Artis Sinetron Disiram Air Keras di Slipi

Yahya Farid Nasution    •    17 Juni 2015 08:02 WIB
Artis Sinetron Disiram Air Keras di Slipi
Ilustrasi air keras--MI/Panca Syurkani

Metrotvnews.com, Jakarta: Artis sinetron Fabioli De Oliveira, 17, disiram air keras oleh pengendara roda dua tidak dikenal di depan Kantor Kelurahan Slipi, Jalan Aipda KS Tubun, Slipi, Jakarta Barat. Kejadian tersebut terjadi sejak 28 Januari lalu.

"Muka, telinga, punggung, paha dan kaki sebelah kanan terbakar," ujar Ibunda Fabioli, Syuli Umboh, 49,warga Rusun Petamburan kepada Media Indonesia di Kantor Polsek Palmerah, Jakarta Barat (16/6/2015).

Putri dari mantan asisten pelatih tim nasional sepak bola Fabio Fe Oliveira itu disiram air keras saat dibonceng dengan sepeda motor oleh teman sekolahnya, Adit, 17. Hampir seluruh badan dan muka bagian kanan korban terluka. Ia dirawat di Rumah Sakit Pelni selama 14 hari dengan total biaya Rp70 juta.

Hingga saat ini dua orang pelaku berkendara honda vario belum bisa ditemukan pihak kepolisian. Padahal keluarga Fabioli sudah memasukkan laporan ke Polsek Palmerah hari itu juga dengan No.Pol : 032/K/1/2015/SEK.PALMA.

Sementara Kanit Reskrim Polsek Palmerah Ipda Purwanta menuturkan pihaknya masih berusaha menangkap pelaku penyiraman air keras. "Masih kami selidiki," ujar Purwanto.

Syuli menduga pelaku yang menyiram anaknya merupakan suruhan dari N, tetangganya di rusun. N, ibu angkat tidak resmi Aisha, 4, menuduh Syuli dan kakaknya Ani, 53, merebut Aisha dari tangannya. Karena sakit hati, N diduga melukai Fabioli.

Perseteruan keduanya berawal dari klaim hak asuh Aisha, 4, anak ke-12 dari ML, 37, warga Rusun Petamburan. ML sendiri memiliki 4 anak kembar (8 anak) dan 4 anak.

ML meninggal dunia sehari setelah melahirkan kembar Aisha dan Canting di RS Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat pada 16 September 2010 lalu.

Awalnya pihak rumah sakit ingin menyerahkan kedua anak itu ke dinas sosial. Karena pasien tidak mampu membayar biaya persalinan sesar sebesar Rp11 juta. Namun Syuli mengajak pihak keluarga ML untuk bersama-sama membayar biaya persalinan.

"Awalnya saya jadi saksi persalinan. Karena saat itu pihak rumah sakit tidak berani kalau tidak ada pihak yang bertanggung jawab," jelasnya.

Setelah itu, Penuturan Syuli, pihak keluarga meminta agar dirinya mengadopsi Aisha. Sebab keluarga sedarah Aisha tidak mampu mengurus keduanya. "Keluarganya sendiri sudah mengurus sejumlah anak ML lainnya," tuturnya.

Karena Syuli juga mengaku tidak mampu merawat Aisha, Aisha dirawat oleh N, salah seorang tetangga lain di Rusun Petamburan. Sampai akhirnya pada Desember 2012, Aisha lebih memilih dirawat oleh kakak Syuli, Ani. Aisha mengaku diperlakukan kasar dan dianiaya oleh N. N sendiri tidak mengizinkan Aisha bertemu dengan saudara kembarnya, Canting.

"Kakak saya, Ani akhirnya membuat pernyataan tertulis dengan pihak keluarga sedarah dan dinas sosial untuk adopsi Aisha," tukasnya.
(YDH)