Wisata Ramadan

Menikmati Pagi di Benteng Otanaha

Tri Kurniawan    •    20 Juni 2015 13:14 WIB
ramadan 2015
Menikmati Pagi di Benteng Otanaha
Pengunjung menikmati pemandangan matahari tenggelamdi Benteng Otanaha, Kamis 7 Mei 2015. Foto: MI/Panca Syurkani

Metrotvnews.com, Gorontalo: Objek wisata Benteng Otanaha yang terletak di atas bukit di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, pada awal Ramadan tahun ini nyaris tidak pernah sepi dari pengunjung.

Sejak usai salat Subuh, warga baik tua maupun muda tanpa lelah terlihat menapaki satu per satu anak tangga untuk mencapai bukit menuju lokasi Benteng Otanaha.

Di atas bukit tersebut, warga menanti pemandangan yang memukau. Ada tiga buah benteng kokoh, konon terbuat dari batu dan putih telur yang berdiri di sana.

Dari titik ini, mata pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan Danau Limboto berikut hamparan tumbuhan air eceng gondok tak jauh dari benteng.

Bagi yang enggan mengeluarkan keringat di pagi hari, dapat melalui sebuah jalan beraspal yang tidak terlalu lebar di sisi lain tangga tersebut.

Untuk mencapai bukit melalui jalan alternatif ini bisa menggunakan sepeda motor atau mobil, dengan catatan tak ada kendaraan roda empat lainnya yang melaju berlawanan arah.

"Jalan pagi ke benteng sudah menjadi tradisi bagi kami pada minggu pertama bulan puasa. Pengunjung tidak hanya dari wilayah sekitar benteng tapi juga asal kecamatan bahkan kabupaten lain," kata Ican Mahmud, seorang pengunjung, 40, Sabtu (20/6/2015).

Dia datang bersama keluarganya dari desa sebelah hanya untuk menikmai kicauan burung dan embun pagi di lokasi sekitar benteng.

Beberapa anak muda yang menggunakan kopiah dan baju koko tampak asyik bersenda gurau di dekat gerbang benteng. Pengunjung akan semakin ramai pada saat akhir pekan pada bulan puasa.

Benteng Otanaha terletak di atas bukit Kelurahan Dembe I Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, atau sekitar 10 kilometer dari pusat kota. Objek wisata yang ditetapkan sebagai salah satu Situs Cagar Budaya ini memiliki 348 anak tangga dari pos bawah hingga ke bagian benteng utama.

Sederet tangga tersebut diselingi dengan empat lokasi persinggahan. Setiap tempat persinggahan memiliki jumlah anak tangga yang tidak sama.

Dari pos 1 ke tempat persinggahan pertama terdapat 53 anak tangga, ke persinggahan II terdapat 83 anak tangga, menuju persinggahan III ada 53 anak tangga dan ke persinggahan IV sebanyak 89 anak tangga. Sementara menuju ke area benteng, pengunjung harus menempuh 71 anak tangga. 

Dibangun Portugis, tak salah bila warga betah menghabiskan paginya di lokasi itu karena Otanah memililiki jejak sejarah yang tak ternilai bagi perjuangan rakyat Gorontalo.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo Saiful Mujahid menjelaskan pihaknya pernah melakukan pembersihan di situs tersebut, karena terdapat banyak coretan yang ditorehkan pengunjung.

Pembersihan dilakukan dengan dua cara yakni menyikat bagian yang ada coretan atau menggunakan bahan kimia Aseton untuk coretan yang sulit dibersihkan menggunakan sikat. 

"Kami mengimbau pengunjung untuk melindungi situs ini karena Benteng Otanaha merupakan saksi sejarah besar di Gorontalo," katanya.

Benteng Otanaha dibangun pada abad ke-15. Setiap benteng memiliki pintu masuk yang berbentuk huruf U terbalik dan bagian dalamnya berbentuk lingkaran.

"Saat itu wilayah Gorontalo sebagian besar masih terdiri dari lautan. Tahun 1505 sampai 1585 kerajaan sudah terbentuk dan dipimpin Raja Ilato atau Matodulakiki dengan permaisurinya bernama Tolangohula," ungkapnya.

Raja Ilato memiliki dua putri bernama Ntoba dan Tiliaya, dan seorang putera bernama Naha. Semasa remaja, Naha pergi merantau sedangkan kedua saudarinya tetap tinggal di wilayah kerajaan. 

Hingga suatu ketika sebuah kapal layar milik Portugis singgah di Pelabuhan Gorontalo karena kehabisan bahan makanan, terancam oleh bajak laut dan kondisi cuaca buruk.

Nakhoda kapal Portugis itu kemudiaan bertemu dengan Raja Ilato yang merupakan penguasa Kerajaan Gorontalo. Pertemuan itu berbuah kesepakatan membangun tiga buah benteng pada tahun 1525, untuk memperkuat ketahanan dan keamanan negeri.

Tak disangka di balik kesepakatan tersebut, pasukan Portugis hanya memperalat pasukan yang dipimpin Ntoba dan Tiliaya untuk mengusir bajak laut.

Mendengar hal itu, rakyat marah. Dipimpin oleh para apitalawo (sebutan untuk kapten laut) yakni Apitalawo Lakoro, Laguna, Lakandjo dan Djailani mengusir Portugis dari tanah Gorontalo. Pasukan Portugis akhirnya bertolak meninggalkan Gorontalo karena tidak mampu melawan serangan para apitalawo.

Pada 1585, Naha kembali dari perantauan dan menemukan ketiga benteng tersebut. Ketika itu, ia telah memperistri seorang perempuan bernama Ohihiya, yang melahirkan dua orang putera bernama Paha (Pahu) dan Limonu.

Naha dan Pahu kemudian gugur saat melawan seorang pimpinan rombongan transmigrasi bernama Hemuto. Limonu yang ingin membalaskan dendam sang raja kemudian berhasil membunuh Hemuto.

Selama peperangan tersebut, Naha, Ohihiya, Pahu dan Limonu telah memanfaatkan benteng sebagai pusat kekuatan pertahanan, sehingga diabadikan menjadi nama benteng. Benteng pertama disebut Otanaha yang berasal dari kata "ota" yang berarti benteng dan "Naha". 

Sedangkan benteng kedua disebut Ulupahu yang berasal dari kata "Uwole" berarti milik dan Pahu atau Paha. Benteng ketiga diambil dari kata Ota dan nama sang permaisuri raja, Ohihiya. (Antara)


(TRK)

Rekam Jejak Indonesia di Piala Asia U-16
Timnas U-16

Rekam Jejak Indonesia di Piala Asia U-16

17 hours Ago

Terhitung dari 17 kali penyelenggaraan yang sudah berlangsung. Indonesia hanya mampu lolos ke p…

BERITA LAINNYA
Video /