Rekonsiliasi Idul Fitri

   •    17 Juli 2015 18:07 WIB
lebaran 2015
Rekonsiliasi Idul Fitri
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

Usman Kansong, pemimpin redaksi Media Indonesia
 

BAGI bangsa Indonesia, Idul Fitri bukanlah sekadar ritual pentig bagi umat muslim. Untuk masyarakat plural seperti di Nusantara ini, Idul Fitri serupa dengan festival besar merayakan kebersamaan.

Seusai salat Idul Fitri, tradisi saling memaafkan menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dengan festival besar tersebut. Sikap saling memaafkan itu meneguhkan pentingnya prinsip kebenaran dan rekonsiliasi dalam kehidupan berbangsa.

Bagi mereka yang kerap menggunakan konflik dan kekerasan atas nama agama, Idul Fitri menjadi momen ideal untuk mengakui kekhilafan serta memohon maaf kepada yang terluka. Permohonan maaf itu diikuti dengan mempertanggungjawabkan tindakan yang tidak terpuji tersebut di hadapan hukum.

Untuk mereka yang kerap memainkan ‘nasib’ anak bangsa ini di tangan mereka melalui rupa-rupa bentuk penguasaan aset dan akses ekonomi secara tidak sah dan membabi buta, Idul Fitri menjadi saat yang tepat untuk bertobat. Bentuknya, dengan menghentikan beragam kegiatan pengisapan atas kebutuhan rakyat itu untuk selama-lamanya.

Khususnya kepada mereka yang terluka, Idul Fitri mengajarkan bahwa pemberian maaf dan rekonsiliasi adalah di antara dua sifat manusia yang paling mulia, dengan tetap menjunjung tinggi penyingkapan kebenaran itu sendiri. Dengan begitu, Idul Fitri dengan sendirinya membuka ruang untuk berdamai, bersatu padu, bergotong royong mengatasi persoalan secara bersama.

Tidak bisa dimungkiri, bagi sebagian besar masyarakat, Idul Fitri 2015 kali ini dilalui dengan sejumlah kesulitan. Mulai dari harga-harga kebutuhan pokok yang terus membubung, bayang-bayang kehilangan lapangan pekerjaan yang terus menghantui, serta rasa aman yang belum sepenuhnya pulih.

Pada titik itulah, kebersamaan sesama anak bangsa merupakan keniscayaan. Karena itu, sikap mementingkan diri sendiri dan kelompok dari sebagian elite kita bukan saja tidak pantas, melainkan telah melukai semangat kebangsaan.

Masih banyak perkara penting dan genting yang mesti dibereskan. Negeri ini tengah menghadapi kelesuan ekonomi dampak dari perekonomian global, juga masih adanya kelambanan dalam merespons dan membuat kebijakan.

Kepada para politisi, kondisi seperti sekarang ini mestinya menjadi saat yang tepat untuk membantu memudahkan keadaan, bukan malah terus memproduksi kebisingan yang tidak perlu.

Dalam kehidupan berbangsa, Idul Fitri menyadarkan pemimpin dan para elite kita agar meminta maaf secara tulus kepada anak bangsa karena belum mampu mewujudkan kehidupan rakyatnya yang lebih adil dan sejahtera. Alih-alih mewujudkan misi mulia itu, tidak sedikit di antara elite kita yang justru bertindak bukan sebagai pemecah masalah, melainkan menjadi bagian dari masalah.

Maka, Idul Fitri mestinya mampu menggugah nurani para elite kita untuk mengedepankan aksi yang solutif, menjunjung tinggi integritas moral, dan yang terpenting, menyejahterakan rakyatnya, bukan dirinya, keluarganya, juga kelompoknya. Jika itu yang terjadi, negeri ini segera terbebas dari krisis negarawan. Selamat Idul Fitri.
 


(LHE)

Timnas Indonesia U-16 Siap Lawan Laos di Laga ke-4 Grup G

Timnas Indonesia U-16 Siap Lawan Laos di Laga ke-4 Grup G

2 hours Ago

Timnas U-16 hanya membutuhkan hasil seri di laga terakhir penyisihan Grup G saat menghadapi Lao…

BERITA LAINNYA
Video /