenuhnya oleh orang-orang transgender.

Sebelum menemukan nama "Greta," dia menjelajahi daftar nama bayi dan avatar video game. Dia menghendaki sebuah nama yang dengan jelas mengidentifikasi dirinya sebagai seorang perempuan.

Greta Martela (Foto:Gofundme.com)

"Saya hanya ingin keluar dari apa yang saya jalani. Selama ini, saya menghabiskan waktu berusaha untuk menyenangkan orang lain, dengan menjadi seseorang yang tidak saya inginkan," kata Greta kepada Time.

Kemudian, Mara Keisling, direktur eksekutif National Center for Transgender Equality. Setelah keluar dari rumah orangtuanya untuk hidup mandiri, Mara mengejutkan mereka dengan meminta izin mengganti nama lahir dengan sebuah nama baru.

"Mereka orangtua saya dan memiliki hak dan kewajiban untuk memberi nama kepada saya," katanya. Akhirnya, dia sepakat dengan orangtua memilih nama "Mara" karena tak terlalu jauh berbeda dengan nama lamanya.

Mara Keisling (Foto:ABC News)

Kaum transgender memilih sebuah nama baru untuk alasan simbolis, untuk memutuskan atau tetap menjaga hubungan dengan masa lalu mereka, mengadopsi atau meninggalkan nama keluarga.

Susan Stryker, seorang akademisi terkemuka dari Universitas Arizona yang fokus pada isu-isu transgender, memilih menggunakan nama pertama dan terakhirnya.

"Saya tak ingin membawa nama keluarga. Saya menyebutnya nama 'pahlawan transgender'," ujar Susan.

Banyak transgender yang memilih nama sangat feminin atau maskulin, untuk merangkul identitas baru mereka atau untuk menghindari kebingungan. Ada juga yang memilih nama "netral  gender," agar tidak menyebabkan kebingungan atau trauma masa lalu.

Namun, ada juga transgender yang hanya menggunakan nama ejaan. Misalnya, Cary menjadi Keri. Atau, beberapa tidak mengubah nama mereka sama sekali.

Sebut saja, Paisley Currah, seorang profesor ilmu politik di CUNY. Dia mengaku, diberi anugerah sebuah nama lahir dan memilih tetap menggunakannya.

"Seperti saat saya dibesarkan, nama itu sangat langka dan tidak terkait dengan satu jenis kelamin. Saya cukup beruntung bisa tetap memakai nama lahir saya," tutur Paisley.

Jenner berada di antara mereka yang memilih nama baru untuk mengukir identitas.

Bruce Jenner ketika menjuarai Olimpiade pada 1976 (Foto:Getty Images)

"Selamat datang di dunia Caitlyn," cuit Jenner pada Senin, 1 Juni. Tweet pertamanya di akun Twitter @Caitlyn_Jenner dilanjutkan dengan mengatakan, "Tidak sabar menunggu kalian mengenal dia (Bruce) atau saya (Caitlyn)."

Menurut Mara Keisling, nama baru yang digunakan orang transgender akan melekat pada diri mereka. "Walau ketika kecil, orang memanggil 'Jason' dan saat dewasa berganti nama menjadi 'Emma,' orang-orang tetap akan memanggil 'Emma'," jelas Mara.

Kondisi ini sebenarnya tak mudah. Terutama bagi keluarga dan orangtua dari orang transgender. Sulit bagi mereka mulai menggunakan nama baru anak lelakinya yang berubah menjadi perempuan.

Bruce Jenner kini resmi berganti identitas menjadi Caitlyn Jenner (Foto:Vanity Fair)

Seperti pengalaman Catherine Lee. Putranya, Ashton, menjadi transgender. Pertama kali sulit menerima keputusan anaknya.

"Saya membuat banyak kesalahan dan menggunakan kata ganti yang salah. Orang-orang di sekitar saya jadi kebingungan. Sulit saat pertama kali dia mengatakan kepada saya bahwa dirinya ingin menjadi transgender. Pada akhirnya, saya tidak melihat dia sebagai laki-laki. Saya melihat dia sebagai perempuan. Proses itu adalah sesuatu yang membutuhkan waktu," kata Catherine.

Proses mengadopsi nama baru dalam kehidupan seseorang bisa berantakan. Sebab, ada saja orang yang kurang menerima perubahan tersebut, atau sengaja memanggil nama lama. Hambatan teknis juga kerap muncul. Misal, orang transgender kesulitan menjelaskan jati dirinya ketika presentasi di depan publik, atau identitasnya tidak cocok dengan dokumen resmi (proses mengubah dokumen resmi bervariasi di setiap negara).

Bagi kaum transgender, nama baru mereka sangat penting. Bukan sekadar nama semata, melainkan lebih kepada sebuah identitas yang menyangkut harga diri dan pengakuan orang lain akan keberadaannya.


(ROS)