Komite Wasit PSSI Hukum Lima Wasit ISL

- 22 April 2013 22:27 wib
Ilustrasi--ANTARA/R. Rekotomo/zn
Ilustrasi--ANTARA/R. Rekotomo/zn

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebanyak lima wasit yang memimpin pertandingan kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2012/2013 mendapatkan sanksi dari Komite Wasit PSSI setelah mereka melakukan pelanggaran selama bertugas.

"Pemberian hukuman atau sanksi ini merupakan salah satu bentuk upaya meminimalisir buruknya kualitas perangkat pertandingan," kata Ketua Komite Wasit PSSI Roberto Rouw di Jakarta, Senin (22/4).

Wasit yang mendapatkan hukuman larangan memimpin pertandingan ini adalah Aeng Suaelan selama satu musim kompetisi, Ahmad Suparman (Jawa Barat) selama empat pekan, Jerry Elly ( Jawa Barat) enam pekan, Maslah Iksan (Sumatra Utara) 12 pekan dan Moch Adung (DKI) empat pekan.

Menurut dia, dari kelima wasit yang dihukum, Aeng Suarlan mendapatkan sanksi paling tinggi. Untuk itu keberadaan wasit yang memimpin pembukaan kompetisi ISL musim 2012/2013 terus dipantau oleh Komite Wasit PSSI yang diantaranya beranggotakan Purwanto dan Jimmy Napitupulu.

"Memang wasit Aeng Suarlan diputuskan untuk off satu musim kompetisi. Tetapi dia terus dipantau juga oleh Komite Wasit. Bisa saja dipotong masa hukumannya. Tapi bisa juga tidak," kata Roberto menegaskan.

Pria yang akrab dipanggil Berto itu menambahkan, untuk pengawas pertandingan Komite Wasit PSSI juga  telah memberikan hukuman salah satunya kepada Budi Winarso asal Jawa Tengah. Hukuman yang diberikan selama enam pekan.

Untuk asisten wasit, Komite Wasit PSSI telah memberikan hukuman kepada 11 orang. Hukuman yang diberikanpun berbeda-beda mulai dibebas tugaskan selama empat hingga enam pekan.

11 asisten wasit itu adalah  Alexander Dacosta (DIY), Budi Prihanarko (Jabar), Ficky Pengarepan (Sulut), Fuad Kohar (Jatim), Jhonie (Jatim), M Syamsuri (DKI Jakarta), M Yamin Saputra (Jabar), Moch Musyafak (Jatim), Puji Abadi (DKI Jakarta), Tri Wahyudi (DIY) dan Ujang Suryana (DKI).

"Kita akan update dan sampaikan ke publik nama-nama mereka yang dihukum. Biar semua tahu bahwa kami di PSSI bekerja keras untuk melindungi dan memastikan kualitas kompetisi berjalan dengan baik dan sesuai apa yang kita canangkan," kata pria yang juga anggota Komite Eksekutif PSSI itu.

Selain memberikan hukuman kepada perangkat pertandingan, Komisi Disiplin PSSI yang diketuai oleh Hinca Pandjaitan juga telah melaksanakan tugasnya. Korban pertama ketegasan Komisi Disiplin itu adalah memberikan denda pada dua pemain yaitu Mekan Nasirov dan Lancine Kone sebesar masing-masing Rp50 juta.

Hukuman juga diberikan kepada panitia pelaksana (panpel) pertandingan yang dinilai tidak melaksanakan pertandingan dengan baik diantaranya dari Persisam Samarinda, Gresik United, dan Persija. Masing-masing panpel diganjar denda sebesar Rp20 juta. (Antara)

()

INGGRIS
SPANYOL
JERMAN
INDONESIA

Mata Najwa: Melawan Arus

02 September 2014 21:09 wib

Mata Najwa: Perbedaan pendapat merupakan hal yang umum terjadi dan dijamin kebebasannya dalam UU negara. Namun ternyata di negara demokratis ini, perbedaan pendapat dan pandangan justru sulit diterima di sejumlah partai politik.  Sejumlah anggota yang memilih untuk melawan arus, harus menghadapi resiko menerima sanksi.  Reformasi dalam partai politik pun seakan tak berbunyi. Sebagai pilar demokrasi, partai politik malah jadi sumber masalah. Kaderisasi tak berjalan, hanya mencari kawan yang sepaham, sementara idealism tak lagi diusung ke depan.   Namun sikap para politikus pun harus ditelaah.  Apakah keberpihakan mereka memang sungguh mengikuti hati nurani, mendengar suara rakyat dan idealisme atau hanya membungkus sikap pragmatis. Mata Najwa mengundang politikus senior Lily Wahid yang pernah membuat gebrakan di PKB. Lily melawan kebijakan partai saat duduk di kursi DPR, menggugat kasus Century dan mengusung hak angket mafia pajak. Serta Yusuf Supendi yang terus mengkritisi ketidak-adilan elit partai yang didirikannya, PKS. Dari jalur politik terkini, hadir pula sebagai narasumber politikus partai Demokrat, Ruhut Sitompul, politikus partai Gerindra, Harris Indra dan politikus partai Golkar, Nusron Wahid. Ketiganya menghadapi situasi yang berbeda-beda, meski sama-sama melawan arus kebijakan partainya dengan mendukung Jokowi. Pengamat politik, Yunarto Wijaya juga hadir untuk memberikan gambaran mengenai kondisi partai politik Indonesia saat ini.  Saksikan selengkapnya hanya di Mata Najwa, Rabu 3 September 2014 pukul 20:05 WIB di Metro TV.