Legenda Jakarta

Monas, Ikon Kebanggaan Jakarta

Intan fauzi    •    24 Juni 2015 18:49 WIB
hut jakarta
Monas, Ikon Kebanggaan Jakarta
Peserta Parade Jakarnaval 2015 melakukan atraksi dalam menyambut ulang tahun Jakarta ke-488 di Monas, Jakarta, Minggu (7/6). (foto: Antara/Rosa Panggabean).

Metrotvnews.com, Jakarta: Siapa yang tak kenal Monumen Nasional alias Monas? Ini adalah ikon kebanggaan milik Jakarta.

Begitu tersohornya Monas sebagai ikon ibukota yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan, bisnis, dan kebudayaan, membuat masyarakat dari seluruh pelosok di Indonesia menjadikannya destinasi wajib bila punya berwisata di Jakarta.

Menurut arkeolog dari Universitas Indonesia, Candrian Attahiyat, wisatawan di Jakarta cenderung menjadikan Monas sebagai "oleh-oleh". Ini pula yang membedakan Jakarta dengan daerah lain. Jika daerah wisata lain punya kuliner khas untuk buah tangan seperti gudeg di Yogyakarta, peuyeum di Bandung, asinan di Bogor, dan lain sebagainya, maka oleh-oleh yang paling penting dari Jakarta bukan kerak telor atau gado-gado, melainkan berfoto di Monas.

“Sekarang misal orang yang di daerah Maluku atau daerah paling terpencil yang dia pikirkan apa? Ingin ke Monas, mereka bangga. Monas secara tak langsung pemersatu Indonesia,” ujar Candrian Attahiyat saat ditemui Metrotvnews.com di Jakarta, Jumat (19/6/2015).

Kini, ia melanjutkan, image itulah yang terpancar dari Monas. Sebuah ikon yang tak hanya menjadi kebanggaan Jakarta, tetapi juga Indonesia.

Ini pun ada latar belakang sejarahnya. Mari menilik sedikit ke belakang. Tempat di mana Monas berdiri tegak saat ini, dulunya merupakan lapangan, stadion, dan fasilitas olahraga atletik yang dibangun pemerintahan kolonial sebelum memasuki abad ke-19. Kawasan ini pada awalnya dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman William Daendels (1818) dan bernama Champ de Mars karena bertepatan penaklukan Belanda oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis.

Ketika Belanda berhasil merebut kembali negerinya dari Perancis, nama lapangan ini diubah menjadi Koningsplein (Lapangan Raja). Sementara masyarakat pribumi lebih senang menyebutnya Lapangan Gambir mengingat banyaknya pohon gambir di sana pada saat itu dan kini diabadikan untuk nama stasiun kereta api di dekatnya.

Di lapangan ini pula dulu terdapat Pasar Gambir yang menjadi cikal bakal Pekan Raya Jakarta (PRJ). Pasar Gambir semula merupakan pasar malam yang diselenggarakan pertama kali pada tanggal 31 Agustus 1898 untuk merayakan penobatan Ratu Wilhelmina sebagai pemimpin Belanda. Namun, pada tahun berikut-berikutnya penyelenggaraan Pasar Gambir terus diadakan untuk merayakan hari ulang tahun sang Ratu.

Sejak 1921, Pasar Gambir menjadi perhelatan tahunan dan menjadi pendahulu dari festival PRJ. Lalu pada masa pemerintahan Jepang, yang dimulai tahun 1942, Lapangan Gambir berubah nama menjadi Lapangan Ikatan Atletik Djakarta (Ikada).

Setelah masa kemerdekaan, Presiden RI pertama, Soekarno, berinisiatif untuk membangun sebuah monumen yang dapat membangun rasa nasionalisme bangsa di tempat tersebut. Maka, pada tahun 1961 mulailah dibangun Monumen Nasional setinggi 132 meter yang akhirnya dapat dibuka untuk umum tahun 1972.

“Lapangan Ikada dibongkar untuk membuat rasa nasionalisme yang sekarang menjadi Monas,” kata Candrian.

Tahun 1968, Gubernur DKI Jakarta pada masa itu, Ali Sadikin, menggunakan Monas sebagai tempat penyelenggaraan PRJ atau Jakarta Fair untuk memperingati hari jadi kota Jakarta pada tanggal 22 Juni. PRJ setiap tahunnya rutin diadakan selama sebulan. Hingga pada tahun 1992, penyelenggaraan PRJ mulai dipindahkan ke Kemayoran.

Dibangunnya Monas dengan tujuan memunculkan rasa nasionalisme dinilai cukup efektif oleh Candrian. Sebuah museum sejarah nasional yang terletak di permukaan Monas dibuat untuk menggambarkan pergerakan bangsa dari zaman prasejarah, kerajaan, pergerakan nasional, proklamasi, mempertahankan kemerdekaan, hingga era pembangunan nasional.

Kini, rata-rata 1.500 masyarakat dari berbagai daerah datang ke Monas setiap harinya dan dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada akhir pekan.

Dari puncak Monas, mereka dapat melihat wajah ibu kota dari ketinggian. “Dari sini (puncak Monas) bisa lihat Jakarta. Tapi berbeda sejak enam tahun lalu saya ke sini, sekarang makin banyak gedung-gedung tinggi di Jakarta,” tutur seorang pengunjung Monas, Rizal, kepada Metrotvnews.com, Rabu (17/6/2015).


(ADM)

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG
Liga Champions 2017--2018

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG

23 hours Ago

Cristiano Ronaldo menegaskan dia dan rekan setimnya tidak takut jika harus berhadapan dengan Pa…

BERITA LAINNYA
Video /