Semester I-2015

Pendapatan Merosot 40%, Laba Pertamina Tergerus ke USD570 Juta

Annisa ayu artanti    •    05 Agustus 2015 13:15 WIB
pertamina
 Pendapatan Merosot 40%, Laba Pertamina Tergerus ke USD570 Juta
Gedung Pertamina -- FOTO ANTARA/Andika Wahyu

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Pertamina (Persero) mencatatkan penurunan laba bersih menjadi USD570 juta pada semester I-2015 jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sekitar USD1,13 miliar.

Merosotnya laba bersih yang disokong oleh peningkatan kinerja operasional di berbagai lini bisnis Pertamina ini karena jatuhnya harga ICP ke posisi USD59,4 per barel atau jatuh dari rata-rata ICP pada periode yang sama di 2014 sebesar USD106,6 per barel.

"Di sisi lain, rupiah terdepresiasi hingga lebih dari 10 persen dalam kurun waktu yang sama. Di tambah dengan rupiah yang semakin tertekan," ujar Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto, di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Rabu (5/8/2015).

Sementara itu, kinerja keuangan Pertamina sempat mengalami rebound setelah pada akhir 2014, dan awal kuartal I-2015 sempat menurun. Pendapatan perusahaan pelat merah ini hingga Juni 2015 juga melemah mencapai USD21,79 miliar atau turun 40,69 persen terhadap realisasi periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, beban pokok dan beban usaha mencapai USD20,22 miliar, atau lebih rendah 35,26 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu yang menggambarkan kuatnya pengaruh penurunan harga minyak mentah. Sedangkan EBITDA sebagai salah satu indikator kesehatan perusahaan tercatat mencapai USD2,32 miliar.

Dwi menceritakan, situasi industri migas saat ini sangat menantang sehingga perusahaan harus melakukan berbagai upaya termasuk langkah-langkah efisiensi.

"Di tengah kondisi tersebut Pertamina dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut dengan terus meningkatkan kinerja operasional. Dan melakukan efisiensi hingga dapat meraih laba bersih sebesar USD570 juta setelah pada awal tahun sempat alami kerugian," tambah Dwi Soetjipto.

Menurut dia, banyak perusahaan yang melakukan terobosan untuk dapat survive dari kondisi seperti ini. Namun Dwi menegaskan perusahaan pelat merah ini tidak sampai melakukan pemangkasan tenaga kerja seperti yang dilakukan perusahaan lainnya.

"Banyak perusahaan di dunia yang melakukan aksi trobosan agar dapat survive, mulai dari pengurangan capex hingga pemangkasan tenaga kerja diawal tahun yang masih berlanjut hingga saat ini," pungkas dia.


(AHL)


Video /