Sekjen IPNU: Saatnya NU Keluar dari Kepentingan Politik

Tri Kurniawan    •    05 Agustus 2015 18:48 WIB
muktamar nahdlatul ulama
Sekjen IPNU: Saatnya NU Keluar dari Kepentingan Politik
Asrorun Niam Sholeh. Antara Foto

Metrotvnews.com, Jakarta: Sekretaris Jenderal Majelis Alumni Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Asrorun Niam Sholeh bersyukur akhirnya muktamirin menyepakati sembilan ahlul halli wal aqdi (ahwa). Selanjutnya, peserta muktamar NU akan memilih ketua umum PBNU periode 2015-2020.

Dia mengajak warga NU, khususnya peserta muktamar di Jombang, Jawa Timur, salat istikharah dan berdoa agar diberi hidayah, petunjuk, serta kekuatan untuk memilih pimpinan NU terbaik bagi NU dan bangsa ini ke depan

"Karena suksesnya transisi kepemimpinan di NU akan sangat menentukan masa depan bangsa, mengingat NU adalah bagian terbesar dari bangsa ini," kata Niam dalam siaran persnya kepada Metrotvnews.com, Rabu (5/8/2015).

Menurut pria yang dekat dengan Kiai Ma'ruf Amin ini, NU merupakan organisasi ulama, sudah seharusnya kendali dan penentu arah organisasi ada di tangan ulama. "Saatnya mengembalikan supremasi ulama dalam kepemimpinan NU dan keluar dari tarik menarik kepentingan politik," tegasnya.

Sebelumnya, pemimpin sidang pemilihan Rois Aam PBNU, K.H. Ahmad Muzakki, membacakan susunan tim ahwa untuk memilih Rois Aam PBNU periode 2015-2020.

Dari 508 utusan PCNU dan PWNU se-Indonesia, sebanyak 380 PCNU dan PWNU menyerahkan sembilan nama. Kemudian muncul 119 nama calon ahwa. Sesuai Musyawarah Nasional di Jakarta, penetuan tim ahwa ditentukan dengan ranking tertinggi.

Berikut nama kiai dengan ranking tertinggi:

1. K.H. Ma'ruf Amin (333 usulan)
2. K.H. Nawawi Abd Jalil (302 usulan)
3. K.H. Turmudzi Badrudin (298 usulan)
4. K.H. Khalilurrahman (273 usulan)
5. K.H. Dimyati Rois (236 usulan)
6. K.H. Syekh Ali Akbar Marbun (186 usulan)
7. K.H. Mahtum Hannan (162 usulan)
8. K.H. Maimun Zubair (159 usulan)
9. K.H. Massubadar (135 usulan).


(TRK)


Video /