Gatot-Evy Ditahan di Dua Rutan Berbeda

Achmad Zulfikar Fazli    •    03 Agustus 2015 21:46 WIB
oc kaligis tersangka
Gatot-Evy Ditahan di Dua Rutan Berbeda
Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho (kiri) dan istri mudanya, Evy Susanti -- MTVN/Wanda Indana

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah resmi menahan Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho dan Istri mudanya Evy Susanti. Keduanya ditahan atas kasus dugaan suap Hakim dan Panitera PTUN Medan.

Kuasa Hukum Gatot dan Evy, Razman Arif Nasution mengatakan bahwa keduanya akan mendekam di rumah tahanan (Rutan) yang berbeda. Gatot, kata dia, akan ditahan di Lapas Cipinang. Sedangkan, Evy akan ditahan di Rutan KPK.

"Kami telah menandatangani berita acara (penahanan). Pak Gatot dan Ibu Evi sangat kooperatif. Ibu Evy untuk 20 hari pertama akan (ditahan) di Rutan KPK. Pak Gatot di (Lapas) Cipinang," kata Razman kepada wartawan di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (3/8/2015).

Gatot dan Evy resmi ditahan KPK setelah menjalani pemeriksaan sekitar sembilan jam dengan penyidik KPK. Politikus Partai Keadilan Sejahtera ini dengan mengenakan rompi orange tahanan KPK sekitar pukul 21.08 WIB. 

Beberapa menit kemudian, Evy menyusul keluar dari gedung lembaga antikorupsi ini dengan didamping tim kuasa hukum dan pengawalan ketat petugas KPK.

Gatot sebelumnya sudah dua kali diperiksa, Rabu 22 Juli dan Senin 27 Juli. Tapi, sebagai saksi untuk tersangka M. Yagari Bhastara alias Gerry. Sedangkan Evy baru diperiksa Senin 27 Juli untuk tersangka yang sama.

Keduanya pun telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan suap Hakim dan Panitera PTUN Medan, pada 28 Juli. KPK juga telah mencekal Gatot dan Evy berpergian ke luar negeri.

Keduanya dijerat Pasal 6 Ayat 1 huruf a dan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b dan atau pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU 20 Tahun 2010 juncto Pasal 64 Ayat 1 jo Pasal 55 Ayat 1 KUHP.

Terbongkarnya suap di PTUN Medan dimulai dari kasus Dana Bantuan Sosial dan Bantuan Daerah Bawahan (BDB) Sumatera Utara tahun anggaran 2012 dan 2013 menyeret mantan Kabiro Keuangan Sumut Ahmad Fuad Lubis. Kasus itu disidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.

Kasus ini sudah diputus bebas di Pengadilan Tinggi Sumatera Utara. Berbekal putusan PT Sumut, Ahmad Fuad Lubis balik memperkarakan Kepala Kejaksaan Tinggi atas kasus yang menyeretnya melalui Pengacara M. Yagari Bhastara alias Gerry dari kantor pengacara O.C. Kaligis.

Ahmad menggugat kewenangan penyelidikan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dalam perkara tersebut ke PTUN. Perkara ini dipegang Ketua PTUN Tripeni Irianto Putro dan Hakim Amir Fauzi, dan Hakim Dermawan Ginting. Ahmad Fuad Lubis pun diputus menang dalam gugatan di PTUN.

Rupa-rupanya, putusan Tripeni berbau amis. Usai membacakan putusan, Tripeni dan dua hakim, Gerry, serta panitera Syamsir Yusfan yang juga menjabat Sekretaris PTUN Medan, dicokok KPK pada Kamis 9 Juli lalu.

Saat penangkapan, penyidik KPK mengamankan USD15 ribu dan SGD5 ribu dari Ruangan Ketua PTUN Medan. Diduga kuat, mereka menerima uang suap yang diantarkan Gerry, pengacara Ahmad Fuad.


(SUR)


Video /