Danilla, Melagu dalam Pilu

Agustinus Shindu Alpito    •    06 Agustus 2015 08:39 WIB
feature showbiz
Danilla, Melagu dalam Pilu
Danilla. (Foto:MTVN/Agustinus Shindu Alpito)

TIDAK sulit mencari musik Indonesia yang pas di telinga saat ini. Musisi baru dengan ragam aliran bertebaran di YouTube, SoundCloud dan juga toko-toko musik yang mudah diakses melalui media maya.  

Setelah dunia musik Indonesia dihujani grup musik akustik dengan lagu-lagu meneduhkan beberapa tahun terakhir, muncul sebuah nama yang mencuri pehatian. Adalah Danilla, perempuan aquarius yang berhasil menyanyikan sederet lagu memikat lewat album perkenalannya, Telisik.
 
Telisik terdiri dari tiga belas kisah yang diawali oleh Penutupan dan diakhiri oleh Pendahuluan. Di antaranya kita disuguhi berbagai lika-liku romansa kehidupan. Dari deru birahi dalam lagu Oh No! sampai jurang nestapa kisah Junko Furuta.

Pada sebuah sore di akhir Juli, Metrotvnews.com mengatur rencana untuk bersua dengan Danilla. Markas Demajors di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan kami pilih sebagai lokasi pertemuan.

Pukul 14:30 Danilla datang, separuh wajahnya tertutup masker. Di tangannya tergenggam sebuah pianika yang dibalut wadah berwarna hitam. “Maaf ya terlambat,” kata Danilla mengawali pembicaraan. Belakangan diketahui alasan mengenakan masker lantaran dia sedang flu.

Percakapan kami teratur tapi tidak kaku.  Pemilik nama lengkap Danilla Jelita Poetri Riyadi itu mengawali kisah dengan menceritakan awal perencanaan album Telisik.

“Tahun 2012 mulai serius (sebagai penyanyi solo), sempat tahun 2008 dan 2009 itu ngeband-ngeband.  Lalu aku ketemu Richard Buntario, kebetulan dia rekan dari paman aku. Richard pengin bikinin aku album. Sebenarnya waktu usia aku 17 tahun sempat bikin album solo, lagunya pop. Tapi waktu itu lebih karena dipaksa dan musiknya enggak sesuai keinginan aku,” ungkap Danilla.

Seolah memang sudah jadi jalannya, pertemuan Danilla dengan Richard membawanya pada sosok-sosok baru yang semakin memuluskan rencana Danilla jadi penyanyi solo, salah satunya Lafa Pratomo.

Lafa adalah sosok penting di balik Danilla. Hampir seluruh lagu di album Telisik lahir dengan campur tangan Lafa. “Album satu ini lebih (menunjukkan musikalitas) Lafa, di mana aku jadi pengantar pesannya dia,” kata Danilla.

Telisik memakan waktu produksi sekitar satu setengah tahun. Album ini diproduksi oleh Orion Records dan  didistribusikan oleh Demajors. Menurut Danilla, tantangan dalam melahirkan Telisik lebih kepada persoalan internal soal keyakinan keberlanjutan karier Danilla dengan mengusung jenis musik ini.

“Tantangan terbesar adalah mempertahankan jalannya album ini. Kalau dari pihak keluarga mendukung banget. Sempat ada pertentangan, disuruh ambil pop. Pengerjaan benar-benar independen. Kita nyari pemain musik (player) sendiri. Teman-teman dari player bahkan bersedia untuk tidak dibayar  dalam beberapa penampilan demi bisa main sama-sama,” cetusnya.

Sebelum memutuskan menekuni karier sebagai penyanyi solo, Danilla lebih dulu tergabung dalam sebuah band. Bersama band yang bernama Orca itu Danilla sempat mebawakan lagu milik band-band asal Inggris, di antaranya Keane dan Radiohead.

Danilla besar di keluarga yang akrab dengan musik. Dia adalah putri dari penyanyi Ika Ratih Poespa. Dalam album debutnya, Danilla menyelipkan satu lagu ciptaan ibunya. Lagu itu berjudul Reste Ave Moi.

“Mama mau ada lagunya di album perdana aku. Soalnya dari dulu yang bersikeras aku jadi penyanyi itu, dia. Aransemen pertama (Reste Ave Moi) enggak seperti itu, aku ubah sama Lafa. Lagu itu diciptain sudah lama, waktu aku SD kelas 6. Lagu itu bercerita tentang mama aku yang ingin kakaknya stay dalam kondisi apapun,” kata Danilla.


Danilla.(Foto:MTVN/Agustinus Shindu Alpito)

Totalitas

Persaingan jadi idola, terutama di ranah penyanyi solo perempuan Indonesia terbilang ketat. Beberapa nama besar dan pendatang baru masing-masing memiliki bekal kuat untuk eksis di industri. Lantas apa modal utama Danilla terjun ke bidang ini?

“Karena aku apa adanya, aku merasa keren dan itu membuat percaya diri. Hal yang ikhlas aku lakuin cuma di musik. Hidup cuma satu kali, kalau mati setidaknya meninggalkan karya,” jelas perempuan yang sempat mengenyam pendidikan di bidang penyiaran itu.

