Akselerasi Industri, Kemenperin Rangkul Pakar & Pelaku Usaha

Husen Miftahudin    •    26 Juni 2015 17:20 WIB
kementerian perindustrian
Akselerasi Industri, Kemenperin Rangkul Pakar & Pelaku Usaha
Menteri Perindustrian Saleh Husin (Foto: Dokumentasi Kemenperin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan, pada triwulan I-2015 ini sektor industri mampu tumbuh 5,2 persen, lebih tinggi dibanding dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya 4,71 persen. Capaian tersebut, harus ditingkatkan lagi dengan memperdalam struktur industri melalui memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha.

Tak hanya itu, lanjut dia, pihaknya juga akan membuka peluang adanya sinkronisasi antara kajian dan analisis para pakar, pelaku usaha serta kementerian teknis terkait seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sinkronisasi tersebut seperti tentang harga energi, baik listrik dan gas untuk kalangan industri.

"Harga yang lebih ekonomis mampu menggenjot daya saing industri nasional. Juga soal dwelling time yang kemarin menjadi sorotan Presiden. Ini kita harus sinkronkan," ujar Saleh, melalui keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (26/6/2015).

Ia memaparkan, prospek industri pengolahan diyakini mampu menarik investasi. Pasalnya, Indonesia merupakan produsen produk pertanian utama dengan komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kakao, karet, dan rotan.

Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia dengan produksi minyak sawit (CPO dan CPKO) pada 2014 mencapai 31 juta ton, kakao 0,45 juta ton, kelapa 3,3 juta ton dan karet 3,23 juta ton. Indonesia juga merupakan produsen migas, mineral logam dan batubara terbesar dunia dengan produksi minyak bumi pada 2014 sebesar 825 ribu barel per hari, gas bumi sebesar 7.039 british thermal unit per hari, batu bara sebesar 97 juta ton dan sumber pemasok utama nikel dunia dengan produksi 60 juta ton, bauksit sebesar 56 juta ton dan besi sebesar 19 juta ton.

"Sepanjang triwulan I-2015, cabang-cabang industri yang mengalami pertumbuhan tertinggi antara lain industri kimia, farmasi dan obat tradisional 9,05 persen, industri logam dasar sebesar 8,66 persen, industri makanan dan minuman sebesar 8,16 persen, serta industri kertas dan barang cetakan sebesar 6,02 persen," pungkas Saleh.


(ABD)


Nostalgia Kiper Klub Liga Inggris di Piala AFF 2018
Piala AFF 2018

Nostalgia Kiper Klub Liga Inggris di Piala AFF 2018

12 minutes Ago

Kembalinya Etheridge ke Piala AFF ditandai dengan hasil positif. Filipina berhasil meraih kemen…

BERITA LAINNYA
Video /