Maarif Institute: Kerusuhan Tolikara Nodai Kerukunan Beragama

Wandi Yusuf    •    18 Juli 2015 18:03 WIB
penyerangan
Maarif Institute: Kerusuhan Tolikara Nodai Kerukunan Beragama
Direktur Eksekutif Maarif Institut for Culture and Humanity, Fajar Riza Ul Haq (kiri), Foto: MI

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan aksi penyerangan terhadap umat Islam yang sedang menjalankan Salat Id pada Jumat, 17 Juli , di Tolikara, Papua, menodai suasana kerukunan umat beragama.

"Adanya keterlibatan Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) dalam tindakan brutal tersebut sangat disesalkan," kata Fajar, seperti dilansir Antara, Sabtu (18/7/2015).

Fajar mengatakan ada beberapa hal mendesak terkait insiden itu. Pertama, pihak kepolisian harus mengusut kebenaran surat yang dikeluarkan oleh GIDI. Surat ini dapat dianggap sebagai bentuk ancaman bahkan teror terhadap eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain di wilayah Tolikara.

Pihak kepolisian, lanjutnya, harus segera menangkap dan mengusut motif dan aktor di balik aksi penyerangan. Hal ini, kata dia, agar persoalan tidak berlarut-larut sehingga bisa menimbulkan opini liar di masyarakat.

"Pembiaran terhadap kesewenang-wenangan kelompok nonnegara yang melarang kebebasan beribadah merupakan ancaman serius," katanya.

Kedua, pemerintah harus menerapkan kebijakan sistematis dalam mengelola kemajemukan di bumi Papua. Semakin derasnya arus migrasi ke Papua membuat lebarnya pintu masuk paham-paham keagamaan yang mungkin tidak
menjungjung tinggi semangat perbedaan.

"Isu Kristen versus Islam menjadi sangat rentan, terlebih jika disulut kesenjangan ekonomi," katanya.

Ketiga, organisasi keagamaan Kristen moderat harus bersikap proaktif membuka komunikasi dengan kelompok-kelompok Islam guna mencegah salah paham.

"Mereka harus memberikan informasi mengenai dinamika kelompok-kelompok Kristen yang sebenarnya tidak monolitik. Jangan sampai masyarakat terseret opini yang mengeneralisasikan benturan kelompok-kelompok ekstrem dari masing-masing agama yang jumlahnya kecil," jelas putra kandung tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif ini.


(UWA)


Video /