Kasus Angeline

Wakil Ketua DPD Minta Berbagai Pihak Tak Sampaikan Statement yang Merisaukan

K. Yudha Wirakusuma    •    15 Juni 2015 12:27 WIB
penemuan jenazah angeline
Wakil Ketua DPD Minta Berbagai Pihak Tak Sampaikan Statement yang Merisaukan
Ilustrasi--Antara/Fikri Yusuf

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad mengimbau berbagai pihak tidak menyampaikan statement merisaukan terkait kasus Angeline. Biarkan kepolisian fokus mengurai kasus ini secara terang.

"Kita cukup prihatin dengan terjadinya kasus Angeline ini, karenanya saya mengimbau kepada berbagai pihak untuk menahan diri dalam memberikan pandangan yang makin meresahkan," kata ungkap Farouk Muhammad dalam keterangan pers nya pada hari senin, (15/6/2015).

Ada baiknya, lanjutnya, kita terus mendukung langkah-langkah kepolisian untuk dapat menyelesaikan kasus ini dengan profesional dan transparan. "Sehingga, kasus seperti ini tidak terjadi lagi dikemudian hari,“ ucapnya.

Mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini menjelaskan, kepolisian memiliki prosedur dan mekanisme dalam melakukan penyelidikan. Harus ada sense dari penyidik untuk dapat mempelajari benang merah pembunuhan Ageline dengan faktor tindakan nonkriminal atau lebih dari sebuah kasus biasa.

"Kepolisian bukan sekadar penegak hukum, namun lebih tepat sebagai social problem solver. Situasi ini berbeda dengan tugas seorang jaksa yang jika hanya mendapat 10 kasus, ya harus diselesaikan 10 kasus tersebut," imbuhnya.

Sedangkan polisi, sambungnya, jika menerima 10 kasus, bisa berkembang menjadi 15 pelanggaran pidana atau sebaliknya hanya memproses ke penuntutan 5 kasus, sedangkan sisanya diselesaikan secara nonyustisil sesuai kewenangan diskresinya.

Dia menambahkan, tewasnya  Angeline  hanya  menjadi  bagian  kecil buramnya  potret perlindungan hukum bagi anak di  Indonesia.  Data  yang dirilis beberapa lembaga menunjukan kekerasan terhadap anak meningkat dari tahun ke tahun.  

Menurut  survei  yang  dirilis  oleh Komnas Perempuan kasus kekerasan terhadap anak dari 2009 - 2014 menunjukkan trend  peningkatan.  Pada 2014, Komnas Perempuan mencatat ada  sekitar 12.510 kasus kekerasanterhadap perempuan dan anak.

"Perlu ada usaha luar biasa dari Pemerintah untuk mengurangi peningkatan laju kekerasan terhadap  anak. Upaya yang bisa  dilakukan harus melibatkan multi pihak dan lintas lembaga” tegas Guru Besar Kriminilogi Universitas Indonesia ini.

Secara umum ada dua upaya yang bisa dilakukan untuk berperang menghindari kekerasan terhadap anak, yaitu dengan melibatkan anak itu sendiri secara proaktif dengan mengajarkan apa saja  yang tergolong sebagai kekerasan sehingga anak menjadi waspada terhadap kekerasan.  

Keluarga juga perannya menjadi sangat penting karena secara umum kekerasan terhadap anak dilakukan oleh orang terdekat di lingkungan  keluarga. Selain itu  juga, masyarakat  juga  harus ikut berpartisipasi mewujudkan lingkungan yang ramah terhadap anak.

"Upaya pencegahan tersebut juga harus dilengkapi dengan upaya represif atau penegakan hukum yang sesuai, agar pelaku tindak kekerasan anak mendapatkan efek jera,” pungkasnya.


(YDH)