Persiwa Pertanyakan Tindak Lanjut Surat Protes

- 27 April 2013 09:24 wib
ANTARA/Fahrul Jayadiputra
ANTARA/Fahrul Jayadiputra

Metrotvnews.com, Jayapura: Persiwa Wamena mempertanyakan tindak lanjut surat protes yang telah dilayangkan kepada pengelola Liga Super Indonesia terkait laga tandang melawan Pelita Bandung Raya (PBR) pada Minggu (21/4).

"Kami menanyakan kepada operator, pengelola ataupun PT Liga Indonesia terkait surat protes Persiwa atas pertandingan pada Minggu lalu," kata manajer Persiwa Wamena Agus Santoso, Jumat (26/4).

Agus menjelaskan seusai pertandingan yang berkesudahan 1-2 untuk tim tuan rumah PBR dan diwarnai insiden pemukulan wasit dengan dua kartu kuning dan dua tendangan penalti di Stadion Siliwangi, Bandung, pihaknya langsung mengirimkan surat protes keras via email kepada PT Liga Indonesia.

Surat itu intinya berisi protes atas pertandingan yang berjalan kurang fair serta kepemimpinan wasit yang kurang profesional hingga berujung insiden pemukulan.

"Kami ingin menanyakan sejauh mana surat protes kami ditanggapi atau diproses oleh pihak pengelola liga karena hingga saat ini belum ada balasan ataupun tanggapan dari surat tersebut." katanya.

Persiwa berpendapat, surat protes tersebut seharusnya ditanggapi dan dikoordinasikan dengan PSSI atau pihak terkait lainnya.

Agus menilai operator pengelola Liga Super Indonesia lamban dalam berkoordinasi dan mengantisipasi masalah yang sedang terjadi sehingga Komisi Disiplin (Komdis) PSSI segera mengambil sikap untuk menyidang pemain Persiwa Pieter Rumaropen.

"Jika surat tersebut ditanggapi operator liga dan dikoordinasi kepada PSSI, mungkin keputusan hukuman Pieter Rumaropen tidak berat," katanya.

Sebelumnya, pemain klub Persiwa Wamena Pieter Rumaropen dihukum seumur hidup tidak boleh berkecimpung di persepakbolaan nasional oleh Komisi Disiplin PSSI setelah melakukan tindakan tidak terpuji terhadap wasit.

Hukuman tegas kepada Pieter Rumaropen itu diputuskan pada sidang Komdis PSSI di Jakarta, Rabu (24/4). (Ant)

()

INGGRIS
SPANYOL
JERMAN
INDONESIA

Mata Najwa: Melawan Arus

02 September 2014 21:09 wib

Mata Najwa: Perbedaan pendapat merupakan hal yang umum terjadi dan dijamin kebebasannya dalam UU negara. Namun ternyata di negara demokratis ini, perbedaan pendapat dan pandangan justru sulit diterima di sejumlah partai politik.  Sejumlah anggota yang memilih untuk melawan arus, harus menghadapi resiko menerima sanksi.  Reformasi dalam partai politik pun seakan tak berbunyi. Sebagai pilar demokrasi, partai politik malah jadi sumber masalah. Kaderisasi tak berjalan, hanya mencari kawan yang sepaham, sementara idealism tak lagi diusung ke depan.   Namun sikap para politikus pun harus ditelaah.  Apakah keberpihakan mereka memang sungguh mengikuti hati nurani, mendengar suara rakyat dan idealisme atau hanya membungkus sikap pragmatis. Mata Najwa mengundang politikus senior Lily Wahid yang pernah membuat gebrakan di PKB. Lily melawan kebijakan partai saat duduk di kursi DPR, menggugat kasus Century dan mengusung hak angket mafia pajak. Serta Yusuf Supendi yang terus mengkritisi ketidak-adilan elit partai yang didirikannya, PKS. Dari jalur politik terkini, hadir pula sebagai narasumber politikus partai Demokrat, Ruhut Sitompul, politikus partai Gerindra, Harris Indra dan politikus partai Golkar, Nusron Wahid. Ketiganya menghadapi situasi yang berbeda-beda, meski sama-sama melawan arus kebijakan partainya dengan mendukung Jokowi. Pengamat politik, Yunarto Wijaya juga hadir untuk memberikan gambaran mengenai kondisi partai politik Indonesia saat ini.  Saksikan selengkapnya hanya di Mata Najwa, Rabu 3 September 2014 pukul 20:05 WIB di Metro TV.