OC Kaligis: Panitera PTUN Medan Telepon Terus Minta THR

Yogi Bayu Aji    •    15 Juli 2015 13:17 WIB
kpk tangkap hakim ptunoc kaligis tersangka
OC Kaligis: Panitera PTUN Medan Telepon Terus Minta THR
KPK tahan pengacara kondang OC Kaligis--Foto: Antara/Vitalis Yogi Trisna

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengacara Otto Cornelis Kaligis merasa bersih. Dia tak terlibat kasus dugaan suap di Pengadilan Tata Usaha Negara Medan. Sebaliknya, Kaligis mengatakan, pihaknya jadi korban teror.

Menurut Kaligis, teror datang dari Panitera PTUN Medan Syamsir Yusfan. Syamsir berulang kali menagih jatah tunjangan hari raya lewat anak buah Kaligis, M. Yagari Bhasatara alias Gerry.

"Katanya paniteranya telepon terus menerus untuk datang bawa THR (Tunjangan Hari Raya)," kata Kaligis di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (15/7/2015).

Kaligis mengaku sudah memerintahkan Gerry tidak menggubris permintaan itu. Namun, Gerry bersikeras tetap ke PTUN Medan.

"Saya sudah larang anak buah saya ke sana. Tapi dia ngotot minta tiket," jelas dia.

Kaligis menampik permintaan THR ditujukan untuk hakim PTUN. "Enggak dong. Hakimnya belum tentu," tegas dia.

Kaligis resmi menjadi tersangka kasus dugaan suap hakim PTUN Medan sejak Selasa 14 Juli. Dia ditahan di Rumah Tahanan Guntur untuk 20 hari ke depan.

Perkara ini bermula dari penyidikan kasus korupsi Dana Bantuan Sosial dan Bantuan Daerah Bawahan (BDB) Sumut tahun anggaran 2012 dan 2013 yang menyeret mantan Kabiro Keuangan Sumut Ahmad Fuad Lubis. Kasus disidik Kejaksaan Tinggi Sumut.

Kasus Dana Bansos dan BDB Sumut sudah diputus bebas di Pengadilan Tinggi Sumut. Berbekal putusan itu, Ahmad Fuad Lubis balik memperkarakan Kepala Kejaksaan Tinggi atas kasus yang menyeretnya melalui Pengacara M. Yagari Bhastara alias Gerry dari kantor pengacara OC Kaligis.

Ahmad menggugat kewenangan penyelidikan Kejati Sumut dalam perkara tersebut ke PTUN. Perkara ini dipegang Ketua PTUN Tripeni Irianto Putro dan Hakim Amir Fauzi, dan Hakim Dermawan Ginting. Ahmad Fuad Lubis pun diputus menang dalam gugatan di PTUN.

Rupa-rupanya, putusan Tripeni berbau amis. Usai membacakan putusan, dia dan dua rekannya, serta panitera Syamsir Yusfan yang juga menjabat Sekretaris PTUN Medan, dicokok KPK pada Kamis 9 Juli lalu.

Pada saat menangkap mereka, penyidik KPK mengamankan USD15 ribu dan SGD5 ribu dari Ruangan Ketua PTUN Medan. Diduga saat itu mereka menerima uang suap yang diantarkan Gerry yang menjadi pengacara Ahmad Fuad.

Dari hasil pemeriksaan, Gerry diduga selaku penyuap dinilai melanggar Pasal 6 Ayat 1 huruf a dan Pasal 5 Ayat 1 huruf a atau b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 54 Ayat 1 dan Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Tripeni, Amir dan Dermawan diduga sebagai penerima suap selaku majelis hakim disangka Pasal 12 huruf a atau huruf b atau huruf c atau Pasal 6 Ayat 2 atau Pasal 5 Ayat2 atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 Ayat 1 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1.

Syamsir Yusfan disangkakan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 Ayat 1 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1.

KPK terus menelusuri sumber suap berasal. Lembaga antikorupsi berkeyakinan, uang yang ditemukan bukan berasal dari Gerry. Kemarin, KPK akhirnya menggeledah kantor OC Kaligis dan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho.

Dari hasil pengembangan, KPK kemudian menetapkan OC Kaligis sebagi tersangka. Dia diduga melanggar pasal 6 ayat 1 huruf a dan pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b dan atau pasal 13 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU 20 tahun 2010 juncto Pasal 64 Ayat 1 juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP.


(MBM)

Video /