Rencana Kenaikan Cukai Rokok tak Matang, Target Bisa Meleset

Ade Hapsari Lestarini    •    05 Agustus 2015 13:27 WIB
tembakau
Rencana Kenaikan Cukai Rokok tak Matang, Target Bisa Meleset
Petani tembakau -- ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah disarankan untuk benar-benar matang dalam merencanakan kenaikan cukai rokok. Adapun jika salah mengambil kebijakan, maka target pemasukan negara malah meleset.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, saat ini rokok berkontribusi pada 95 persen pendapatan negara dari cukai. Oleh sebab itu, pemerintah mestinya membuka potensi lain untuk dikenai cukai.

"95 persen pendapatan cukai itu dari industri hasil tembakau. Di luarnya cuma lima persen, enggak masuk akal sebenarnya. Masa satu negara besar, cukainya tergantung dari perokok? Bagaimana sumber lain? Ini yang harus dibuka," katanya dalam sebuah diskusi, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (5/8/2015).

Enny mengakui bahwa rokok memang berkaitan erat dengan isu kesehatan. Menaikkan cukai pun merupakan salah satu cara untuk membatasi konsumsi dan produksi rokok. Dia pun mengingatkan, ketika keputusan pemerintah menaikkan cukai tak disertai infrastruktur jelas dan hanya menaikkan tarifnya saja tanpa mempertimbangkan variabel lain, maka yang terjadi adalah turunnya pendapatan cukai negara turun.

Menurutnya, bisa-bisa keputusan pemerintah menaikkan cukai rokok justru memicu tumbuhnya industri rokok ilegal dan mematikan pabrik-pabrik rokok resmi. "Konsumsi rokok itu sifatnya elastis, artinya orang rela tak makan asal bisa merokok. Artinya, kebijakan pemerintah justru mendorong rokok ilegal kemudian produsen mati," katanya.

Enny pun berharap ada pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menjadi solusi bagi semua pihak. "Target perlindungan konsumsi rokok tercapai, tapi penerimaan negara juga naik dan kesempatan kerja tetap terjaga," lanjutnya.

Karenanya ia menyarankan pemerintah menggenjot pendapatan cukai meningkat tidak hanya dari rokok. Misalnya, pada komoditas mewah. Seperti automotif, tas mahal yang harganya ratusan juta, atau berlian. Itu kan bagus untuk redistribusi pendapatan,” cetusnya.

Komoditas lain yang dibisa dikenai cukai tinggi adalah minuman beralkohol dan minuman bersoda. “Cukai itu kan perlindungan. Minuman itu (beralkohol/bersoda, red) juga buruk bagi kesehatan juga. Sama seperti rokok, minuman alkohol dan bersoda itu bisa mengganggu kesehatan. Semua itu bisa menjadi objek ekstensifikasi cukai,” ucapnya.

Sebelumnya anggota Komisi XI DPR, M Misbakhun menolak rencana pemerintah menaikkan cukai rokok. Menurutnya, kesalahan kebijakan menaikkan cukai rokok bisa membunuh industri rokok yang menjadi penghidupan bagi ribuan warga.

Misbakhun menuturkan, sejumlah pabrik rokok di Jawa Timur saja sudah memangkas ribuan pegawainya melalui PHK pada 2014 silam. "Kita butuh penerimaan negara dari cukai, tapi ada aspek ekonomi yang lebih penting dari sekadar menaikkan pemerimaan negara dari cukai rokok," katanya. “Makin tinggi nilai cukai, makin besar potensi kematian pabrik, dimulai dari golongan menengah ke bawah,” ujarnya.


(AHL)


Video /