Danilla kini fokus pada kariernya di musik. Kalaupun ada kesibukan di luar itu, dia mengurus pembuatan merchandise album Telisik. Itu dilakukan Danilla untuk menambah penghasilannya yang hanya dari musik.

“Sudah dua tahun aku tidak tinggal dengan orangtua, ke mana-mana naik bus, sebelum Go-Jek promo Rp10 ribu, aku ke mana-mana naik bus. Sekarang mikir kenapa enggak naik sepeda saja karena TransJakarta enggak bisa berhenti di tiap tempat. Aku mau beli sepeda lipat, tapi butuh kerja keras karena uang aku cuma dari sini (musik). Jadinya aku bikin merchandise-merchandise untuk nambah-nambah uang,” ujar Danilla terbuka.

Danilla, dengan segala kelebihannya yang tersampaikan lewat musik adalah sosok yang apa adanya. Dia bukan penyanyi yang berambisi jadi diva. Bukan pula tipikal penyanyi yang kemayu seiring sorotan yang mulai banyak tertuju padanya. Pembawaannya yang apa adanya itu justru mengesankan sesuatu yang beda jika disandingkan dengan penyanyi-penyanyi perempuan lainnya.

Tidak tampak sekat yang berusaha dibangun Danilla ketika berbicara. Dia seolah tidak memosisikan dirinya sebagai bintang. Jalan pikirnya logis dan kritis, namun tetap tenang, antusias namun tidak berapi-api.


Danilla dan Lafa. (Foto:MTVN/Tantyo Satria Wibowo)

Rencana ke depan

Ada catatan menarik yang ditulis Lafa pada sampul album Danilla. Sebuah pesan yang mempertegas bahwa Danilla adalah penyanyi yang beda, yang seolah memilih membisikkan pesan dari sudut jalan temaram ketimbang terang-terangan mencuri perhatian dengan penuh polesan.

“Alih-alih penyanyi berbanderol ‘kelas wahid’ dengan teknik suara yang ekstravagant dan sejumlah atribut keemasan lainnya, sejumlah lagu yang saya tulis lebih memilih sesosok pelantun bersuara sederhana, jauh dari embel-embel ‘mumpuni’," tulis Lafa dalam sampul album itu.  

Jalan Danilla masih panjang, Telisik adalah awal. Ada satu hal mengganjal, Danilla berulang kali mengatakan bahwa apa yang terjadi saat ini tidak lepas dari peran Lafa.  Jika demikian, apa yang akan terjadi bila tidak ada lagi Lafa dalam karier Danilla mendatang?

“Untuk kedepannya, album selanjutnya enggak seperti album ini (Telisik). Karena album Telisik Ini banyak banget peran Lafa. Tidak menutup kemungkinan nantinya Lafa di proyek lain dan aku juga. Kalau aku yang membuat lagu dan aransemen sendiri pasti beda. Di album ke-dua aku 70 persen Lafa 30 persen. Memang Lafa membiarkan aku 70 persen lebih banyak. Kalau nanti enggak kerjasama lagi pasti beda tapi benang merahnya sama,” tukas penggemar Coldplay itu.


Danilla. (Foto: Aditya Darmawan)

Menikmati Telisik seolah menyeret kita pada sebuah lubang hitam yang berisi pilu. Danilla seolah menjadi pencerita yang menyuguhkan kisah sendu dalam buaian harmoni yang memikat. Mulai dari kerinduan menggebu, cinta yang tak bersatu, keinginan untuk selalu bersama, hingga retrospeksi kisah malang anak manusia. Perihal hal ini, Danilla tidak menyangkal bahwa dia adalah sosok yang lebih banyak menyerap berbagai kepedihan untuk jadi sebuah karya musik.

“Aku lebih peka dengan yang seperti itu (kepedihan hidup). Kayaknya itu lebih menarik saja. Kalau berbagi kebahagiaan, orang pasti mau. Tapi, di balik kebahagian ada enggak enak. Bagaimana kalau hal itu kita bagikan juga?” ungkap Danilla. (VIDEO DANILLA)

Dengan rendah hati, Danilla kian pasti menatap masa depan. Sebagai penyanyi profesional, dia tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, tetapi keberlangsungan keluarga besar Danilla, termasuk para musisi pendukungnya.

“Aku ingin ini jadi sebuah kejujuran, aku optimistis ini jalan yang baik untuk aku dan beberapa orang di belakang aku. Ini akan jadi bentuk kejujuran aku dan uang pasti akan ikut karena aku akan memberikan uang itu juga untuk yang ada di belakang aku. Karena mereka makan dari situ juga, termasuk aku,” ucapnya.

Tanpa terasa, pembicaraan kami menemui hilirnya. Terlintas di benak penggalan lirik penutup album Telisik, saat kami berpisah dengan Danilla, “Tiada lagi yang bisa temani ragaku, tiada lagi yang bisa bekali jiwaku.”


(FIT)


Jelang Hadapi Liverpool, Pelatih Kecewa dengan Performa Roma
AS Roma vs Genoa

Jelang Hadapi Liverpool, Pelatih Kecewa dengan Performa Roma

2 days Ago

Eusebio kesal karena para pemain Roma kerap terlena saat sudah berada dalam posisi unggul.…

BERITA LAINNYA
Video /