Sanksi Bagi Rektor dan Mahasiswa Senior yang Melakukan Perploncoan

Husen Miftahudin    •    26 Juli 2015 15:09 WIB
pendidikan
Sanksi Bagi Rektor dan Mahasiswa Senior yang Melakukan Perploncoan
Menristek Dikti Muhamad Nasir bersama ketua IKA Undip saat sidak ujian mandiri SBMPTN di SMKN 29 Jakarta. (MTVN/Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir menyatakan bahwa perploncoan saat Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) bagi mahasiswa baru dilarang terjadi di perguruan tinggi. Ia menegaskan, sifat Ospek harus dengan bentuk perkenalan kegiatan yang ada di lingkungan kampus, bukan melakukan tindakan perploncoan yang jauh dari tujuan pendidikan.

Pelarangan perploncoan ini pun sudah disampaikan kepada seluruh rektor perguruan tinggi di Indonesia, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS). Bahkan untuk lebih mempertegas kegiatan Ospek di lingkungan kampus kepada mahasiswa baru, pihaknya telah memberikan buku panduan pedoman Ospek yang telah disebar ke semua kampus di Indonesia.

"Di perguruan tinggi (perploncoan) itu sudah lama kita tahu dan akan kita benahi. Ospek itu hanya untuk memperkenalkan kegiatan-kegiatan di kampus, bukan melakukan perploncoan, itu sudah dilarang. Ini sudah ada buku panduannya untuk melakukan pedoman Ospek yang sudah kami sebarkan pada bulan Juni dan sudah terkoordinasi kepada seluruh rektor perguruan tinggi di Indonesia," ujar Nasir, saat inspeksi Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru jalur mandiri Universitas Diponegoro (Undip) di SMKN 29, Jalan Prof Joko Sutono SH No 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (26/7/2015).

Ia mengungkapkan, jika perploncoan itu terjadi, maka mahasiswa senior dan rektor terancam dikenakan sanksi. Bagi mahasiswa senior yang melakukan perploncoan kepada mahasiswa baru, akan dikenakan sanksi berupa sanksi akademik, peringatan akademik hingga pemutusan studi, tergantung tindak perploncoan tersebut

"Kalau sampai tindakan Ospek itu kriminal, maka bisa-bisa diberikan sanksi dikeluarkan dari universitas tersebut (pemutusan studi)," tegasnya.

Sedangkan secara institusi, pihaknya akan memanggil rektor untuk dilakukan evaluasi pelanggaran secara indisipliner. Nasir menjelaskan, pelanggaran indisipliner dilakukan oleh Inspektorat Jenderal (Irjen) untuk mengecek pelanggaran yang terjadi.

"Kalau perploncoan terbukti, maka kami akan berikan sanksi ke rektor. Kalau sudah ada sanksi indisipliner, itu berbahaya bagi rektor tersebut," ungkap Nasir.

Pelarangan perploncoan ini, terangnya, dilakukan untuk melindungi anak bangsa dari proses pendidikan yang diawali dengan istilah balas dendam mahasiswa terdahulu kepada mahasiswa baru. 


(MEL)

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%
Jelang Chelsea vs Barcelona

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%

1 hour Ago

Pelatih Chelsea Antonio Conte tidak memungkiri bahwa laga melawan Barcelona akan jadi laga yang…

BERITA LAINNYA
Video /