Ini Kata BNPT Soal Kabar WNI Dipenggal ISIS

K. Yudha Wirakusuma    •    26 Juni 2015 11:09 WIB
isis
Ini Kata BNPT Soal Kabar WNI Dipenggal ISIS
Ilustrasi--afp

Metrotvnews.com, Jakarta: Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang tidak diketahui identitasnya dikabarkan dieksekusi mati oleh Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Penyebabnya diduga WNI tersebut menularkan virus HIV ke anggota ISIS lewat donor darah.

Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan H Purwanto mengatakan kasus tersebut bukanlah tanggung jawab negara. Karena bergabung ISIS melanggar Undang-Undang (UU) Kewarganegaraan.

“Kalau sudah di medan perang menjadi tanggung jawab pribadi. Kenapa mereka mau masuk medan pertempuran, apalagi bukan perang di negara kita. Dalam Undang-Undang (UU) Kewarganegaraan, disebutkan ada kewajiban WNI yang harus dijunjung tinggi, terutama larangan bergabung dengan milisi negara luar,” kata Wawan di Jakarta, Jumat (26/6/2015).

Memang ada yang meyakini, lanjutnya, bahwa perang di saat Ramadan lebih bernilai. Apalagi ada teori pertempuran baru yang menyangkut kebiadaban sehingga mereka melakukan pemenggalan di bulan Ramadan.

Itu dilakukan sebagai upaya untuk menggetarkan nyali lawan. "Tapi sebagai orang Islam seharusnya bulan Ramadan tidak dikotori tindakan-tindakan biadab seperti itu. Ramadan itu seharusnya sejuk,” ucapnya.

Dia mengatakan apa yang terjadi dengan ISIS sebenarnya bukan konflik agama, tetapi karena campur aduk politik. Hal itulah yang membuat timbulnya pemahaman berbeda terkait perang di bulan Ramadan.

“Dengan teori kebiadaban itu, tindakan kekerasan itu menurut mereka sebagai kebenaran, selama ditujukan kepada lawan. Dan itu tidak memandang bulan apa. Bahkan ada di sejumlah negara, terjadi perang di bulan Ramadan. Sepertinya perlu ada kesepakatan ulama untuk mendefinisikan pemahaman agar Ramadan itu damai dan juga tentunya tentang pemahaman jihad yang benar,” imbuhnya.

Wawan menyarankan kepada para WNI yang tergiur bujuk rayu ISIS untuk pergi ke Suriah agar menimbang kembali langkah tersebut. Mereka harus benar-benar menggunakan akal sehat dan menilai dirinya apakah sudah selayaknya berada di tempat antah berantah tersebut.

"Buat apa kita mencari masalah. Di sana kondisinya sangat berbeda dengan Indonesia. Medan serta cuacanya sangat berat. Kita harus punya ilmu mumpuni bila nekad bergabung dengan ISIS. Kalau tidak, saya yakin kita (WNI) hanya akan jadi korban saja,” paparnya.

Intinya, lanjut Wawan, tanpa keterampilan dan kemampuan menghadapi medan perang, jangan harap bisa bertahan lama di wilayah konflik seperti Irak dan Suriah.

Apalagi di Suriah saat ini ada 14 Faksi yang terlibat perang. Serangan bisa terjadi tidak hanya dari ISIS, tetapi dari faksi mana saja, termasuk angkatan bersenjata Suriah yang terbukti pernah menewaskan WNI.

Sebelumnya Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir tidak bisa memverifikasi WNI yang dieksekusi ISIS karena menyebarkan AIDS.

"Kami telah mencoba minta verifikasi penulis awal berita ini. Dari komunikasi kami dengan media tersebut, beritanya tidak ada verifikasi konkret," lanjutnya.

Menurut Arrmanatha, media Inggris Daily Mail yang memuat berita itu, tidak memiliki nama dari WNI tersebut.

"Selain itu mereka juga tidak memiliki kejelasan di mana dan kapan kejadian eksekusi mati itu berlangsung. Mereka tidak bisa berikan detail. Jadi kami tidak bisa verifikasi adanya kejadian tersebut," tegas pria yang biasa disapa Tata itu.

WNI yang tidak diketahui namanya itu dikabarkan telah menyebarkan kepanikan di antara anggota ISIS di Shaddadi, Provinsi Hasaka.

Penyebaran ini terbongkar setelah dilakukan tes terhadap seorang anggota ISIS asal Mesir, yang mendapatkan donor darah dari WNI tersebut. Selain itu, seorang warga etnis Yazidi berusia 15 tahun, yang merupakan budak seksnya, turut terinfeksi AIDS.

Anggota ISIS asal Mesir dan tahanan etnis Yazidi itu diperiksa oleh dokter ketika wajahnya tampak pucat. Dokter yang melakukan tes medis, menemukan bahwa keduanya terinfeksi AIDS. Sementara WNI yang anggota ISIS itu, diyakini telah menyebarkan penyakit itu usai memberikan donor darah.

Penyelidikan terhadap latar belakang medis WNI tadi memperlihatkan bahwa dia sudah menderita AIDS sebelum bergabung ISIS, September 2014 lalu. Setelah ketahuan, WNI itu itu dikabarkan dieksekusi mati karena telah menyebarkan penyakit ke anggota ISIS dengan mendonorkan darahnya kepada anggota yang terluka.


(YDH)


Lawan Uji Coba Timnas U-22 Tidak Harus Klub Besar
Persiapan Piala AFF U-22

Lawan Uji Coba Timnas U-22 Tidak Harus Klub Besar

6 hours Ago

Indra Sjafri membantah bahwa Timnas U-22 akan beruji coba melawan Persija Jakarta dan Persebaya…

BERITA LAINNYA
Video /