Tausiyah: Berpuasa karena Mengharap Pahala

Fetry Wuryasti    •    02 Juli 2015 16:15 WIB
ramadan 2015
Tausiyah: Berpuasa karena Mengharap Pahala
Foto: MI/Rommy Pujianto

JIKA umat Islam menjalankan puasa dengan benar, yaitu didasari iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

"Kita berpuasa karena menaati Allah. Bukan sekadar menahan lapar dan haus saja, tetapi ada yang kita harapkan, yaitu pahala," kata Ustaz Beta Sagita dari Yayasan Pengembangan Insan Pertanian Indonesi (YAPIPI) Bogor saat memberikan tausiyah tarawih kepada 300 peserta Jambore Anak Yatim Nusantara & Orphanship di atas kapal perang KRI Banda Aceh 593.

Dalam hadits Bukhari berbunyi "Barang siapa berpuasa Ramadan dengan rasa iman, dan mengharapkan pahala, jelas bukan sekadar ikut-ikutan dan dipaksa, tapi mengharap pahala, maka akan Allah ampuni dosa-dosanya yang telah berlalu."

Dari hadits ini, lanjut Ustaz Beta, seharusnya kita sebagai manusia instropeksi diri akan banyaknya dosa yang telah kita lakukan, seperti dosa mata dan dosa mulut.

Puasa seseorang harus didasari iman, ikhlas karena Allah, mengharap pahala-Nya, mengagungkan syariat-Nya, bukan melakukannya atas dasar riya’, cari pujian atau hanya sekadar mengikuti kebiasaan orang sekitar.

Kalau individu mendasari puasa dengan iman, mengharap pahala dan rida, tentu hatinya semakin tenang, lapang dan bahagia. Dia pun akan bersyukur atas nikmat puasa Ramadan yang didapati tahun ini. Hatinya tentu tidak merasa berat dan susah ketika menjalani puasa.

Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Oleh karenanya, seseorang yang merasa dirinya berbuat dosa, dengan hadits ini maka dia akan berusaha berpuasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan betul-betul mengharapkan pahala dari Allah SWT.

"Dengan menyebut segala dosa dalam puasa itu, tidak hanya makan dan minum. Kita juga harus hilangkan kebiasaan mengejek orang, membicarakan orang, berbohong," terangnya.

Surat Al Baqarah ayat 183 mengatakan, "Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

"Makanya puasa itu merupakan bentuk bertakwa. Sayang pada kenyataanya, banyak orang berpuasa tapi ketakwaannya tidak. Tetap saja dia menyakiti, menzalimi orang lain," papar Ustaz.

Rasulullah pun bersabda "Barang siapa bersungguh-sungguh menjalankan dan mengamalkan syariat ini maka bagi dia kami akan berikan hidayah. Sehingga bisa mengarungi jalan-jalan kami, jalan-jalan menuju surga."

Jadi apakah puasa kita, umat Islam sudah sungguh-sungguh? Masihkah kita membicarakan orang lain atau melihat apa yang Allah SWT haramkan? Yang justru menghalangi kita dari ketakwaan. Maka kita harus benar-benar melaksanakan ibadah puasa dengan mengharapkan pahala dan cemas bila Allah SWT sampai murka.


(TRK)


Video /